jeg, pinter juga lu cerita yg roman ginian.. :-).
gw ikut seneng deh klo lu berbahagia msh seperti yg dulu..

cuman gw heran apa buah naga tumbuh di jakarta?

apa lu udah pindah ke brastagi atau bogor atau lawang?
atau sembalun di lombok?
atau di tomohon?

ah.. bikin kangen rumah aja...



On Sun, Feb 12, 2012 at 10:03 PM, ajeg <[email protected]> wrote:

> **
>
>
>
> Selesai membenahi rumpun buah naga di pekarangan belakang
> yang roboh diguyur hujan semalam kulanjutkan sarapan yang
> tertunda di teras dapur. Dalam hati geli juga melihat
> batang-batang kaktus yang biasanya berjuntaian rimbun jadi bertumpukan
> lunglai di rerumputan. Wahai naga.. mengapa
> engkau keok oleh hujan justru di tahun naga-air ini...
>
> Beberapa cabang naga terpaksa kupangkas supaya gampang
> menegakkannya lagi ke atas penyangga. Dengan begitu, betul,
> tingkat kesulitannya tinggal seperti mengangkat rangkaian
> lego sepanjang 3 meter tanpa terputus. Rumpun naga itu
> berhasil tegak kembali walau tampak 'cepak'. Dan menurut
> istri hasilnya adalah: 'B'. Bravo! Bagus!
>
> Puas melihat rumpun naganya berdiri lagi, istri mengupahi
> secangkir kopi luwak yang mantap sejak dari aromanya, hmm....
> lengkap dengan dua potong kue lupis bertabur kelapa parut
> yang kuyup gula merah cair. Trims ma'e, nyam! nyam!
>
> Cuaca yang tak menentu segera jadi bahan obrolan kami.
> Hujan dan panas yang bergantian dengan cepat membuat hujan
> sekarang tidak lagi seromantis hujan-hujan di masa lalu,
> kata ma'e sambil melirik rumpun naganya yang ikut jadi korban
> cuaca tak romantis. Hujan di musim pancaroba memang sulit
> dibilang romantis, kataku mengingatkan. Yang jadi masalah
> adalah pancaroba sekarang sering berkepanjangan.
>
> Sekalipun begitu aku & ma'e tak mau menyerah. Kami terus
> bicara soal cuaca tapi dari sisi yang menyenangkan saja.
> Misalnya, dari sudut pekarangan ini kami coba memandang musim
> pancaroba kali ini tetap sebagai irama alam yang dimainkan
> secara staccato, secara singkat-singkat dan cepat. Hujan yang
> segar dihapus panas terik, lalu panas terik tiba-tiba disepak
> badai yang membawa gulungan mendung dan begitu seterusnya,
> berulang, berputar, bagai dolanan ular-naga.
>
> Saking asyiknya, obrolan menjalar kian-kemari. Tanpa disadari
> tau-tau kami terjerembab juga ke lagu Dust in the Wind karangan
> grup Kansas. Lagu ini memang tidak berhubungan dengan pancaroba,
> tapi toh mengandung kekeringan yang berdebu & berangin layaknya
> musim kemarau.
>
> Kupancing perdebatan kecil dengan bilang lagu itu iramanya
> monoton. Cuma mengulang-ulang nada yang sama di semua bait
> makanya kedengaran amat merana. Lebih-lebih kalau dibawakan
> grup Kalajengking dari Jerman.
>
> Di dalam hatinya ma'e pasti sependapat. Tapi dalam konteks debat
> laki-bini, tentu saja dia tetap harus melawan dari sudut yang
> dikuasainya, gitar. Menurutnya, diakui atau tidak, pilihan nada
> Livgren dalam petikan gitar itu tergolong unik. Hanya mendengar
> nada itu saja orang sudah bisa mengenali sosok Dust in the Wind.
> "Sudah jadi alamat yang jelas," katanya. Walau gak selalu tepat,
> sambarku seenaknya. Seenak potongan lupis dalam kunyahan.
>
> "Yak, tuul..." sahut si bungsu tiba-tiba menimpali perdebatan
> ortunya. Dari jendela dapur terlihat dia lagi garuk kepala
> kebingungan memilih kudapan di meja untuk gengnya yang semalam
> menginap. Mudah ditebak, daripada repot membawa sebagian kudapan
> ke ruang atas dia pilih memanggil gengnya turun ke dapur.
> Tentu saja kami setuju karena bisa sekalian `mengabsen' siapa saja
> gengnya yang hadir. Lalu si bungsu bicara seperti ibunya. Seolah
> sesama gitaris wajib bersahutan seirama.
>
> Tapi syukurlah si bungsu mau bersikap adil dengan melempar teori
> konsekuensinya. Menurut teorinya, kalau nada petik itu dicopot
> dari lagu Dust, maka lagu tersebut bakal jadi dust to dust, ashes
> to ashes.. alias kering, enteng, penuh kehampaan... : )
> Sebaliknya, kalau nada yang sama ditempel di lagu lain maka orang
> bisa lupakan Dust in the WindÂ…
>
> Teori yang cantik! batinku. Tapi apakah dia punya bukti empiriknya?
>
> "Punya contoh?" tanyaku sambil khawatir dia akan menyebut lagu
> "Sempurna" itu.
>
> "Everybody's changing.." gumam ma'e datar.
>
> Aku meringis senang. Tak dinyana ma'e begitu cepat merubah
> pendiriannya atas petikan Livgren. Tapi begitu si bungsu menyahut,
> "yak, 'tullÂ…" barulah aku paham bahwa yang digumam ma'e adalah
> judul lagu. Lagu yang bisa dijadikan bukti empirik.
>
> "Kayak apa tuh?" tanyaku celingukan karena masih asing dengan
> judul lagu itu (sekarang ganti ma'e yang cekikikan melihat suami
> tercintanya ketinggalan kereta lagi).
>
> "Bentar," jawab si bungsu menjilati sisa mentega di jarinya lalu
> meminta seorang kawannya bantu bawakan baki berisi jajanan pasar
> buat cemilan his gang di atas.
>
> Tak lama kemudian dari ruang dalam terdengar si bungsu mulai
> membunyikan tuts piano dan mengalunlah instrumental ini..
>
> http://www.youtube.com/watch?v=Zx4Hjq6KwO0
>
> Dalam sekejap teras dapur dan seantero pekarangan belakang
> diliputi suasana romantis...
>
> so little time..
> try to understand that i'm
> trying to make a move just to stay in the game, i
> try to stay awake and remember my name, but
> everybody's changing and i don't feel the same
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke