Refl: Apakah penurunan kemiskinan ini disebabkan makin banyak tenaga kerja memperoleh pekerjaan pada lapangan kerja baru ataukah sebahagian kaum miskin mati kelaparan yang menyebabkan jumlah mereka berkurang ataukah sengaja dibuat propaganda mengambarkan kesuksesan rezim berkuasa berhubung dengan makin dekatnya waktu pemilihan umum yang akan datang. Patut dicacat bahwa sesuai sensus BPS 2010 diberitakan bahwa Maluku (dari Morotai sampai ke kepulaun paling selatan) adalah salah satu propinsi termiskin disamping Aceh, Papua, Sumatera Selatan etc.
http://www.siwalimanews.com/post/2245_persen_penduduk_maluku_masih_miskin Wednesday, 04 January 2012 22,45 Persen Penduduk Maluku Masih Miskin Ambon - Jumlah dan persentase penduduk miskin di Provinsi Maluku pada periode 2007-2011 mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kendati demikian, hingga September 2011, ternyata sebanyak 22,45 persen penduduk Provinsi Maluku masih tergolong miskin. “Jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Provinsi Maluku pada bulan September 2011 tercatat sebesar 356.400 orang atau 22,45 persen,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Edison Ritonga dalam Berita Resmi Statistik Provinsi Maluku, yang salinannya diterima redaksi Siwalima, Senin (2/1). Dijelaskan, pada periode tahun 2007-2011 ternyata jumlah penduduk miskin mengalami penurunan, yaitu dari 404.700 orang menjadi 360.320 orang sedangkan dalam tahun 2011 terjadi penurunan penduduk miskin dari 360.320 orang pada bulan Maret menjadi 356.400 pada bulan September. “Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 31,14 persen pada tahun 2007 menjadi 23,00 persen pada tahun 2011. Selama tahun 2011, persentase penduduk miskin berkurang menjadi 22,45 persen pada bulan September dibanding bulan Maret sebesar 23,00 persen,” jelasnya. Selama periode Maret 2011-September 2011, katanya, penduduk miskin di daerah pedesaan juga berkurang 800 orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 3.110 orang. “Persentase penduduk miskin di daerah pedesaan masih cukup tinggi, yaitu mencapai 30,03 persen dibandingkan dengan daerah perkotaan sebesar 9,59 persen,” katanya. Ritonga juga mengungkapkan garis kemiskinan di daerah perkotaan juga lebih tinggi daripada pedesaan. “Garis kemiskinan di perkotaan pada periode September 2011 sebesar Rp 288.414/kapita/bulan, sedangkan di pedesaan sebesar Rp 257.076/kapita/bulan,” ungkapnya. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin, jelas Ritonga, juga sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. “Selama Maret 2011-September 2011, Garis Kemiskinan naik sebesar 9,62 persen, yaitu dari Rp 245.120/kapita/bulan pada Maret 2011 menjadi Rp 268.701/kapita/bulan pada September 2011. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM), maka peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan September 2011, sumbangan GKM terhadap GK sebesar 73,52 persen,” jelasnya. Ia mengatakan, pada periode Maret 2011- September 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 4,99 pada keadaan Maret 2011 menjadi 4,60 pada keadaaan September 2011. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 1,54 menjadi 1,34 pada periode yang sama. “Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit,” katanya. Sebagaimana diketahui, untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, sehingga dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan pedesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kalori/kapita/hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lain-lain). Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan. (S-34) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
