From: "Swan Liong Be" <swlbe@de>
cut---->
Saya berani prediksi bahwa 65 tahun kemudian pancasila tetap tidak
terwujudkan diNKRI.
Salam,
SLB
++++++
Woalahhhh tega benar Oom SLB menulis Pancasila yg akan datang sampai 65
tahun ke depan.
Eniwe pandangan Oom SLB juga tidak keliru, selama pimpinan Indonesia hanya
menjadi bebek doangan, dan lebih suka menggadaikan tanah air beta.
Saat ini sedang gencar gencar nya istilah 4 pilar dikumandangkan :
- NKRI
- Pancasila
- UUD 45
- Bhineka Tunggal Ika
4 Pilar ini dijadikan jargon politik PDI-Perjuangan ketika mengadakan
Kongres ke III di Bali April 2010 yg dijadikan pidato pembukaan oleh Ibu
Megawati.
Mengenai pelaksanaan di bawah nya.......memang menjadi berbeda.
Perbedaan didalam berpolitik di Indonesia aku tulis menjadi 4 pola.
1. Ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan oleh para pemuda/i ditahun 1928
pada saat itu bisa disebut awal dari warga Nusantara mulai berpolitik
praktis,
dengan dasar karena dijajah oleh sebuah Perusahaan Terbatas/CV Kompeni.
Sehingga pola berpolitik nya belum bisa mencapai akar rumput karena
tidak merata nya pengetahuan apa yg dimaksud di jajah di tataran
akar rumput, akar rumput masih terbiasa dengan pola kasta dari sistim
kerajaan yg masih eksis pada masa itu.
2. Ketika Indonesia Merdeka 1945, pada saat itu politikus sudah mulai
bermunculan dari banyak daerah dan memiliki kesamaan pandangan didalam
membentuk
Kemerdekaan Indonesia, dimana polemik maupun masalah dibahas secara
santun berdasarkan Musyawarah Mufakat yg menjadi Sila ke IV, dan para
politikus
bisa beradu aragumentasi dengan keras tanpa memandang etnis dan agama
dimana setelah selesai baku argumentasi bisa ngopi bareng.
3. Ketika Soeharto berkuasa dimana para politikus dibungkam, sehingga
politikus di era Soeharto lebih memilih menjadi bebek, sampai sampai
para
seniman acapkali menyindir
baik melalui lagu, maupun sendatari dan pembacaan sajak dan puisi, di
era Soeharto bisa dibilang politikus sejati berpindah posisi menjadi
seniman.
4. Era Reformasi, Politikus dari banyak daerah bermunculan dengan awal
memiliki cita cita setinggi langit, sampai sampai langit langit rumah
pun
dianggap setinggi langit, karena peran politikus menyusut menjadi
seniman
baik didalam berpolitik maupun ber seniman, dalam hal ini 10 tahun
lebih
setelah reformasi kondisi politik
Indonesia tidak lagi memiliki kesamaan visi dan tidak memiliki misi yg
jelas, semua misi dan visi sesuai lakunya seniman, dimana seniman akan
melakukan karya nya
sesuai dengan situasi dan kondisi, seperti hal nya votang dan voting
dijadikan tujuan akhir dari musyawarah dan mufakat.
Politikus di era reformasi menjadi kenalnya disaat ada kue, diluar itu
basa basi membahas rancangan undang undang dengan melakukan study
banding ke manca negara, mengenai di manca negara menjadi jalan jalan
thok
siapa yg bisa peduli.
Setiap ada kasus yg dianggap bisa menaikan populitar partai, maka
langsung diadakan dengar pendapat, tanpa peduli hakekat dari legislasi,
karena dengan dengar pendapat
minimal media massa mempunyai berita, dan berita menyatakan wakil rakyat
bekerja dilain pihak sifat membebek masih tetap berjalan, semisal tidur
disaat
sidang, biarpun hal tsb bisa menjadi ' wajar ' karena sang politikus
sudah memahami
apa yg sedang di sidang kan, ada juga karen memang tidak paham sama
sekali sehingga
mata lelah dan telinga menjadi budeg yg mengakibatkan kantuk berat,
belum lagi udara
ber ac yg sedemikian sejuknya, menjadi tidak wajar kan di masyarakat.
Bila yg mampu ber Ipad ria jangan heran pula mata serius kebawah, tangan
ketak ketik
utk kirim kirim mail maupun nonton film, yah namanya juga usaha agar
tidak ngantuk.
Apa yg Oom SLB tulis utk 65 tahun kedepan........sangat tergantung dengan
Rakyat Indonesia apakah Rakyat Indonesia dalam kurun waktu 65 tahun masih
tetap rela di bohongi oleh partai dan para politikus, apa sudah paham apa yg
di maksud
ber politik, untuk saat ini di kalang an akar rumput dan cerdik cendikiawan
pun pengertian
berpolitik masih berbeda, ada yg menganggap menjadi politikus itu mewakili
rakyat di daerah pilihannya, ada pula politikus sanggup dan tugasnya mampu
menyelesaikan banyak masalah, sehingga bila rakyat sebel yg pertama di demo
adalah para wakil rakyat yg terhormat.
Beberapa waktu lalu aku mengirim topik dengan pertanyaan sederhana, bila
anda mempunyai uang selembar seratus ribuan, milik siapakah uang tsb ?
dan hebat hanya seorang yg memberi komentar.....
Belum lagi pertanyaan lanjutannya apa beda politikus dan negarawan,
semoga pertanyaan kedua ini ada yg bisa bantu jelaskan garis besarnya
karena aku bertanya di dunia nyata khawatir jadi anggota dewan di jalanan.
:o)
Akhir kata selama hakekat Trias Politica tidak dipahami secara baik, selama
itu pula NKRI belum mampu menjalankan Pancasila dengan baik dan benar.
sur.
ps.
Bila tulisanku ngawur mohon di koreksi yah, bila ngawurnya banyak di voting
juga boleh koq, asal jangan di bungkam apalagi di Sukabumi kan :o))
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/