Nulis ga becus, tp nyontek jagoan. From: holy uncle <[email protected]> >To: NATIONAL <[email protected]>; MEDIACARE ><[email protected]>; PROLETAR <[email protected]> >Sent: Wednesday, February 22, 2012 2:44 PM >Subject: [proletar] Mahasiswa dan Dosen Kita (Tak) Bisa Menulis? > > > >Mahasiswa dan Dosen Kita (Tak) Bisa Menulis? > >Wednesday, 22 February 2012 > >Mengapa kita bisa atau tak bisa menulis? Pertanyaan ini sengaja dibuat untuk >menggambarkan bahwa menulis artikel (ilmiah) memang tidak mudah. > >Meski ada sedikit yang bisa, sebagian besar dari kita—siswa, mahasiswa, dan >dosen sekalipun— berada pada kategori kurang bisa sampai pada tidak bisa >sehingga takut untuk mencobanya. Mudah sekali untuk membuktikan itu. Ketika >Dirjen Dikti Kemendikbud membuat surat edaran yang mewajibkan semua lulusan >perguruan tinggi baik jenjang S-1,S-2,maupun S- 3 untuk memublikasikan karya >ilmiah (skripsi, tesis, atau disertasinya) sebagai syarat kelulusan, di antara >mereka banyak yang kaget,“termehek-mehek” dengan reaksi yang beraneka ragam. > >Semua reaksi itu merupakan gambaran bahwa kita semua,sebagianbesar,tidakdan >belum bisa menulis,kecuali mereka yang bisa,tetapi tidak mau. Dalam tulisan >ini saya ingin berbagi pengalaman mengapa sebagian besar kita tidak bisa dan >sebagian kecil saja yang bisa menulis.Memang betul kemampuan menulis tidak >bisa dikarbit.Kemampuan menulis untuk kepentingan sebuah publikasi merupakan >proses yang panjang. Ada beberapa syarat penting yang harus dimiliki penulis >untuk menciptakan sebuah tulisan yang baik yaitu knowledge, courage, >experience,dan inspiration. > >Karena perlu ada ketiga aspek penting itulah, seseorang tidak bisa serta-merta >selalu siap sedia dengan stok tulisan ilmiah. Jangankan menulis karya ilmiah >kalau tidak memiliki keempat aspek penting tersebut, saya yakin yang >bersangkutan juga tidak akan bisa menulis di rubrik pikiran pembaca di koran >mana pun. Masih sedikit di antara kita yang bisa menulis ilmiah baik berupa >buku maupun penerbitan ilmiah di berbagai jurnal ilmiah. Itulah sebabnya >Dirjen Dikti Kemendikbud prihatin terhadap begitu rendahnya publikasi ilmiah >di perguruan tinggi kita. Publication index kita saat ini ketinggalan jauh >dibanding perguruan tinggi di Singapura atau bahkan dengan Malaysia sekalipun. > >Ada yang Bisa > >Di antara kita ada yang telah sukses melahirkan tulis-an monumental.Mengapa >begitu? Jawabnya,mereka memang memiliki cukup banyak repertoir pengetahuan >(knowledge) yang diderivasikan dari penguasaan ilmu pengetahuan >tertentu.Namun, untuk melahirkan sebuah tulisan ilmiah,tak cukup hanya ada >persediaan atau stok pengetahuan dalam kepalanya. Dalam proposisi ilmiah >kondisi ini bisa digambarkan secara lugas: “it is necessary but not >sufficient”. > >Masih ada syarat berikutnya yaitu keberanian (courage). Kalau seseorang tidak >berani menghadapi bayangan dan perasaan yang menakut- nakuti akan penerbitan >tulisannya di media mana pun, tentu tidak akan lahir sebuah tulisan yang baik. >Faktor berikut yang bisa mendorong orang bisa atau tidak bisa menulis adalah >pengalaman (experience).Pengalaman akan semakin memperkaya kosakata, metafora, >substansi, serta artikulasi materi sehingga yang bersangkutan bisa menulis >dengan gaya dan materi yang mengalir begitu saja bagaikan mata air yang tak >pernah kering. > >Pengalaman bisa terkait dengan “jam terbang”. Meskipun demikian,pengalaman >dapat dipercepat tidak harus sesuai dengan usia kronologis seseorang. Hal ini >terjadi karena sumber informasi di era digital,global,dan virtual ini terbuka >lebar tanpa batas bagi siapa saja. Informasi apa saja saat ini bisa diperoleh >di situs internet yang jumlahnya miliaran, dan setiap hari berkembang ratusan >juta mengikuti prinsip deret ukur. Karena itu, supaya mahasiswa dan atau dosen >bisa menulis dengan baik, rajinlah browsing di bidangnya masing-masing di >banyak situs yang relevan dengan substansi ilmu yang dikembangkannya. > >Komponen penting terakhir yang harus dimiliki agar mahasiswa atau dosen bisa >menulis karya ilmiah ialah dimilikinya inspirasi (inspiration) yang kuat.Hanya >dengan inspirasi, orang akan bisa melakukan kegiatan menulis secara produktif. >Inspirasi bisa lahir kalau seseorang berada pada kondisi yang bebas tanpa >tekanan sehingga ia memiliki imajinasi yang “liar” yang kemudian ditata >menjadi sebuah inspirasi positif untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Ingat, >imajinasi adalah dasar utama lahirnya semua teknologi penting di dunia ini. > >Sebuah mobil amat sangat mahal, dan di Indonesia masih jarang ada yang punya >kecuali para hartawan, juga lahir dari imajinasi chief executive officer-nya >ketika membesuk koleganya yang dirawat rumah sakit.Pada saat menunggu, dia, >sang CEO itu, melihat seorang anak larilari bermain di lingkungan rumah >sakit.Salah satu dari anak itu meloncat ke atas meja yang agak tinggi, dan >serta merta terjun kembali karena dikejar kawan-kawannya. Apa pentingnya anak >terjun dari meja bagi CEO itu? > >Dia melihat anak itu terjun dari meja dengan gaya jatuh yang anggun, tanpa ada >gerakan menghentak, dan tetap stabil berdirinya kembali dari posisi: merunduk, >jongkok, sampai berdiri tegak sebagai akibat high impact karena tergesa >dikejar kawan-kawan sepermainannya. Sejak itu CEO itu berimajinasi akan >membuat suspensi mobil dengan prinsip yang memberikan kenyamanan bak anak >kecil yang jatuh dengan sangat anggun dan stabilnya tadi.Singkat >cerita,lahirlah teknologi suspensi, yang mewah, nyaman, dan stabil bagi sebuah >mobil mewah di dunia, dan sangat mahal harganya. > >Itulah imajinasi yang kemudian diolah dan diproses secara kognitif menjadi >inspirasi sebuahrekayasateknologiautomotif yang memiliki unggulan kompetitif. >Prinsip menulis juga seperti itu. Manakala seorang dosen atau mahasiswa telah >memiliki inspirasi yang kuat disertai dengan keberanian untuk mengomunikasikan >ilmu pengetahuan yang mereka miliki, berdasarkan pengalaman positif selama >ini, tak satu pun kekuatan yang bisa mencegah mereka untuk selalu menulis, dan >menulis lagi. > >Meski dengan tulisan itu mereka bisa saja menghadapi berbagai konsekuensi >psikologis, sosiologis, maupun politis kalau saja tulisan itu akhirnya >mengundang pro-kontra dan polemik yang berkepanjangan. Akhirnya, bisa >disimpulkan bahwa kemampuan menulis bukan persoalan apakah seseorang itu >pintar atau tidak secara kognitif semata,tetapi juga >menyangkutmasalahkebe-ranian, pengalaman, dan inspirasi kuat yang bisa muncul >di benak para calon penulis karya ilmiah itu sendiri. > >Di era global seperti saat ini memang kemampuan menulis ilmiah sangat vital >bagi para mahasiswa dan dosen kita. Itulah sebabnya di kampus di mana saya >pernah belajar di Amerika Serikat pada 1980-an, di semua sudut-sudut kampus >itu digelorakan semangat dan visi: Publish or Perish. Semoga kita juga bisa >begitu.● > >PROF SUYANTO PHD >Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Plt Dirjen Pendidikan Dasar >Kemendikbud > >http://www.seputar-indonesia.com/edisic ... ew/471465/ > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > >
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
