Selesai membenahi rumpun buah naga di pekarangan belakang 
yang roboh diguyur hujan semalam kulanjutkan sarapan yang 
tertunda di teras dapur. Dalam hati geli juga melihat 
batang-batang kaktus yang biasanya berjuntaian rimbun jadi bertumpukan lunglai 
di rerumputan. Wahai naga.. mengapa 
engkau keok oleh hujan justru di tahun naga-air ini... 

Beberapa cabang naga terpaksa kupangkas supaya gampang 
menegakkannya lagi ke atas penyangga. Dengan begitu, betul, 
tingkat kesulitannya tinggal seperti mengangkat rangkaian 
lego sepanjang 3 meter tanpa terputus. Rumpun naga itu 
berhasil tegak kembali walau tampak 'cepak'. Dan menurut 
istri hasilnya adalah: 'B'. Bravo! Bagus! 

Puas melihat rumpun naganya berdiri lagi, istri mengupahi 
secangkir kopi luwak yang mantap sejak dari aromanya, hmm.... 
lengkap dengan dua potong kue lupis bertabur kelapa parut 
yang kuyup gula merah cair. Trims ma'e, nyam! nyam! 

Cuaca yang tak menentu segera jadi bahan obrolan kami. 
Hujan dan panas yang bergantian dengan cepat membuat hujan 
sekarang tidak lagi seromantis hujan-hujan di masa lalu, 
kata ma'e sambil melirik rumpun naganya yang ikut jadi korban 
cuaca tak romantis. Hujan di musim pancaroba memang sulit 
dibilang romantis, kataku mengingatkan. Yang jadi masalah 
adalah pancaroba sekarang sering berkepanjangan. 

Sekalipun begitu aku & ma'e tak mau menyerah. Kami terus 
bicara soal cuaca tapi dari sisi yang menyenangkan saja. 
Misalnya, dari sudut pekarangan ini kami coba memandang musim 
pancaroba kali ini tetap sebagai irama alam yang dimainkan 
secara staccato, secara singkat-singkat dan cepat. Hujan yang 
segar dihapus panas terik, lalu panas terik tiba-tiba disepak 
badai yang membawa gulungan mendung dan begitu seterusnya, 
berulang, berputar, bagai dolanan ular-naga. 

Saking asyiknya, obrolan menjalar kian-kemari. Tanpa disadari 
tau-tau kami terjerembab juga ke lagu Dust in the Wind karangan 
grup Kansas. Lagu ini memang tidak berhubungan dengan pancaroba, 
tapi toh mengandung kekeringan yang berdebu & berangin layaknya 
musim kemarau. 

Kupancing perdebatan kecil dengan bilang lagu itu iramanya 
monoton. Cuma mengulang-ulang nada yang sama di semua bait 
makanya kedengaran amat merana. Lebih-lebih kalau dibawakan 
grup Kalajengking dari Jerman. 

Di dalam hatinya ma'e pasti sependapat. Tapi dalam konteks debat 
laki-bini, tentu saja dia tetap harus melawan dari sudut yang 
dikuasainya, gitar. Menurutnya, diakui atau tidak, pilihan nada 
Livgren dalam petikan gitar itu tergolong unik. Hanya mendengar 
nada itu saja orang sudah bisa mengenali sosok Dust in the Wind. 
"Sudah jadi alamat yang jelas," katanya. Walau gak selalu tepat, 
sambarku seenaknya. Seenak potongan lupis dalam kunyahan. 

"Yak, tuul..." sahut si bungsu tiba-tiba menimpali perdebatan 
ortunya. Dari jendela dapur terlihat dia lagi garuk kepala 
kebingungan memilih kudapan di meja untuk gengnya yang semalam 
menginap. Mudah ditebak, daripada repot membawa sebagian kudapan 
ke ruang atas dia pilih memanggil gengnya turun ke dapur. 
Tentu saja kami setuju karena bisa sekalian `mengabsen' siapa saja 
gengnya yang hadir. Lalu si bungsu bicara seperti ibunya. Seolah 
sesama gitaris wajib bersahutan seirama. 

Tapi syukurlah si bungsu mau bersikap adil dengan melempar teori 
konsekuensinya. Menurut teorinya, kalau nada petik itu dicopot 
dari lagu Dust, maka lagu tersebut bakal jadi dust to dust, ashes 
to ashes.. alias kering, enteng, penuh kehampaan...  : ) 
Sebaliknya, kalau nada yang sama ditempel di lagu lain maka orang 
bisa lupakan Dust in the WindÂ… 

Teori yang cantik! batinku. Tapi apakah dia punya bukti empiriknya? 

"Punya contoh?" tanyaku sambil khawatir dia akan menyebut lagu 
"Sempurna" itu. 

"Everybody's changing.." gumam ma'e datar. 

Aku meringis senang. Tak dinyana ma'e begitu cepat merubah 
pendiriannya atas petikan Livgren. Tapi begitu si bungsu menyahut, 
"yak, 'tullÂ…" barulah aku paham bahwa yang digumam ma'e adalah 
judul lagu. Lagu yang bisa dijadikan bukti empirik. 

"Kayak apa tuh?" tanyaku celingukan karena masih asing dengan 
judul lagu itu (sekarang ganti ma'e yang cekikikan melihat suami 
tercintanya ketinggalan kereta lagi). 

"Bentar," jawab si bungsu menjilati sisa mentega di jarinya lalu 
meminta seorang kawannya bantu bawakan baki berisi jajanan pasar 
buat cemilan his gang di atas. 

Tak lama kemudian dari ruang dalam terdengar si bungsu mulai 
membunyikan tuts piano dan mengalunlah instrumental ini.. 

http://www.youtube.com/watch?v=Zx4Hjq6KwO0

Dalam sekejap teras dapur dan seantero pekarangan belakang 
diliputi suasana romantis... 

so little time..
try to understand that i'm
trying to make a move just to stay in the game, i 
try to stay awake and remember my name, but
everybody's changing and i don't feel the same 






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke