entah kapan saya terakhir kali naik taksi di indonesia, mungkin 5 atau 10 tahun 
yg lalu.
yang pernah saya ingat, waktu itu turun di stasiun gambir lalu nyetop taksi.
sopir taksi nanya "kemana?", saya jawab "kota".
eh si sopir bukannya bukain pintu malah langsung ngeloyor pergi, asem reges 
bener dah.
rupanya sopir2 taksi di jakarta sudah punya kalkulator tersendiri di kepalanya.
begitu tau daerah tujuannya adalah daerah super macet, mereka putuskan 
mendingan ngga narik penumpang daripada
kehilangan waktu banyak, yg artinya kehilangan kesempatan mendapatkan lebih 
banyak penumpang.
sebagian taksi di indonesia memang agak menyebalkan.
selain kadang2 tarifnya ngga jelas dan seringkali sopirnya menolak pakai argo, 
mereka juga pilih2 area tujuan.
ini tidak bagus untuk pariwisata.

cuman di indonesia kayak gitu?
oh ternyata tidak.

saat di jerman saya berangkat dari sebuah kota kecil ke bandara menggunakan 
taksi.
di dalam taksi saya bilang sama sopirnya, seorang bule jerman bertubuh gempal 
seumuran kira2 20 tahunan, "nyalain meterannya ya".
eh si sopir bilang "sori sir, saya kasih tarif flat aja ya, saya kasih harga 
khusus deh, 85 euro saja sampai bandara".
lah, di negara supermaju begini ternyata ada juga yg taksinya anti argo.
saya tanya lagi "seberapa jauh dari sini ke bandara?", dia jawab "sekitar 60km 
lah".
saat itu jam 6 pagi, dan memang di kota kecil kayak gitu rada susah nyari taksi 
sepagi itu.
pesawat saya, tujuan swiss, take off jam 8, kayaknya ngga ada waktu lagi buat 
berdebat sama si bule tambun ini.
daripada ketinggalan pesawat, saya oke-in aja ongkos taksi yg kalo dirupiahin 
sekitar 1 juta perak itu.
perjalanan tepat 1 jam sampe bandara.
sopir taksi menawarkan apakah perlu dibuatkan kuitansi, saya bilang tidak usah.
di pikir2 nyesel juga kenapa waktu itu ngga minta kuitansi.
padahal kalau saya punya kuitansinya saya bisa pamer sama temen2 "nih gua 
pernah naik taksi yg ongkosnya sejuta".

perjalanan pesawat frankfurt-zurich makan waktu sekitar 1 jam.
sampe zurich saya sudah dijemput oleh sopir taksi yg memang sudah dipesan oleh 
kolega di sana.
melihat tampang sopir taksi ini saya jadi inget wajah yg cukup familiar.... 
siapaaa ya.
saat di dalam mobil baru saya ingat, rupanya sopir ini tampangnya mirip banget 
sama george clooney, cuman agak gemukan.
namanya saya lupa, tapi saya ingat dia cerita bahwa dia adalah imigran dari 
salah satu negara pecahan soviet, yg juga saya lupa nama negaranya.
bahasa inggrisnya patah2 dan saya perlu sedikit usaha ekstra untuk 
berkomunikasi sama dia.
dia cuman lancar bahasa jerman dan rusia, katanya.
ongkos taksi dari bandara zurich sampe di tujuan dibayarin kolega, jadi saya 
ngga perlu pusing2 lagi.
saya juga ngga tau ongkosnya berapa, tapi dari durasi dan jarak tempuhnya sih 
kayaknya ongkos taksi ini bisa 2x umr kota jakarta.
sampe di tujuan si george clooney kw 2 bilang "kalau anda perlu jalan2 di sini 
telpon saya saja, ini kartu nama saya, nanti saya anter ke pabrik coklat
terkenal di sekitar sini".
saya bilang "ok", tapi dalem hati "ngga ah, mending gua beli tiket trem aja".

urusan dengan kolega beres, saya balik ke hotel yg lokasinya di tengah kota 
zurich dianter oleh salah seorang pegawai yg rumahnya deket hotel tempat saya 
menginap.
good, dompet saya selamat karena ngga perlu telpon si russian george clooney 
ini.
saat lapar menyerang, saya baru nyadar kalau swiss adalah salah satu negara 
cerdas yg tidak mau pake euro walaupun masuk uni eropa.
padahal di dompet saya sudah dijejali 3 mata uang: rupiah, euro, dan usd, tapi 
saya lupa beli chf (swissfranc).
ter gopoh2 karena hari mulai gelap saya lari ke reception hotel, nanyain money 
changer terdekat.
"anda ke stasiun kereta saja, ngga jauh koq dari sini, cuman 20 menit jalan 
kaki".
sip, saya lalu bergegas ke stasiun sambil tanya sana sini arah yg tepat supaya 
tidak tersesat.
stasiun kereta zurich memang jaraknya ngga jauh dari hotel, tapi ampun deh, ini 
kota yg paling dibenci oleh tukang becak dan pengendara sepeda seluruh dunia.
kota ini konturnya berbukit-bukit, entah berapa kali saya harus naik turun anak 
tangga di tengah kota (bukan di mall) untk mencapai stasiun kereta.
alhasil jalan kaki 15 menit itu rasanya seperti ikutan marathon bali 10k.

berdasarkan living cost, swiss adalah salah satu negara "termahal" di dunia.
dan zurich baru saja dinobatkan sebagai kota termahal di dunia oleh the 
economist.
kota termahal selanjutnya adalah tokyo, oslo, paris, sydney lalu singapur di 
posisi 6.
karachi ada di posisi 131, dan garut mungkin ada di urutan 1278.
hotel yg saya tempati memang berlokasi di tengah kota, kamarnya lebih kecil 
daripada kamar di rumah saya, restorannya lebih sempit
dari warung sop buntut dahapati di cipaganti, dan -ini yg tidak pernah saya 
duga- tanpa AC! dan pemandangan ke luar cuman genteng2
bangunan sekitar yg ber desak2an.
walaupun serba minimalis, tarifnya tetap maksimalis, kalau dirupiahin sekitar 
1,5 juta semalem.
tarif segitu di hotel padma bandung bisa dapet junior suite dgn pemandangan 
spektakuler, luas kamar setara rumah tipe 45, bath tub eksotis,
sendal, peralatan mandi, welcome drink bajigur dan buah2an, dengan fasilitas 
kolam renang, gym, karaoke, restoran mewah dgn pemandangan spektakuler,
dan seabreg kenikmatan lainnya yg mustahil bisa dibayangkan oleh orang ber ktp 
zurich.
kalau anda tipikal turis backpacker, jangan coba2 memasukkan zurich sebagai 
tujuan utama.

buat saya pribadi zurich sebetulnya biasa2 saja, memang agak sedikit unik 
karena konturnya ber bukit2, tapi tidak ada yg istimewa.
mungkin akan istimewa bagi yg pertama kali ke eropa, tapi tidak bagi yang udah 
pernah ke roma, venice, atau florence di italia.
di stasiun zurich saya kudu keluar duit sekitar 11 franc (sekitar 100 ribu 
perak lebih) untuk secuil chicken burger+segelas kecil softdrink di warung 
burger king.
sepotong kue pretzel dan secangir kopi juga harganya segitu.
saya batalkan untuk beli kaos, dompet atau coklat di situ, karena harganya 
terlalu fantastis dibanding kegunaannya.
satu2nya barang yg saya beli di swiss adalah jam tangan swatch buat istri saya, 
dengan duit sisa swissfranc di bandara zurich saat itu.

melihat harga2 consumer goods mahalnya kayak gitu, saya semakin bersemangat 
untuk tidak wara wiri pake taksi di zurich.
lah di jerman aja, dimana frankfurt cuman ada di urutan ke 7 sebagai kota 
termahal di dunia, ongkos taksi udah edan eling begitu, apalagi di zurich.
beruntung, persis di depan hotel ada jalur trem .
waktu dikasi tau moda transportasi ini oleh kolega saya, sempet bingung karena 
dia terus2an ngomong "street car".
karena dia bilang "car", saya bilang saya ngga mau pake taksi, kalau ada saya 
mau pake kereta/trem aja biar lebih cepet (padahal pengen lebih murah).
ndilalah ternyata street car itu ya trem.

sampai di indonesia, saya tak henti2nya bersyukur hidup di negri yg tidak perlu 
stress harus mikirin ongkos taksi atau biaya makan siang.
ongkos jasa portir di bandara soekarno hatta 20 rebu? keciil itu mah, duit 
segitu ngga cukup buat beli secangkir kopi di zurich.
makan siang di restoran sama anak bini abis 200 rebu? ini sih cuman 2x makan di 
burger king di zurich central station.

walaupun tidak sempet nyimpen kuitansi taksi di jerman sebagai bahan pamer, 
paling tidak saya sekarang bisa pamer sama teman: pernah makan, tidur, dan 
berak di kota termahal di dunia.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke