http://www.equator-news.com/kolom/20111226/antagonisme-penerapan-ajaran-islam-di-indonesia-2
Depan › 
Senin, 26 Desember 2011 
Antagonisme Penerapan Ajaran Islam di Indonesia (2) 
H. Munawar M. Saad
Dosen STAIN Pontianak dan sedang menyelesaikan program doktor di UGM Yogyakarta
Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan 
beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua 
minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja 
sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Kedutaan 
Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial 
di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di tanah air, hampir semua mengakui 
bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang 
yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat 
terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai 
Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, setelah 
berkunjung ke Eropa. “Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang 
muslim banyak saya temukan di dunia Arab,” katanya.

Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman 
masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia 
menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru.

Namun, pertanyaan yang kemudian dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan 
semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan 
sosial berdasarkan ajaran Alquran dan Hadis. Contoh perilaku sosial di 
Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem 
ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap 
warga negara untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk berkembang, serta 
banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata 
lebih mudah ditemukan di masyarakat muslim ketimbang negara-negara Barat.

Di Indonesia, penyimpangan perilaku sosial terjadi di tengah kehidupan 
masyarakat yang secara individual sangat taat beragama. Namun kesalehan 
individu justru tidak berdampak pada kehidupan sosial. Misalnya, sering kita 
jumpai dalam kehidupan keluarga, muncul berbagai tindakan kekerasan. Seperti 
misalnya kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, penganiayaan terhadap 
pembantu, anak kandung tega menghabisi nyawa orang tuanya sendiri.

Dalam kehidupan antarumat beragama masih sering muncul masalah yang berujung 
konflik. Dalam kehidupan bermasyarakat, kata jujur sudah semakin sulit kita 
jumpai, budaya antre sudah semakin langka, budaya gotong royong dan kerja sama 
antarwarga terasa semakin jauh. Padahal salatnya taat dan sudah melaksanakan 
haji. Puasa dan zakatnya tidak pernah ketinggalan.

Demikian pula saat ini berkembang tindakan kriminalitas, seperti tindakan 
perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan teror. Kerusuhan dan tawuran 
antarwarga telah terjadi di berbagai daerah. Dalam kehidupan berpolitik 
menjelang pemilukada, atmosfer bumi pertiwi semakin panas. Pertikaian 
antarparpol semakin tajam dan berakhir dengan jatuhnya banyak korban. Sementara 
itu tindakan pelanggaran moral sudah sampai pada titik kritis. Misalnya gejala 
prostitusi yang berakhir dengan aborsi, termasuk seksualitas yang bisa jadi 
komoditas.

Mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah 
perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru 
dipraktikkan di negara-negara sekuler? Tampaknya keberagaman kita lebih senang 
di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi 
menyepelekan kesalahan sosial. (bersambung)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke