http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/12/utama/1889854.htm

 
Segelas Air dan Seekor Ayam dari Leluhur 
Oleh: Nasru Alam Aziz



Hari masih sangat pagi di Desa Assaurajang yang dikelilingi hamparan sawah yang 
siap ditanami kembali. Namun, di rumah pasangan keluarga Caco-Rahmatiah warga 
mulai berdatangan.

Mereka mempersiapkan upacara yang dilakukan setiap tahun (mattemu taung) di 
desa itu sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen padi.

Tidak ada kesan meriah menyambut upacara itu. Padahal, prosesinya berlangsung 
sejak pagi hingga dini hari. �Ini hanya acara keluarga, tetapi seluruh warga 
ikut membantu. Warga datang dan menyumbangkan sesuatu, berupa bahan makanan 
atau tenaga,� kata Khahar Eka, salah seorang bissu penyelenggara upacara, di 
Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dalam tradisi Bugis kuno, setiap penyelenggaraan upacara dipimpin oleh bissu. 
Biasanya oleh bissu yang paling tua atau yang paling tinggi ilmu kebissuannya. 
Tiga orang bissu yang terlibat dalam upacara kali ini, selain bissu muda Eka, 
adalah Puang Upe yang juga menjabat sebagai Puang Lolo Segeri (wakil Puang 
Matoa Segeri) serta bissu Matang.

Rangkaian prosesi upacara diawali dengan mattedu arajang (membangunkan pusaka 
yang dikeramatkan). Puang Upe sebagai pemimpin upacara di depan arajang 
mengucapkan mantra dalam gemuruh tabuhan perkusi (genrang), mencoba 
berkomunikasi dengan dewata atau arwah leluhurnya.

Komunikasi dengan arwah leluhur untuk mendapatkan restu terus-menerus dilakukan 
sepanjang upacara pada saat-saat tertentu, yakni pada tengah hari 
(mattangasso), petang (mallabukesso), tengah malam (mattengngabenni), dan dini 
hari (maddenniari). �Setiap waktu tertentu selama upacara kami harus 
berkomunikasi dengan arajang,� ungkap Puang Upe (54).

Menjelang sore, lilin-lilin yang dibuat dari kemiri yang ditumbuk halus, pesse 
pelleng, mulai dinyalakan. Walasoji, semacam usungan terbuat dari bilah bambu, 
diisi penuh dengan berbagai penganan yang telah disiapkan sejak pagi oleh kaum 
perempuan. Isi paling penting dari walasoji adalah nasi ketan empat warna, 
merah, kuning, hitam, dan putih, yang menggambarkan empat unsur alam: api, 
udara, tanah, dan air. Kemudian ada ayam, buah-buahan, dan kue- kue tradisional 
Bugis. �Sesajian itu menjadi persembahan untuk leluhur sebagai ungkapan 
syukur,� kata Puang Upe.

Saat senja mulai mengintip, walasoji diusung ke tengah sawah yang menghampar di 
belakang jajaran rumah penduduk. Melihat kedatangan iring-iringan, warga yang 
sedang menyiapkan penanaman padi berdatangan menyambut. Diiringi mantra- 
mantra, Puang Upe melepas sesajian itu ke sawah. Sisanya ditaruh di wadah yang 
dilapisi daun pisang, digantung pada pohon-pohon yang dianggap keramat 
(makerreâ?T).

Setelah makan malam bersama, prosesi dilanjutkan dengan massanro. Terlebih 
dahulu bissu Matang, Eka, dan Puang Upe berganti pakaian di dalam kelambu yang 
digantung di tengah ruangan. Cukup lama, sekitar 45 menit, warga yang sudah 
berdatangan ke rumah Caco menunggu para bissu berdandan di balik kain tembus 
pandang.

Para bissu kemudian muncul dengan busana yang sangat feminin dengan warna-warna 
yang kontras. Alis menjadi lebih hitam, bibir bergincu, dan wajah berlapis 
bedak.

Tiga bissu mengambil posisi duduk, lalu setiap tamu datang menghadap 
(mappangolo). Setiap tamu tampak menyodorkan beberapa lembar daun sirih yang 
disisipi selembar uang kertas Rp 1.000. Dari lembaran daun sirih yang telah 
dikibas-kibaskan di asap dupa, Puang Upe membaca nasib seseorang. Sebagian 
datang karena merasa sakit dan mohon kesembuhan.

Prosesi massanro itu berlangsung hingga sekitar pukul 21.00, lalu ketiga bissu 
kembali menghadap ke arajang yang ditempatkan pada sebuah bilik di ruang 
belakang dekat dapur. Setelah beristirahat sejenak dan memberi kesempatan 
kepada dua penabuh gendang untuk mempersiapkan diri, mereka menari dengan 
iringan gendang.

Makin lama ritme tarian makin cepat, kemudian para bissu menyelipkan kipas dan 
tiba-tiba mencabut kerisnya. Mereka berputar-putar, mengentak-entakkan kakinya 
di lantai papan, lalu menusukkan keris ke telapak tangan, pelipis, dan leher 
masing-masing. Atraksi yang dinanti-nantikan pada setiap upacara bissu ini 
disebut maggiriâ?T (menusuk).

Dalam keadaan bawah sadar, Puang Upe yang dikendarai oleh arwah leluhurnya itu 
terus mengoceh dalam bahasa Bugis. Ia mengingatkan kepada setiap orang agar 
terus memerhatikan dan memelihara tradisi itu.

Jika kalian tidak menjagaku, maka kehidupan ini akan menjadi tidak seimban 
begitu kira-kira ucapan sang leluhur.

Mulailah setiap orang dipersilakan satu per satu masuk ke bilik. Mereka 
masing-masing masuk dengan keyakinan sedang berhadapan dengan leluhur yang 
dapat mengabulkan segala hasratnya. Mereka tidak sekadar menggenggam tangan 
Puang Upe dan membisikkan sesuatu, tetapi beberapa orang juga datang dengan 
segelas air atau sesisir pisang untuk diberkahi. Bahkan ada yang menyodorkan 
ayam untuk dielus-elus agar membawa berkah.

Begitulah, hingga setiap warga berangsur pulang setelah lewat tengah malam. 
Keesokan harinya warga Desa Assaurajang kembali mengarungi kehidupan dengan 
spirit baru. Tradisi Bugis kuno itu masih berlanjut.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke