http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/12/utama/1889858.htm
Aduh, ke Luar Negeri Lagi Tepat sekali keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunda kunjungan ke China, Thailand, dan Brunei Darussalam. Kunjungan bilateral kurang urgensinya, apalagi yang bersifat seremonial belaka. Negara-negara sahabat mau memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi Indonesia saat ini. Tradisi ASEAN mengatakan pemimpin Thailand dan Brunei yang mengadakan kunjungan resmi (bukan pertemuan multilateral semacam KTT Tsunami) ke Jakarta untuk berkenalanâ?"bukan sebaliknya. Lagi pula Presiden Yudhoyono pernah berjanji, dalam kampanye, tidak akan berkunjung ke mancanegara dalam 100 hari pertama. Kelak terbukti, janji memang sebatas janji. Menurut jadwal, Presiden Yudhoyono sejak Juli 2005 hampir setiap bulan mengunjungi berbagai negara. Rangkaian terakhir kunjungan itu adalah ke Markas Besar PBB di New York City, Amerika Serikat (AS). Dalam situasi normal, rencana itu sama sekali tidak apa-apa. Namun, kondisi di dalam negeri sedang tidak enak karena, utamanya, terjadinya kelangkaan BBM yang membuat kehidupan menjadi serba tidak pasti. Setiap kepala negara tidak akan nyaman jika setiap berkunjung ke luar negeri terjadi situasi politik yang tidak enak di dalam negeri. Tidak sedikit presiden yang sedang di luar negeri tak bisa kembali pulang karena guncangnya stabilitas politik dan ekonomi di dalam negeri. Masih segar dalam ingatan apa yang terjadi di Jakarta pertengahan Mei 1998, tatkala Presiden Soeharto sedang berkunjung ke Mesir. Ibaratnya, ketika sang kucing pergi, tikus-tikus pun berpesta ria. Menjelang kejatuhan Soeharto waktu itu, tidak ada kepemimpinan nasional yang mampu meredam kerusuhan besar menyusul penembakan terhadap mahasiswa-mahasiswa Universitas Trisakti. Masih mendingan Soeharto yang pulang ketimbang mencari suaka di luar negeri seperti Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Sejak berakhirnya pemerintahan Soeharto, presiden-presiden selanjutnya termasuk boros ke luar negeri. Krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 belum tentu menjadi faktor untuk melakukan penghematan. Dana ratusan miliar rupiah terbuang agak percuma untuk BBM pesawat terbang, kamar hotel, uang dinas, dan tetek-bengek lainnya. Di Seoul, Korea Selatan, beberapa tahun yang lalu rombongan presiden malahan shopping ketimbang ikut acara jamuan makan malam. Jika ada â?rombongan sirkusâ? akan berkunjung ke sebuah negara, diplomat kita di negara itu mau tak mau mengeluarkan dana untuk membentuk panitia. Bukan cuma presiden dan ibu negara, anak-anaknya pun minta perlakuan istimewa. Kalau lupa tak menjemput atau tak menyediakan fasilitas, habislah karier para diplomat kita. Bukan cuma presiden dan keluarga atau teman-temannya, banyak sekali cerita tak sedap tentang tingkah laku para anggota DPR kita. Kadang kala terjadi cerita unik pada saat presiden bertandang ke luar negeri. Entah mengapa Presiden Megawati Soekarnoputri berpidato dalam bahasa Inggris di podium Sidang Umum PBB di New York City. Tidak setiap orang berbakat mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan lidah dan intonasi yang tepat. Lagi pula bangga mendengarkan pidato presiden kita dalam bahasa Indonesia yang sangat indah. Jangan salah, Megawati membawa Indonesia menjadi negeri yang napasnya tak mau diatur oleh negara-negara Baratâ?"termasuk AS. Untuk pertama kalinya kita kok seperti membusungkan dada ketika menghadapi para pemimpin Baratâ?"termasuk Presiden AS George Bush yang suka ngocol. Kalau presiden yang sekarang, Bush dengan terus terang mengatakan, â?I like this guy.â? Ya tentu saja senang, mungkin kita mengikuti saja maunya sang polisi dunia itu. Presiden lain macam-macam ulahnya tatkala berada di luar negeri mewakili kita sebagai rakyat. Gus Dur, misalnya, doyan mengumumkan pembentukan aliansi, poros, atau organisasi-organisasi regionalâ?"termasuk aliansi Indonesia, China, dan India, yang sungguh-sungguh merupakan ide yang brilian. Presiden BJ Habibie berani membatalkan kunjungan ke Selandia Baru dalam rangka APEC pada saat terjadinya ketegangan pascapenentuan pendapat di Timor Timur (Timtim) tahun 1999. Setelah itu, sudah terbukti berkali-kali bahwa kita bersikap naif menghadapi tekanan internasional dalam soal Timtim. Waktu kita masuk ke Timtim, mereka â?ribut dulu tetapi mendukungâ?. Saat kita keluar dari Timtim, mereka â?mendukung tetapi ribut meluluâ?. Sebal menyaksikan tim ahli PBB yang sampai sekarang masih tidak bosan mempersoalkan vonis pengadilan terhadap beberapa pejabat kita yang didakwa melakukan berbagai pelanggaran HAM di Timtim. Mengapa tim ahli tidak meributkan invasi pasukan Barat ke Irak yang dengan jelas menginjak-injak HAM rakyat di sana? Tak perlu juga mengemis agar AS mencabut embargo penjualan senjata kepada kita. Mau cabut embargo tak apa-apa, tidak mau pun ya sudah. Para ahli mengatakan, politik luar negeri mencerminkan kondisi di dalam negeri. Kalau di dalam lagi ngos-ngosan, kunjungan ke luar negeri tak diperlukan. Kecuali kalau ke luar negeri untuk merebut medali emas Olimpiade Fisika. Apalagi jika untuk menjadi TKI yang mati-matian mencari sesuap nasi. Ke luar negeri jelas tidak berhemat. Masak sih kita terus-terusan dibohongi agar hidup berhemat? Saya jadi ingat komik-komik wayang karangan RA Kosasih. Kita cuma bisa teriak,Aduh biyung, tewas adik prabu.... (e-mail: [EMAIL PROTECTED]) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
