http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=180001

Selasa, 12 Juli 2005,

Soal Kenaikan Gaji DPR
Tak Ingin, Terserah Saja
Oleh Moh Mahud M.D. *

Kalau tidak ada ribut-ribut soal usul kenaikan gaji, meski sudah sepuluh bulan 
menjadi anggota DPR, saya tidak tahu persis berapa sebenarnya gaji seorang 
anggota DPR. 

Yang saya tahu, setelah dipotong berbagai macam, saya mendapat sisa uang 11 
juta rupiah. Itu saya ketahui dari bukti setoran sisa gaji setiap bulan dari 
kesekjenan DPR ke rekening bank yang saya tunjuk untuk menampung gaji. Bukti 
penyetoran yang menyebut berbagai potongan itu tak pernah saya perhatikan sama 
sekali karena saya tak hendak mempersoalkannya.

Setelah ada ribut-ribut bahwa DPR mengusulkan kenaikan gajinya sendiri dari Rp 
28,37 juta (anggota) dan Rp 40,1 juta (pimpinan) menjadi masing-masing Rp 48,15 
juta dan Rp 82,1 juta, barulah saya bertanya kepada rekan sefraksi, Nursyahbani 
Kacasungkana. Apa betul selama ini gaji kita Rp 28,37 juta itu? 

Ternyata, ada komponen pendapatan anggota DPR yang langsung disetorkan ke 
rekening dan tidak dilaporkan dalam rincian penyetoran gaji, yakni tunjangan 
listrik, telepon, dan lain-lain sebesar Rp 6 juta. Dari Nursyahbani-lah, saya 
tahu gaji yang masuk ke rekening saya sebagai anggota DPR setiap bulannya 
adalah Rp 17 juta. 

Saya memang tidak pernah memeriksa, bahkan hampir tak pernah, menarik uang dari 
rekening gaji saya yang dari DPR. Bukan apa-apa, sampai sekarang, saya masih 
aktif mengajar pada program pascasarjana di berbagai perguruan tinggi. Jumat 
sampai Ahad, saya mengajar rata-rata tiga sampai empat sesi setiap hari dan 
setiap mengajar saya selalu mendapat uang cash dalam jumlah yang cukup untuk 
konsumsi kelas ekonomi sampai seminggu berikutnya. 

Karena sekali datang saya mengisi tiga sampai empat sesi, maka setiap kampus 
tidak harus saya datangi setiap minggu, melainkan saya datangi secara 
bergiliran untuk sekaligus kuliah sampai tiga atau empat sesi. 

Adapun tempat saya mengajar ialah di UII, UGM, UI, Unsoed (Purwokerto), UMS, 
UIR (Pekanbaru), Unilak (Pekanbaru), dan Universitas Udayana (Denpasar). 
Sesekali saya juga mengajar di Unisda (Lamongan) dan Uniska (Kediri) serta 
menjadi oponen ahli untuk penulisan disertasi di Unpad (Bandung) atau Unair 
(Surabaya). 

Rata-rata, dua minggu sekali saya berbicara di seminar atau memberikan orasi 
ilmiah yang juga mendapat uang yang cukup. Saya juga menulis beberapa buku yang 
secara rutin menghasilkan royalti.

Pendapatan dari hasil mengajar, seminar, royalti buku, dan lain-lain sampai 
sekarang sudah sangat cukup untuk membiayai aktivitas saya dan keluarga tanpa 
mempersoalkan berapa gaji saya sebagai anggota DPR. 

Apalagi, dari DPR dan MPR masih sering diterima uang cash sebagai honorarium di 
luar gaji untuk tugas-tugas yang sifatnya insidental, termasuk uang reses. 
Untuk saya yang hampir dalam semua hal biasa berkonsumsi dalam kelas ekonomi, 
cukuplah pendapatan-pendapatan itu, apalagi keluarga saya tinggal di Jogja yang 
biaya hidupnya lebih murah bila dibandingkan dengan di Jakarta.

Oleh sebab itu, saya pribadi tak pernah menginginkan agar gaji anggota DPR itu 
dinaikkan. Tetapi, saya juga tidak dapat membantah pendapat anggota DPR yang 
lain bahwa gaji anggota DPR itu sangatlah pas-pasan. Maka, meski tak ingin, 
saya nyatakan terserah kalau mau dinaikkan. 

Sebagai bandingan, dapatlah dikemukakan pengeluaran saya setiap bulan, meliputi 
tiket pesawat (4 minggu) Rp 5 juta, transpor lokal (bensin, jalan tol, parkir) 
Rp 2 juta, pulsa telepon/listrik Rp 3 juta, sopir dan pembantu Rp 3 juta, makan 
keluarga sehari-hari Rp 7,5 juta, dan biaya pendidikan anak (SPP, kursus) dan 
sumbangan-sumbangan lain yang tiap bulan tak kurang dari Rp 1,5 juta. 

Di luar biaya tiket pesawat (karena tak semua anggota DPR harus pulang-pergi 
mengajar setiap minggu seperti saya), kebutuhan-kebutuhan lainnya untuk setiap 
anggota DPR kira-kira sama besarnya dengan kebutuhan saya, bahkan mungkin bisa 
ditekan menjadi lebih kecil dari itu.

Karena itulah, menurut saya, pendapatan anggota DPR sekarang ini, setelah 
dipotong berbagai macam potongan termasuk potongan untuk parpol, bisalah 
dicukup-cukupkan untuk hidup sederhana dan pas-pasan tanpa harus dinaikkan. 

Kekurangan-kekurangan yang mutlak ada bisa ditutupi dari pendapatan-pendapatan 
insidental di luar pendapatan gaji bulanan yang bisa diperoleh dari tugas-tugas 
tidak rutin di DPR dan MPR. 

***

Saya tidak sependapat dengan pernyataan bahwa gaji para pejabat harus dinaikkan 
agar mereka tidak korupsi dan agar bisa sesekali mengajak anaknya mencicipi 
lezatnya McDonald atau Kentucky Fried Chicken seperti anak-anak orang 
berkecukupan di kota.

Kalau mau membandingkan dengan anak orang lain, selayaknya bukan membandingkan 
dengan segelintir anak orang kaya. Tetapi, bandingkanlah dengan jutaan anak di 
desa-desa yang untuk membayar uang SPP Rp 200 ribu setiap bulan saja tidak 
mampu. 

Sudah beberapa kali kita mendengar adanya murid sekolah yang melakukan bunuh 
diri setelah merasa sangat malu karena tidak mampu membayar SPP selama 
berbulan-bulan yang jumlah totalnya tidak sampai Rp 100 ribu. Belum sebulan 
yang lalu, kita membaca berita seorang murid SD di Jawa Barat juga bunuh diri 
karena setelah menabung bertahun-tahun jumlah tabungannya hanya 29 ribu rupiah, 
tak cukup untuk masuk SMP.

Berjuta-juta anak desa yang miskin dan tak terdidik dengan baik itulah yang 
harus kita tatap kalau ingin melihat keberuntungan anak-anak kita. Jika kita 
selalu memosisikan anak-anak kita dalam perbandingan dengan anak-anak orang 
kaya, maka kita akan merasa kekuarangan terus. 

* Moh Mahfud M.D., anggota DPR dari FKB dan guru besar dalam bidang hukum tata 
negara di berbagai perguruan tinggi


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke