http://www.analisadaily.com/news/read/2012/02/20/36364/sebuah_pesan_dari_kalimantan_tengah/#.T0KONfXy-pQ


Sebuah Pesan dari Kalimantan Tengah
Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si.

Habib Riziq pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ditolak oleh masyarakat 
Kalimantan Tengah untuk menginjakkan kaki di Propinsi yang mayoritas orang 
Dayak tersebut. Sekitar 700 ratusan masyarakat Kalteng sempat menguasai Bandara 
di Kalteng dan kemudian pesawat yang membawa Habib riziq dialihkan ke 
Banjarmasin demi kenyamanan.
Apa yang membuat pimpinan FPI ditolak di Kalimantan Tengah? Kita tidak tahu 
persis. Tetapi ada hal yang bisa kita lihat dari aksi penolakan ini sebagai 
sebuah pesan. Dikalangan masyarakat Dayak yang menolak kehadiran FPI mereka 
mengatakan tidak menginginkan FPI hadir di Kalteng dengan alasan kerukunan umat 
beragama jangan sampai pecah di Kalteng. 

Kalteng selama ini hidup rukun, baik Islam dan Kristen serta agama yang lain 
hidup damai dan berdampingan sebagai satu keluarga besar. Ini menjadi modal 
dasar dalam pembangunan Kalteng. Mengingat di negara kita konflik sosial sering 
terjadi hanya karena dipicu oleh hal yang spele. Kalteng menjadi miniatur 
betapa sesungguhnya kerukunan itu bisa tercapai jika semua menahan diri dan 
saling menghargai. 

Gerakan anarkisme beberapa Ormas menjadi pelajaran yang sangat berharga di 
negara ini. Betapa hukum kita tidak punya wibawa lagi. Kalau sudah sebuah Ormas 
lebih hebat dari institusi hukum resmi seperti Polri, TNI, Jaksa ini sangat 
membayakan kehidupan masyarakat. Ormas bisa saja bertindak sesuai dengan hukum 
mereka. 

Bagaimana menciptakan hukum yang berwibawa agar jangan tunduk pada kepentingan 
sekelompok orang tentu menjadi PR bagi pemerintah. Untuk itu wibawa negara 
dengan menegakkan hukum yang tegak harus dilakukan agar tidak terjadi kerusuhan 
dan konflik mengatasnamakan Ormas. 

Aksi penolakan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah jadi 
bahasan Rapat Pimpinan Agama dan Organisasi Masyarakat di Kalimantan Tengah, 
Senin, 13 Februari 2012. "Hasilnya, rapat yang berlangsung di Aula Jayang 
Tingang, Palangkaraya, itu menghasilkan sejumlah pernyataan penolakan," kata 
Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, di Palangkaraya, Senin, 13 
Februari 2012.

Terlepas daripada itu penolakan Ketua FPI di Kalteng bisa menjadi pelajaran 
bagi kita semua. Penolakan itu bukan pada aspek sentimen belaka. Tetapi atas 
dasar menciptakan kerukunan diantara umat yang berbeda. Menurut Diran, 
pernyataan penolakan itu didasarkan sejumlah hal. Pertama, semua pimpinan 
agama, pimpinan Ormas dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kalimantan Tengah, 
menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tersebut tidak ada kaitannya dengan 
agama dan suku.

Kedua, agar kejadian itu tidak terulang kembali dan semua pihak wajib 
bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama 
dan memelihara tri kerukunan umat beragama sesuai dengan peraturan 
perundang-undangan yang berlaku. 

Ketiga, sepakat menyatakan masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap 
untuk kembali menciptakan kondisi Kalimantan Tengah yang rukun dan damai. 
Keempat, hindari upaya adu domba dalam masyarakat dan tindak tegas pelakunya 
sesuai dengan hukum yang berlaku. Kelima, tingkatkan persatuan dan kesatuan 
dengan semangat huma betang di Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Kalteng," kata 
Achmad Diran. 

Pernyataan sikap tersebut, ia mengatakan, dibuat untuk diketahui dan 
dilaksanakan secara bersama-sama demi keutuhan dan kejayaan Negara Kesatuan 
Republik Indonesia (Sumber TEMPO: 12 Februari 2012).

Keberlangsungan NKRI sekarang ini dalam pertaruhan. Banyak kasus yang berbau 
identitas atas nama agama dan suku menguak kepermukaan. Banyak sekelompok orang 
mengatasnamakan agama memaksakan kehendaknya tanpa mengedepankan dialog dan 
saling mengharagi kultur yang berbeda. 

Potensi konflik mengatasnamakan suku dan agama harus diredam agar jangan pecah 
menjadi konflik yang bersifat horizontal. Indonesia adalah sebuah negara yang 
terbentuk atas dasar keberagaman suku, agama dan identitas lainnya. Semua itu 
disatukan oleh empat pilar berbangsa dan bernegara yang terus disesuaikan oleh 
pemerintah, DPR, MPR dan juga para rohaniawan. Empat pilar berbangsa tersebut 
adalah, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan keberagaman. 

Jika keempat pilar berbangsa ini dielaborasi dengan kesejahteraan masyarakat 
maka bisa dipastikan konflik itu kadarnya sangat rendah. Masalahnya adalah 
kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, frustrasi yang sangat tinggi, 
pengangguran, kesenjangan ekonomi, konflik tanah yang selalu berujung pada 
kemenenagan pemilik modal dan korupsi pejabat membuat masyarakat frustrasi dan 
bertindak radikal. 

Saat yang bersamaan sosialisasi empat pilar kebangsaan hanya pada tingkat 
wacana dan tidak bisa terlembaga dengan baik dalam bentuk riil yang nyata. 
Masyarakat banyak membentuk Ormas sebagai tempat mengadu dan melakukan tindakan 
yang anarkis dengan alasan ketidakmampuan pemerintah. Pada satu sisi bisa kita 
terima. Tinggal bagaimana pemerintah mampu mengatasi masalah kemiskinan dan 
pengangguran, serta korupsi agar ormas ini bisa tertib dan menjadi mitra kerja 
pemerintah. Disatu sisi pimpinan Ormas harus mampu menyadari empat pilar 
kebangsaan itu harus dijaga. Janganlah memaksakan kehendak kepada orang lain, 
bahkan cenderung anarkis. 

Toleransi harus dijaga, perbedaan adalah anugerah yang harus kita terima. 
Dengan berbeda potensi banyak terbangun. Penolakan FPI Di Kalteng memberikan 
kita sebuah pesan bahwa bahwa kedepan semua Ormas harus menjaga empat pilar 
kebangsaan itu. Pemerintah pun perlu instropeksi diri dengan membangun wibawa. 
Wibawa bisa terbangun apabila peemrintah mampu menjadi pengayom masyarakat, 
menegakkan hukum. Dengan demikian kasus penolakan FPI di Kalteng tidak akan 
terjadi lagi. Mari menjaga pilar kebangsaan untuk keberlangsungan hidup 
berbangsa.

Penulis adalah Dosen FIS UNIMED Medan/Pimpinan PKMI I Medan.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke