Ref: Keadaan penduduk pulau Padang bisa dilihat pada video footage ini, click : 
http://www.aljazeera.com/programmes/101east/2011/10/201110257300740552.html

Paper Tiger 

101 East examines the impact of the world's largest paper plant on Indonesia's 
delicate ecosystems.
101 East Last Modified: 29 Oct 2011 12:23 


http://nasional.kompas.com/read/2012/01/03/01220791/Aksi.Jahit.Mulut.Demi.Harta.Warisan.yang.Terenggut

Aksi Jahit Mulut Demi Harta Warisan yang Terenggut
Fabian Januarius Kuwado | Eko Hendrawan Sofyan | Selasa, 3 Januari 2012 | 01:22 
WIB 

Share:
 Fabian Januarius Kuwado Dari 28 orang pelaku jahit mulut yang telah melepaskan 
jahitannya, tersisa satu orang bernama Yahya yang tak bersedia melepaskan 
jahitan di mulutnya, Senin (2/12/2011) 
JAKARTA, KOMPAS.com -- Tak ada perjuangan yang sia-sia. Keyakinan inilah yang 
dipegang teguh oleh Purwati (47) dan Yahya (57), pasangan suami istri warga 
Desa Lukit, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau yang 
melakukan aksi jahit mulut di depan gedung DPR/MPR. 

Mereka datang bersama 82 warga lainnya dengan tujuan menuntut agar Kementrian 
Kehutanan mencabut SK Nomor 327/Menhut Tahun 2009 tentang izin operasional HTI 
atas perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Dari jumlah warga tersebut, 
28 di antaranya melakukan aksi jahit mulut.

Saat ditemui Kompas.com, Senin (2/12/2012), di tenda seadanya yang selama 18 
hari ini menjadi rumahnya di Jakarta, Purwati mengisahkan alasannya mengapa 
sampai hari ini, ia bersama suaminya masih bertahan menggelar aksi demonya di 
Gedung DPR/MPR. "Kami di kampung punya empat hektar kebun sawit, empat hektar 
kebun karet dan satu hektar kebun sagu, semuanya tanah warisan leluhur. Dari 
situ awak dapat sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per bulan. Gara-gara 
inilah kita mau perjuangkan hak kita," ujarnya. 

Menurut Purwati, harta warisan itulah kini telah diserobot PT RAPP menyusul 
adanya SK Nomor 327/Menhut Tahun 2009 yang ditandatangani MS Kaban. Lewat SK 
inilah izin operasional hutan tanaman industri (HTI) PT RAPP memiliki 
kewenangan untuk mengubah hutan dan perkebunan milik warga menjadi hutan akasia 
untuk kebutuhan industri. Selain penyerobotan lahan warga, SK HTI ini juga 
dikawatirkan akan berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan lahan gambut di 
salah satu pulau kecil terluar RI tersebut.

Kekhawatiran masyarakat akan kehilangan warisan mereka membawa Purwati dan 
warga lainnya berada di Jakarta. "Nanti bagaimana masa depan anak cucu awak 
kalau lahan diambil perusahaan," ujarnya. 

Menggelar aksi jahit mulut, kata Purwati, yang akhirnya melepas jahitannya 
karena telah ada kesepakatan dengan Kementrian Kehutanan untuk menyurati Bupati 
Meranti agar mencabut SK tersebut, adalah bentuk perjuangan menuntut hak 
mereka. 

Selama berjuang di Jakarta, dia dan suaminya mengaku kerap dilanda rasa rindu 
kepada kelima anak mereka, terutama putrinya yang masih duduk di kelas 1 MTS, 
Nurhikmatun (12), dan Kurnia Romadhon (15) yang duduk di kelas satu SMA. 
Sementara tiga anak lainnya telah berkeluarga dan tinggal terpisah dengan 
dirinya. "Awak kangen sekali. Kalau lihat orang lain bawa anak tambah kangen 
kita. Sampai nggak bisa tidur kangen anak," ujarnya. 

Selama menggelar aksinya, hubungan komunikasi dengan anak-anak mereka hanya 
bisa dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas sms. "Selama jahit mulut kan kita 
nggak bisa banyak cakap, jadi hanya sms saja, lumayanlah," tambahnya. 

Jika Purwati dan sejumlah warga memilih menghentikan aksi jahit mulut, namun 
tidak dengan suaminya. Benang hitam masih mengunci bibir Yahya. Saat hendak 
dilepaskan, dia justru menolak melepas jahitan di mulutnya sebelum tuntutan 
warga sepenuhnya dikabulkan.

"Sebenarnya kasihan ngelihat bapak begini, awak sebenarnya tetap mau jahit 
mulut, tapi karena ada penyakit jadi terpaksa lepas," ujar Purwati sembari 
memijat kaki suaminya itu. 

Yahya hanya bisa terbaring lemah di atas kasur tipis ditemani oleh Purwati yang 
sesekali memberikan susu dan roti kepada suaminya. "Harapannya supaya semua 
cepat selesai, supaya cepat pulang. Itulah harapan kita, kami yakin nggak ada 
yang sia-sia kok," ujarnya. 

Purwati dengan warga lain bertekad untuk melakukan aksi jahit mulut kembali 
jika permasalahan haknya tak kunjung berbuah hasil. 

TERKAIT:
  a.. Pelaku Jahit Mulut Berwisata ke Kota Tua dan Monas 
  b.. Pelaku Jahit Mulut Sisa Satu Orang 
  c.. Penghuni "Bumi Perkemahan" Senayan Tunggu Bupati 
  d.. Lepas Jahit Mulut Bukan Berarti Menyerah 
  e.. Jahit Mulut Dihentikan, Aksi Tetap Dilanjutkan


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke