http://www.lampungpost.com/opini/22954-menciptakan-kedamaian-dalam-perbedaan.html
Menciptakan Kedamaian dalam Perbedaan
Jumat, 27 January 2012 06:01
Ahmad Gelora Mahardika
Peneliti Politik Identitas dan Multikulturalisme
Universitas Gadjah Mada
INDONESIA muncul karena adanya sinergisitas dalam perbedaan. Negara ini
lahir dari semangat reformasi: dari kolonialisasi menuju kemerdekaan; dari
kemiskinan menuju kesejahteraan.
Namun, setelah merdeka, kita masih menjumpai kolonialisasi yang berlatar
belakang perbedaan. Kita temukan dua unsur berseberangan di segala aspek. Di
bidang politik kita kenal Jawa dan non-Jawa, di bidang hukum kita kenal kaum
kebal hukum dan rentan hukum, dan di bidang sosial kita kenal mayoritas dan
minoritas.
Indonesia yang dihuni berbagai suku, agama, ras, dan adat istiadat
membuat kita ditakdirkan hidup dalam perbedaan. Multikulturalisme sejatinya
bertujuan saling bekerja sama dan mengakui kesederajatan.
Kasus GKI Yasmin di Bogor, misalnya. Bagaimana mungkin keputusan Makhamah
Agung (MA) bisa dibatalkan keputusan wali kota? Dari aspek hukum, wali kota
jelas melakukan pelanggaran berat.
Religiositas
Kasus GKI Yasmin tak bisa dilihat sepotong demi sepotong. Kasus ini juga
tidak bisa ditinjau dari aspek hukum semata. Ada sejumlah aspek yang menjadi
latar belakang melebarnya kasus GKI Yasmin ini hingga berujung pada konflik
antara masyarakat sekitar dan jemaat GKI Yasmin. Dalam kacamata sosial,
terlihat jelas masyarakat masih tenggelam dalam fanatisme kelompok. Sebagaimana
kita ketahui, religiositas masyarakat masih terbatas pada tataran formal, bukan
substantif. Kita diajarkan untuk mencintai sesuatu dengan cara membenci yang
lain. Hal itulah yang pada dasarnya telah menciptakan identitas semu. Perbedaan
agama sejatinya tidak fundamental karena semua mengajarkan kasih sayang.
Dalam kacamata ekonomi, kasus ini juga merupakan gambaran tersirat bahwa
ada kesenjangan ekonomi antara masyarakat mayoritas dan minoritas. Sebagaimana
kita ketahui penguasaan besar ekonomi justru dipegang kaum minoritas, yang
kebetulan juga mempunyai keyakinan minoritas. Hal itu menimbulkan stigma
negatif dan mempunyai potensi konflik tinggi.
Berbeda dengan kaum mayoritas. Walaupun beberapa dari golongan ini telah
mencapai taraf hidup yang mapan, sebagian besar masih berkutat dengan persoalan
perut. Kesenjangan yang terstruktur inilah yang berpotensi menciptakan konflik
horizontal.
Terkait dengan persoalan hukumnya, seharusnya tak perlu diperdebatkan
lagi. Wali kota wajib menjalankan amanat MA dan karena sifat hukum adalah
positif dan harus dieksekusi pihak terkait.
Solusi Kedamaian
Dalam kondisi pelik seperti ini harus ada pihak yang mengalah agar
tercipta kedamaian. Aspek hukum bukan solusi yang bisa menyelesaikan problema
ini. Karena terbukti sampai tahap kasasi di MA, wali kota Bogor tetap tidak
bersedia memberikan IMB untuk GKI Yasmin.
Kita harus kembali melihat sejarah bangsa kita yang terlahir dalam
perbedaan. Melihat perbedaan bukan sebagai rintangan, melainkan sebagai tahapan
baru menuju sesuatu yang lebih baik. Wali Kota Bogor tetap keukeuh menolak
memberikan IMB. Kita harus menghargai sikap tersebut sebagai konsistensi
memperjuangkan keyakinan pribadinya.
Sikap masyarakat sekitar yang tetap menolak kehadiran GKI Yasmin juga
harus tetap dihormati. Akan tetapi, sikap teguh jemaat GKI Yasmin yang tetap
ingin beribadah di tempat tersebut juga harus kita hormati.
Dalam kondisi seperti ini harus ada salah satu pihak yang mengalah demi
kebaikan bersama. MA sendiri secara tersirat menghendaki agar semua pihak
menjalankan putusan MA. DPR juga mengharapkan ada solusi bersama untuk
mengatasi permasalahan pelik ini.
Pemerintah Pusat selaku eksekutor kebijakan tertinggi harus mengambil
sikap tegas untuk mengatasi problema ini. Presiden bisa menunjuk orang yang
dihormati kedua pihak sebagai mediator untuk mengurangi ketegangan. Sebagaimana
pada era Presiden Megawati, beliau menunjuk Jusuf Kalla untuk menengahi konflik
Poso.
Jemaat GKI Yasmin bisa menerima klausul pemindahan area gereja ke tempat
yang tak terlalu jauh dari lokasi awal. Mengalah demi persaudaraan dan kasih
sayang tentu akan memunculkan simpati.
Kasus GKI Yasmin merupakan bukti konkret bahwa ada sebagaian kecil
masyarakat kita yang belum menikmati kemerdekaan: merdeka untuk beribadah dan
berkeyakinan. Bentuk kolonialisme yang kini kita alami tidak bisa kita atasi
seperti cara-cara klasik lewat kekerasan. Sebagaimana filosofi kuno, banyak
jalan menuju Roma. Sebagaimana pula kasus GKI Yasmin, banyak jalan menuju
perdamaian. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/