Apakah benar orang Indonesia itu pemalas? Saya dulu yang hidup, bisa dibilang di desa, mengetahui dengan mata kepala sendiri, bagaimana rakyat kecil itu bekerja. Pagi2 mereka sudah gotong2 barang dagangan dan banyak rakyat kecil yang sudah berkerja keras melakukan apa yang menjadi pekerjaannya. Apakah mereka ini malas? Rupanya sekarang itu rakyat kecil sudah ogah2an untuk kerja lebih keras lagi. Karena harapan masa depan yang lebih cerah sangat muram. Motivasi untuk kerja keras tidak ada, karena insentip baik dari suasana perekonomian maupun harapan bantuan dari pemerintah tidak mendukung impian rakyat kecil untuk memperbaiki kehidupannya. Rupanya sebagian besar rakyat Indonesia sudah pasrah nasib. Buat apa kerja lebih keras, bahkan untuk melengkapi makanan buat sendiri dan anak2pun sudah susah. Apa yang harus mereka perbuat, rakyat kecil ini? Kerja keras, siapa yang akan memberikan imbalan balik bagi kucuran keringat mereka? Rakyat hanya hidup untuk hari ini, besok itu lain ceritanya lagi. Siapa yang salah dalam kerincuan ini? Sistim koar2 kayak sistim Soekarno, ala ganyang2an, Presiden se-umur hidup, sistim tirani ala Soeharto, cara2 membangun imperium keluarga dan csnya, cara Habibie yang mewakli orang2 megalomaniak +insinyur goblok, Gusdur yang ber-acc sama tukang pijetnya, Megawati yang punya DNA yang sama dengan bapaknya, tapi ini cirinya lebih amburadul: less talk less work, dan SBY adalah lame-duck :dihadapkan ke kasus Munir sudah k.o kelihatannya. Mana bisa kita mengharapkan hal yang positip kalau melihat "warna" pemerintah2 yang macam begini? Celaka duabelas menimpa rakyat kecil Indonesia sebagai akibatnya. Harry Adinegara Tiga Cara Meruntuhkan Bangsa Oleh: SUDI ARIYANTO Ada banyak pelajaran dari sebuah bangsa bernama Indonesia. Pertama, ternyata ada pemerintahan yang tidak nasionalis. Pemerintah kita cenderung tidak nasionalis. Jangankan menyejahterakan rakyat, melindungi saja tidak. Jangankan memakmurkan, mendidik saja tidak. Pelajaran lain, keruntuhan tidak harus karena agresi pihak luar, tetapi dari diri sendiri. Penulis pernah berbincang dengan orang dari badan PBB, mengapa kita masih dalam krisis. No single idiot in Indonesia will die starving, katanya tetapi karakter khas mereka adalah tidak bekerja keras. Saya terdiam. Kini, haruskah saya mengirim e-mail kepadanya dan mengabarkan, Not only one, but many died starving due to busung lapar! Bersyukur kita dikaruniai negeri yang subur dan kaya. Namun, mengapa bisa terjadi busung lapar. Mungkin ia benar, kita tidak bekerja keras. Kita lupa, untuk mengambil kekayaan di perut bumi pun harus bekerja keras. Begitu juga untuk membuat benih menjadi buah, perlu kerja keras, untuk mengolah tanah butuh kerja keras, untuk bersaing dengan dunia luar butuh kerja keras. Alam tidak akan memberikan begitu saja apa yang ada padanya tanpa kita mengulurkan tangan. Para pemimpin selayaknya tidak hanya berkata, negara kita kaya, subur makmur, titik. Seharusnya perlu ditambahkan, Agar betul-betul menjadi kaya, kita harus bekerja keras. Dan kerja keras itu harus dimulai dari pemimpin. Mereka yang duduk di kursi pemimpin perlu mendengar pepatah China: Talk does not cook rice. Sudah banyak diketahui, kemakmuran sebuah bangsa tidak bergantung pada kekayaan alam yang dimiliki, tetapi pada kemampuan mengorganisasi. Dari sini kita tahu, republik ini telah mengajarkan cara yang paling efektif untuk menghancurkan bangsa, yaitu mengabaikan pendidikan. Hampir setiap hari dapat dibaca berita, betapa parahnya pendidikan kita. Abaikan pendidikan Dengan SDM seperti ini, mungkinkah kita bermain aktif dalam persaingan global? Menyumbang perkembangan iptek dengan mayoritas tamatan SD dan SMP, bahkan banyak yang tidak pernah sekolah? Tentu tidak dinafikan adanya sekelompok orang yang memiliki kemampuan tinggi, yang mampu meraih medali dalam ajang kompetisi sains dunia, tetapi jumlahnya tidak banyak untuk mencapai critical mass yang memungkinkan upaya membangun negeri berkesinambungan. Human Development Index, yang merupakan indikator kualitas hidup bangsa, menjadi bukti lain rendahnya SDM. Laporan UNDP tahun 2004 menunjukkan, Indonesia pada urutan ke-111 dari 177 negara. Di Asia Tenggara, Indonesia pada urutan keenam setelah Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Data tahun 1975-2002 menunjukkan indeks meninggi, dari 0,468 menjadi 0,692. Namun, ternyata laju peningkatan mengecil dari 13 persen (tahun 1980) menjadi 1,76 persen (tahun 2002). Penurunan drastis terjadi setelah tahun 1995. Ternyata pengabaian peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia, secara khusus pendidikan, telah terjadi sejak tahun 1980-an dan kian parah sesudah 1990-an. Apakah ini merupakan salah satu kontributor pemicu krisis atau kontributor terhadap sulitnya Indonesia keluar dari krisis? Pendidikan membutuhkan biaya. Begitu pula pengabaian terhadapnya. Pengabaian ini harus dibayar lebih mahal antara lain turunnya martabat bangsa secara internasional, meningkatnya tingkat kriminalitas dan jumlah orang miskin, berkurangnya daya saing secara internasional, tersedotnya dana karena hanya dijadikan pasar produk negara lain, ketidakberdayaan menghadapi industri multinasional, dan banyak lagi. Jika pendidikan tak diperhatikan, yang terjadi adalah kematian. Kata Aristoteles, â?The educated differ from the uneducated as much as the living from the dead.â? Jika anak-anak bersekolah gerimis bubar, jangan-janganâ?"mengutip kata seorang petinggiâ?"anak-anak nanti akan menimba ilmu di Timor Timur. Dulu orang Malaysia belajar di Indonesia, kini sebaliknya. Berikan gaji rendah Umum diketahui, rerata gaji penyelenggara negara lebih kecil daripada gaji orang swasta. Meski demikian, masih banyak pemimpin kita yang meminta para abdi negara bekerja keras. Masuk akalkah? Menurut teori Maslow, manusia dimotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi. Pada level terendah adalah kebutuhan dasar fisiologi, di atasnya rasa aman, rasa dikasihi, rasa diakui, dan puncaknya adalah aktualisasi diri. Pertama-tama, orang akan berupaya memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari- hari, seperti sandang, pangan, dan papan, sebelum mementingkan keselamatan dan kebutuhan di tingkat atasnya. Buktinya, kereta listrik di Jabotabek yang dimuati orang hingga atap atau bis kota yang digelayuti penumpang dan melaju kencang di jalan raya. Pengabaian terhadap gaji juga harus dibayar mahal, yaitu turunnya efektivitas birokrasi, munculnya ekonomi biaya tinggi, maraknya korupsi, lambannya pembangunan, buruknya kesehatan, dan sebagainya. Sudi Ariyanto Peneliti Energi, Tinggal di Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
