http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=180002


Selasa, 12 Juli 2005,

Jangan Cari Kekayaan Di DPR
Oleh Muh. Badrus Zaman *


Wakil rakyat, seharusnya merakyat. Itulah kutipan dari sindiran lagu Iwan Fals 
kepada DPR di era Orde Baru. Barangkali itu masih sangat relevan untuk kondisi 
sekarang yang justru di era reformasi. 

Mental anggota DPR yang elitis, tidak memihak rakyat, berorientasi mencari 
keuntungan, kekayaan, dan sejenisnya ditampakkan oleh perilaku anggota DPR 
sebagai wakil rakyat yang memegang amanat rakyat. Bahkan, kesan bahwa jika mau 
kaya, jadilah anggota DPR akan menjadi kenyataan.

Hal itu tampak pada rencana DPR melalui Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR 
untuk menaikkan tunjangan. Tidak tanggung-tanggung, tunjangan operasional itu 
sebesar 25 juta. Berarti, total gaji anggota DPR yang sekarang Rp 15 juta akan 
menjadi Rp 40 jutaan.

Lagi-lagi DPR terkesan hanya mementingkan urusan gaji, penghasilan, serta 
perut. Itu jelas-jelas menyalahi tugas utama DPR sebagai wakil rakyat. DPR 
benar-benar buta dengan kondisi rakyat yang mengalami kesulitan dan kesusahan 
akibat rentetan bencana alam, krisis BBM, dan sebagainya. Bahkan, kasus busung 
lapar, muntaber, pengangguran, dan polio masih tergambar jelas di depan mata 
kita.

Bila dilihat dari kondisi ekonomi orang-orang di DPR, mereka adalah orang yang 
memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas. Sejak pencalonan mereka sebagai 
anggota legislatif, sudah banyak uang yang mereka korbankan agar dapat terpilih 
sebagai anggota DPR. 

Jika tidak, mustahil mereka bisa terpilih menjadi anggota legislatif yang 
mereka dambakan. Entah semangat apa yang mendorong mereka menjadi anggota DPR. 

Apakah semangat mencari jabatan dan kekayaan? 
Ataukah, semangat menjalankan amanat sebagai 
wakil rakyat? Jawabannya bisa kita lihat pada realitas perilaku mereka saat ini.

Showroom Mobil

Jika menengok ke pelataran parkir basement gedung 
DPR RI Nusantara I, akan tampak tempat parkir seperti showroom mobil saja. 
Berjajar berbagai mobil jenis built up sampai mobil-mobil baru lain yang 
ditunggui para sopirnya. Seperti BMW, Mercy, Opel Blazer, Carnival, dan 
lain-lain. 

Sementara itu, kinerja DPR secara objektif selama ini tidak menunjukkan 
perilaku positif di mata rakyat. Pemandangan negatif itu, antara lain, 
perkelahian fisik antaranggota dewan, sering absen pada waktu rapat, tidur di 
tempat, dan tidak serius pada saat rapat, serta berwisata ke luar negeri (walau 
dibungkus dengan studi banding). 

Yang lebih parah, anggota DPR mendapat julukan dari masyarakat dengan 4 D, 
yakni datang, duduk, diam, dapat duit. Sungguh sebuah perilaku yang sangat 
memalukan.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kita pasti berdecak kagum terhadap berbagai 
fasilitas dan gaji yang diterima anggota dewan. Sebagai gambaran, dari 
keterangan Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR dan beberapa anggota DPR, setiap 
bulan anggota dewan memperoleh gaji pokok Rp 9,7 juta. 

Selain itu, mereka masih mendapat fasilitas perumahan plus tunjangan listrik, 
telepon, dan PAM Rp 2 juta per bulan, serta tunjangan renovasi rumah Rp 20 
juta. Untuk mobilitas, ada tunjangan transportasi Rp 70 juta per tahun. Masih 
ada juga tunjangan komunikasi intensif Rp 3 juta per bulan atau sekitar Rp 35 
juta per tahun. 

Di luar gaji dan fasilitas di atas, setiap mengerjakan tugas-tugas sebagai 
wakil rakyat, mereka mendapat tunjangan lagi. Bayangkan saja, hanya untuk hadir 
dalam persidangan, ada tunjangan sidang Rp 150 ribu. 

Kemudian, jika anggota dewan masuk dalam panitia khusus (pansus) membahas suatu 
kasus atau menyiapkan undang-undang, mereka mendapat tunjangan pansus Rp 750 
ribu. Itu disediakan pihak DPR, belum dihitung berapa yang didapat dari 
departemen yang menjadi mitra kerjanya. 

Apabila masa reses dan anggota DPR harus kembali ke daerahnya, ada tunjangan 
reses selama 5-8 hari sebesar Rp 150 ribu per hari plus tiket pesawat pulang 
pergi. Meski reses pulang ke kampung tempat daerah pemilihan, ada jatah uang 
hotel dengan platform Rp 1,2 juta. 

Selain mendapat berbagai gaji, fasilitas, dan tunjangan yang wah, masih ada 
tunjangan keluarga, tunjangan kehormatan, tunjangan kunjungan kerja komisi, 
tunjangan kesehatan, dan tunjangan inventaris yang besarnya bervariasi. Apa 
tidak menggiurkan menghitung-hitung pendapatan mereka di tengah kesulitan 
rakyat yang diwakilinya.

Belum Puas

Kondisi tersebut belum puas dirasakan anggota DPR. Mereka masih berencana 
mendapatkan tunjangan operasional, dengan alasan untuk meningkatkan semangat 
kinerja dewan, iuran partai anggota dewan, dan operasional lainnya. 

Sungguh itu bukan alasan yang tepat dan sangat bertentangan dengan kondisi 
rakyat yang terlilit kesulitan ekonomi yang memprihatinkan.

Seharusnya, anggota DPR benar-benar memasang nuraninya untuk menjalankan amanah 
sebagai wakil rakyat. Mereka harus menghentikan "niatan busuk" mencari kekayaan 
di DPR sebagai lembaga wakil rakyat yang berwibawa. Tugas mereka adalah 
memperjuangakan penderitaan rakyat akibat krisis dan bencana, bukan malah 
memperjuangkan nasib mereka sendiri dengan semena-mena.

Sebagai manusia yang memiliki hati nurani dan perasaan, anggota DPR tidak 
pantas menerima tunjangan operasional sebesar 25 juta tersebut. Semangat dan 
kinerja mereka sebagai wakil rakyat harus didorong dengan sikap "amanah", bukan 
"uang" (money). 

Kemudian, partai-partai politik sebagai partai rakyat juga harus melarang 
anggotanya menerima tunjangan operasional itu serta melarang anggotanya yang di 
DPR untuk memperkaya diri dengan hanya memikirkan perut dan kekayaan pribadi.


* Muh. Badrus Zaman, mahasiswa Teknik Sistem dan Pengendalian Kelautan ITS 
Surabaya




[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke