http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=180207

Rabu, 13 Juli 2005,


Nurani yang Buta dan Tuli
Oleh Mohammad Taufiq A.


Di tengah-tengah derita bangsa akibat bencana alam yang datang silih berganti 
serta bencana kemanusiaan akibat kemiskinan dan wabah penyakit, para wakil 
rakyat kita di Senayan justru gencar menyuarakan keinginannya menaikkan 
tunjangan gaji hingga hampir 80 persen. 

Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat -yang katanya diwakilinya- hidup 
dalam kemelaratan, kelaparan, dan derita sakit. Fenomena itu merupakan sebuah 
paradoks sekaligus ironi yang menyesakkan kita. Hal itu mengindikasikan 
tumpulnya sensitivitas krisis dalam nurani para wakil rakyat tersebut.

Para anggota dewan itu mengajukan usulan kenaikan tunjangan di tengah upaya 
pemerintah melakukan gerakan penghematan nasional untuk menutupi defisit 
anggaran akibat naiknya harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan biaya 
subsidi BBM. 

Tanpa sungkan dan malu melihat penderitaan rakyat, para wakil rakyat kita 
justru ingin bermewah-mewah dengan menaikkan tunjangan kerjanya. Padahal, hasil 
kerja mereka selama ini belum jelas benar dirasakan masyarakat. 

Sulit Dibayangkan
Melihat tingkah laku para politisi bangsa ini, sulit dibayangkan apa masih ada 
wakil rakyat yang merakyat. Yakni, wakil rakyat yang benar-benar mau 
mendengarkan suara rakyat, wakil rakyat yang berorientasi pada kepentingan 
rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan.

Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan pada mereka adalah apakah keinginan 
mereka menaikkan tunjangannya tersebut merupakan aspirasi kita sebagai rakyat 
yang diwakilinya? Apakah mereka sungguh-sungguh telah menjalankan amanah 
sebagai representasi rakyat? Apakah mereka telah menanyakan dan mendapat 
persetujuan rakyat atas apa yang mereka lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut 
niscaya perlu terus kita suarakan di tengah mandulnya fungsi dewan sebagai 
wakil rakyat. 

Tentu masih segar dalam ingatan publik, para anggota dewan di Senayan itu tempo 
hari terlibat adu otot hingga menimbulkan kericuhan yang memalukan dalam 
persidangan yang mulia. Belum lagi dugaan kasus-kasus pemalakan dari sejumlah 
oknum anggota dewan terhadap beberapa pejabat publik dengan janji meloloskannya 
dalam fit and proper test untuk menduduki satu jabatan tertentu. 

Itu semua adalah perwajahan para wakil kita yang saat kampanye dulu sangat 
fasih melantunkan lagu-lagu kampanye akan membela rakyat, jujur, dan peduli. 
Ternyata sekarang, semua yang diucapkan mereka dulu hanya retorika, memunggungi 
fakta yang terjadi.

Langkah
Lantas apa kiranya yang mesti kita lakukan? Pertama, menurut hemat saya, 
seluruh komponen masyarakat, khususnya kaum terdidik, harus terus menyuarakan 
ketidaksetujuan kita atas rencana kenaikan tunjangan tersebut disertai dengan 
argumen-argumen yang kuat, baik dari perspektif ekonomi, politik, maupun moral. 

Untuk dapat melapangkan langkah ini, tentunya peran media massa sangat 
signifikan sebagai corong power pressure kepada anggota dewan. 

Melalui jajak pendapat yang diadakan media massa, akan dapat diketahui 
tanggapan publik atas rencana kebijakan tersebut sehingga akan terlihat 
seberapa populis rencana itu. 

Publik bisa jadi tidak terlalu pintar untuk bersilat lidah seperti halnya para 
anggota dewan. Tapi, publik juga tidak terlalu bodoh untuk melihat secara 
nyata, empiris dari hasil kinerja para wakilnya selama ini. 

Dengan begitu, akan terbangun opini penolakan publik yang kuat sehingga para 
wakil rakyat merasa malu untuk meneruskan keinginannya tersebut.

Kedua, mungkin justru kitalah yang perlu memberikan contoh kepada mereka dengan 
mengorganisasi diri untuk melakukan gerakan efisiensi nasional. Kita tunjukkan 
kepada mereka bahwa kita bisa hidup hemat dan menyisihkan sebagian rezeki kita 
untuk kegiatan kolektif membantu saudara-saudara kita sesama anak bangsa 
Indonesia yang tengah dirundung duka. 

Jika dengan upaya-upaya semacam itu mereka tetap menjalankan rencana 
mengegolkan kenaikan tunjangan kerja, kita sampaikan saja, "Good bye...!"

* Mohammad Taufiq A., mahasiswa Administrasi Publik Fisipol UGM, aktif di JPPR 
(Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat)




[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke