Refl : Untuk tambah pengetahuan silahkan lihat ini > : 
http://www.youtube.com/watch?v=0mHrLW7_xQg , 
http://www.youtube.com/watch?v=8J-tHuowVA8&feature=related , 
http://www.youtube.com/watch?v=StGSg_l9CXQ&feature=related, 
http://www.youtube.com/watch?v=wXwM7kAkS14&feature=related
Apakah tidak sebaiknya dibiarkan kepada Yang Maha segala Kuasa untuk menentukan 
dari pada ribut di bumi? 
Surah "Al Hujuraat" # 49, Verse # 13

            "O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a 
female, 
            And made you into nations and tribes, that ye may know each other
            (Not that ye despise each other). Verily the most honoured of you 
in the sight 
            of Allah is (he who is) the most righteous of you. And Allah has 
full knowledge and is well-acquainted (with all things)."
           
     

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/02/20/36363/menyoal_dilema_bertoleransi_dalam_beragama/#.T0KQnvXy-pQ

Menyoal Dilema Bertoleransi dalam Beragama
Oleh : Honriani Nst,S.T. 

Judul di atas hampir mirip dengan judul sebuah opini yang terbit di harian ini 
pada hari Kamis 2 Februari 2012 dengan judul Dilema Bertoleransi dalam Beragama 
tulisan Bapak Fernando Sihotang. Memang sengaja dibuat mirip, karena tulisan 
ini untuk menanggapi opini tersebut dengan harapan kita bisa melihat tentang 
praktek kebebasan beragama dan toleransi beragama yang diagung-agungkan di 
negara ini sangat jauh dari yang diharapkan dan sangat bersifat diskriminasi 
baik bagi kalangan minoritas maupun mayoritas, dan bisa menerima secara jujur 
bahwa pernah ada praktek toleransi beragama yang tinggi dalam sejarah peradaban 
manusia.
Namun sayang peradaban yang saya maksud sengaja disembunyikan dari generasi 
bangsa ini, sehingga tidak pernah masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan 
menengah. Maka sesuatu yang wajar jika banyak generasi bangsa ini yang tidak 
familiar dengan peradaban yang saya maksud. Ironisnya lagi, sadar atau tidak 
sadar praktek toleransi beragama yang diterapkan di negara ini menghambat 
penganut agama-termasuk agama mayoritas-untuk menjalankan agamanya secara 
menyeluruh dan sempurna!

Dilema Bertoleransi dalam Beragama

Yang dapat saya tangkap dari opini Pak Fernando, beliau mulai opininya dengan 
menceritakan temannya yang emosional menanggapi kasus penyegelan Gereja GKI 
Yasmin Bogor, berharap pemerintah menyelesaikan kasus tersebut dan di 
kesempatan lain temannya malah menuntut agar pemerintah membubarkan 
kepercayaan-kepercayaan yang tidak diakui di Indonesia. (Harian Analisa, 2 
Februari 2012).

Dua kondisi yang kontradiktif tentang kebebasan beragama jika dilihat dengan 
kacamata kebebasan beragama perfektif sekuler. Mengapa saya katakan demikian? 
Karena dalam faham sekuler yang dimaksudkan dengan kebebasan beragama adalah 
setiap individu boleh beragama dan boleh tidak beragama, bahkan boleh menghina 
agamanya ataupun agama lain, dan negara dilarang ikut campur dalam urusan agama 
ini, karena dalam faham sekuler masalah agama termasuk ke dalam masalah privat. 
Maka jangan heran jika di negara ini pun kita dilarang menyinggung SARA —suku, 
agama, dan ras—, misalkan dalam suatu perkenalan kurang etis menanyakan agama 
seseorang. 

Akhirnya seorang Muslim bisa enggan menunjukkan keislamannya sehingga sesuatu 
yang wajar banyak wanita Muslim tapi tidak mengenakan pakaian muslimah —jilbab 
dan kerudung—, begitu juga halnya dengan penganut budha-hanya memakai pakaian 
khas Buddha di rumah-rumah ibadah saja, namun jika di kehidupan umum mereka pun 
akan menanggalkan pakaian tersebut, hal sama terjadi juga pada penganut agama 
yang lain.

Pak Fernando juga menyinggung tentang kebebasan beragama merupakan HAM yang 
sudah diakui oleh dunia internasional, namun hanya sebatas hitam di atas putih 
dan prakteknya diabaikan. Pak Fernando pun mengangkat sebuah contoh lunturnya 
persaudaraan hanya dikarenakan ‘kita berbeda’ dan kesedihan yang mendalam harus 
dirasakan oleh seorang anak sekolah yang selalu dijauhkan oleh teman-temannya 
karena agamanya bukan merupakan salah satu dari agama yang diakui. 

Dalam hal ini, saya mau menambahkan bahwa praktek toleransi beragama di negara 
ini bukan hanya menimbulkan rasa kesedihan bagi penganut agama yang tidak 
diakui di negara ini, bahkan kesedihan yang berkepanjangan akibat tekanan 
pemerintah dan publik kepada penganut agama yang berusaha menjalankan ajaran 
agamanya secara menyeluruh dan sempurna. 

Pernahkah pembaca menyadari bahwa sangat banyak wanita Muslim yang dihambat 
untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya hanya karena 
wanita Muslim tersebut memakai pakaian muslimah? 

Suatu saat —awal tahun 2001— saya pernah mengikuti testing di salah satu 
perusahaan asing (Prancis), saya pun lulus testing tertulis dan akademik dengan 
nilai tertinggi, tiba saat wawancara salah satu pertanyaan yang diajukan 
bersediakah saya melepaskan pakaian muslimah saya, karena di perusahaan 
tersebut tidak menerima karyawan yang berpakaian muslimah. 

Dan itu bukanlah satu-satunya pengalaman saya, si kesempatan lain masih di 
tahun yang sama saya dipanggil oleh perusahaan asing (Amerika Serikat) dan 
lagi-lagi saat wawancara saya diminta untuk melepaskan pakaian muslimah saya. 
Bahkan anehnya saat mencantumkan pasfoto di ijazahpun seorang muslimah 
dipersulit jika pasfotonya memakai pakaian Muslim —kerudung. 

Saat saya lulus perguruan tinggi pihak tata usaha pun meminta saya untuk 
membuat surat pernyataan karena saya mencantumkan pasfoto yang berkerudung, 
begitu juga halnya saat saya lulus akta mengajar dari salah satu perguruan 
tinggi Islam. Inikah toleransi beragama? Maka tidak berlebihan jika saya 
akhirnya mengambil kesimpulan bahwa faham toleransi beragama yang ada saat ini 
menghambat penganut agama menjalankan agamanya dengan benar, sempurna dan 
menyeluruh. Bahkan toleransi beragama mengkerdilkan ajaran agama, terutama 
ajaran agama Islam.

Mari juga kita membuka mata, maraknya pembongkaran mesjid di kota ini dengan 
alasan pembangunan ataupun ekonomi, pada dasarnya sudah tidak menghargai 
orang-orang yang beragama! Padahal penduduk kota Medan masih mayoritas penganut 
agama Islam! Masihkah kita mengagungkan-agungkan toleransi beragama ataupun 
kebebasan beragama dalam persfektif sekuler ini?

Faham Sekuler dan Kebenaran Mutlak

Pak Fernando juga menyinggung bahwa praktek toleransi beragama di negara ini 
bersifat ambivalen. Menurut saya, selama prakteknya masih berlandaskan faham 
sekuler maka toleransi akan selalu bersifat ambivalen. Bahkan hampir semua hal 
dalam faham sekuler itu bersifat ambivalen. Mengapa bisa demikian? Karena faham 
sekuler tidak memiliki kebenaran mutlak, kebaikan mutlak, kejahatan mutlak, dan 
lain sebagainya. 

Itu disebabkan sekuler tidak memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh 
standard miskin saja tidak jelas, begitu juga halnya dengan standar kaya. 
Seseorang bisa dikatakan kaya jika dia memiliki mobil walaupun dengan cara 
kredit, tapi bisa pula orang tersebut dinilai tidak kaya karena mobilnya masih 
kredit. Begitu juga halnya dengan standar kebenaran yang saya istilahkan dengan 
kebenaran mutlak. 

Lihat kasus kriminal yang ada di negara ini bingung untuk mengetahui siapa yang 
benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh kasus korupsi yang menimpa 
Nazaruddin, awalnya Nazaruddin dipandang sangat bersalah namun belakangan 
Nazaruddin seperti pahlawan pembongkar pelaku korupsi di tubuh partainya, 
demikian juga halnya dengan kasus yang menimpa Antasari, Susno Djuadi, dan lain 
sebagainya. Akhirnya kebenaran itu sangat tergantung kepada pihak yang berkuasa 
dan kepentingan penguasa, serta kemahiran insane media memutar balikkan fakta!

Toleransi Beragama dalam Pandangan Islam

Jika ada seseorang yang mengatakan sedang berupaya mengubah negara ini menjadi 
negara Islam, suatu negara yang memiliki pemerintah yang menerapkan aturan 
Islam secara menyeluruh dan sempurna, maka komentar pertama adalah bahwa hal 
itu tidak mungkin terwujud karena negara ini bukan negara Islam. 

Komentar berikutnya, jika hal itu terwujud bagaimana dengan nasib rakyat yang 
tidak beragama Islam, apa mereka akan dipaksa masuk Islam? Komentar konyol 
berikutnya bahwa tidak mau jika negara ini diubah menjadi negara Islam, karena 
negara Islam itu merupaka negara yang kejam yang suka memotong tangan orang, 
merajam orang, mencambuk orang, dan gambaran lain yang menakutkan. 

Komentar terakhir ini saya katakan konyol, karena Islam hanya memotong tangan 
pencuri, hanya merajam pezina dan mencambuk peminum khamar dan pelaku kriminal 
lainnya. ***

Penulis adalah Anggota DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Sumut.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke