http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=36212
SABTU, 31 Desember 2011 | 


Ketika Politikus, Pengusaha, dan Media Bersatu


Pekan lalu, Program Pascasarjana Komunikasi FISIP, Universitas Indonesia, 
meluncurkan buku Dedy N Hidayat Self-Originated Being, untuk mengenang almarhum 
Prof Dr Dedy Nur Hidayat, salah seorang guru besar di Departemen Ilmu 
Komunikasi, FISIP UI, yang wafat 9 November 2010.


Buku yang diluncurkan tersebut berisikan sebagian intellectual exercise 
almarhum dalam menganalisis dan mengkritik berbagai perkembangan situasi 
sosial, politik, dan media selama kurun 20 tahun, khusus yang dimuat di harian 
Kompas.

Sikap kritisnya dapat dibaca misalnya dalam artikel berjudul "Robohnya 
Rasionalitas dan Moralitas Politik Kami" (hal 101-106, dimuat pada 19 Februari 
2000).

Di situ dia menilai reformasi politik di Indonesia telah membuka kotak pandora, 
yakni memunculkan kembali beragam keyakinan, ide, serta tingkah laku yang 
justru bertentangan dengan hakikat rasionalitas dan moralitas gerakan reformasi 
itu sendiri.

Penilaiannya itu relevan, sebab suka atau tidak suka, haruslah diakui apa yang 
diagung-agungkan Indonesia sebagai demokrasi keempat terbesar di dunia hanya 
"seolah-olah" menghasilkan kehidupan politik yang lebih demokratis dan 
didasarkan rasionalitas.

Namun kenyataannya, yang lebih berkembang malah (mengambil istilah Mas Dedy) 
“democrazy”, buah dari unjuk kekuatan massa (fisik) dan politik uang di hampir 
semua level pemilu.

Karena artikel itu ditulis tahun 2000, dia memberi contoh konflik di Maluku 
sebagai wujud irasionalitas itu. Namun hari ini, kekerasan dan konflik menjadi 
bahasa di mana-mana, yang terbaru adalah bentrok di Bima, NTB.

Irasionalitas muncul karena tidak terjadi optimalisasi sekurangnya atas tiga 
hal, yakni: (1) pilihan politik yang diambil bukanlah yang terbaik dalam upaya 
mencapai tujuan bersama; (2) pilihan itu diambil bukan dari sejumlah opsi dan 
tanpa dasar argumen yang kuat; (3) dalam konsep politik itu tidak terjadi 
konsistensi internal (tanpa bukti-bukti dan argumen yang memadai, serta tidak 
selektif atau cenderung manipulatif), atau satunya kata dengan perbuatan.

Karena itu, kalau 13 tahun setelah reformasi kita tetap mengeluh situasi di 
banyak bidang tidak membaik bahkan memburuk (misalnya pemerataan korupsi, 
kesenjangan yang semakin lebar, pemekaran wilayah berbasis etnis atau agama), 
itu juga buah dari berbagai irasionalitas kita dalam berdemokrasi.

Sirkuit M-P-M
Dalam artikelnya yang lain, "Sirkuit Akumulasi Modal dan Kuasa" (dimuat 23 
Maret 2005, hal 9-12), Dedy mencemaskan kondisi yang secara sistemik 
menempatkan negara lebih sebagai instrumen sirkuit akumulasi modal dan 
kekuasaan, dengan pertanyaan besar: apakah loyalitas pada perusahaan berakhir 
setelah seseorang menjadi pejabat negara?
Sirkuit akumulasi modal dan kekuasaan itu formulasinya M-P-M (Money-Power-More 
money). 

Karena uangnya, pemilik modal/politikus mendapatkan kekuasaan politik, dan 
kekuasan itu dimanfaatkan untuk menghimpun lebih banyak modal, yang nantinya 
juga digunakan lagi untuk menumpuk kekuasaan politik yang lebih besar dan 
seterusnya.

Dampak sirkuit itu adalah negara mengalami krisis representasi, karena pilihan 
politik yang dimiliki publik terbatas pada apa yang disodorkan kekuatan ekonomi 
dan kampanye politik. Bergabungnya para pemilik modal dalam politik makin 
memperbesar peluang mereka dapat langsung mengatur negara.

Dari analisisnya, kita terpaksa berpikir apakah demokrasi kita kini sedang 
menuju ke sebuah oligarki besar. Berbagai fakta dan indikasi menunjukkan 
sekelompok kecil elite politik dan pemilik modal kini mulai menggalang kekuatan 
mereka untuk mempersiapkan diri merebut kekuasaan pada 2014.

Sekadar "Sound Bites"
Bila kita meninjau dari sudut ekonomi politik, fenomena Sirkuit M-P-M itu 
sedang terjadi secara kasat mata dan makin mengkristal. Mereka mewakili 
gabungan tiga kekuatan, politik, bisnis, dan media.

Misalnya, belum lama ini pengusaha Harry Tanoesoedibjo, pemilik kelompok Media 
Nusantara Citra (MNC) yang juga menguasai sejumlah jaringan stasiun televisi, 
radio, surat kabar maupun portal internet dalam skala nasional, bergabung 
dengan Surya Paloh, mantan politikus Partai Golkar yang mendirikan Partai 
Nasional Demokrat dan pemilik Media Group. Dari kubu lain, Ketua Umum Partai 
Golkar Aburizal Bakrie juga memiliki ketiga kekuatan itu dalam satu tangannya.

Cepat atau lambat segera menyusul penggabungan kekuatan politik, uang, dan 
media dari kelompok-kelompok politik dan bisnis yang lain, di luar dua kubu 
yang disebut terdahulu itu.
Misalnya kedekatan Chairul Tanjung (CT Corp yang menaungi Trans TV, Trans-7, 
dan detik.com) dengan Hatta Rajasa (ketua umum PAN dan besan Presiden SBY), dan 
mungkin akan bergabung lagi sejumlah kelompok bisnis lainnya.

Dalam pemikiran Dedy, seharusnya media massa menjadi salah satu unsur yang 
mampu mengembangkan rasionalitas dan moralitas politik dalam proses reformasi 
di Tanah Air, karena para wartawan diharapkan menjadi kekuatan profesional yang 
independen, tidak berpihak kepada kelompok-kelompok tertentu, dan mampu 
mengembangkan diskursus yang sehat melalui public sphere.

Namun, kalau melihat tren penggabungan politik, bisnis, dan media seperti itu, 
apakah harapannya itu dapat terwujud? Pertanyaan kita: besarkah peluang 
masyarakat mendapat informasi politik yang rasional dan independen dalam proses 
politik menuju 2014? Ke mana demokrasi kita akan bermuara?
Saya pun khawatir masyarakat pada akhirnya tidak mendapatkan informasi yang 
cukup baik sehingga mereka bisa membuat keputusan politik yang rasional pada 
pemilu mendatang.
Sebagai bandingan, di Amerika, muncul berbagai persoalan etika komunikasi 
politik sebagai akibat perkembangan teledemocracy melalui televisi, yang 
terbukti telah mengubah format politik di sana.

Di tangan para konsultan politik, para kandidat, atau pun partai tak lebih dari 
sekadar brand, image, dan sama sekali tidak memunculkan diskursus yang hidup, 
sehat, dan mendalam mengenai program, arah politik, atau latar belakang 
kandidat, misalnya, namun hanya memunculkan sound bites yang sudah terduga 
(Robert E Danton, Jr, dalam Political Communication Ethics An Oxymoron?, 2000).

Di Indonesia kita sudah merasakan buah perkembangan itu. Calon yang dipilih 
terbukti hanya bagus di kemasan, namun melempem isinya. Hal itu terjadi di 
berbagai level pemilu atau pilkada.
Karena itu, menghadapi perkembangan seperti itu, kalangan civil society harus 
segera bergerak mengadakan civic education agar pemilu kita ke depan lebih 
berkualitas. Tugas kita semua membangun multiples sources untuk pendidikan 
politik warga agar tidak mengulang kesalahan memilih pemimpin.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke