Sebenarnya kita tidak bisa berdebat kusir tentang palsu tidaknya super semar, atau berdebat masalah apakah Suharto kudeta atau tidak. Perdebatan2 semacam begitu sama sekali tidak mengungkapkan keadaan yang sebenarnya pada waktu itu.
Jadi disini sekedar saya kasih gambaran, bahwa ekonomi RI waktu itu betul2 hancur luar biasa, bahkan lebih parah dari Gaza yang diblokade sekarang ini. Listrik semuanya mati, yang nyala itu cuma dirumah pejabat dan militer, beras hanya dipunyai pegawai negeri dari pembagian pemerintah, kain blacu pun enggak ada, untuk bikin baju dan celana ada pembagian di koperasi yang jatah setiap keluarga dipasung dan cuma satu merek yaitu RATATEX, minyak goreng cuma boleh sebotol dan itupun ngantrinya sehari penuh. Busung lapar ditemukan di Karawang, Bekasi, Jawa Tengah dan diluar Jawa. Pokoknya yang saya ceritain itu cuma setitik aja karena yang sebenarnya lebih parah dari itu, para pencoleng jangan ditanya lagi. Jadi dengan kondisi tsb, janganlah debat2 lagi, semua orang mengharapkan Sukarno cepat2 mati. Yang ditangkapin, diculik, hilang mendadak lebih banyak daripada yang dilakukan Suharto, tuduhan yang paling ditakuti masyarakat waktu itu adalah kontra revolusi, dituduh subversi, dituduh kaki tangan imperialis, dituduh manikebu, dan soal tuduhan2 untuk alasan ditangkap puluhan kali lipat lebih banyak daripada dizaman Suharto. Koran2 dizaman Sukarno tidak boleh mengkritik sedikitpun juga, bahkan cuma menyenggol sedikit aja langsung ditangkap, digebukin sampai mati dipenjara. Dengarkan radio Malaysia ditangkap sekeluarga, dipenjara, rumahnya disegel. Waaah... kalo saja anda2 itu mau hidup disituasi seperti begitu barulah bisa mengerti kenapa Super Semar boleh saja dipalsu. Orang enggak peduli apakah namanya itu kudeta atau peralihan yang konstitusional, yang mempermasalahkan itu khan setelah Suharto berhasil ambil alih dan membunuh mati Sukarno di RSGS, yang enggak kebagian rezeki kemudian cuap2 bahwa itu kudeta tidak konstitusional dlsb. Suharto boleh dianggap bangsat, tetapi sekali lagi saya ungkapkan disini, Sukarno itu biang bangsat !!!! Jadi anda2 harus tahu dulu bahwa G30S itu cuma gerak tipu, istilahnya pukulan di Barat tapi suaranya ada di Timur, dan gebukannya baru terjadi di Utara, baru proses penghancurannya dari arah selatan. Sukarno banyak akal tipunya, rakyat sangat takut, sejak diumumkan adanya G30S, tidak ada koran atau rakyat yang berani berkomentar !!! Bahkan Suharto juga takut ngomong, dia ciut nyalinya, jelas dia bukan penggeraknya. Tidak ada orang Indonesia yang berani melakukan gerakan seperti itu meskipun berpangkat jenderal yang paling tinggi. Tujuan utama G30S adalah menculik Sukarno, sedangkan penculikan jendral2 cuma gerak tipu saja. Tidak ada yang pernah menanyakan, apakah berhasil atau tidak penculikan Sukarno itu. Tapi disini saya jelaskan, tujuan penculikan Jendral adalah untuk membungkam gerakan militer yang membela Sukarno, dan memberi kesempatan perwira2 dibawah untuk bergerak dibawah perintah CIA. Jadi kalo penculikan jendral2 sukses besar, silahkan anda pikir sendiri apakah berhasil atau tidaknya penculikan Sukarno. Memang bukan tujuannya membunuh Sukarno, skenarionya, Sukarno didikte untuk melakukan begini dan begitu setelah semua jendral2 pentingnya dibunuh. Barulah Sukarno disuruh mengundurkan diri atas kemauannya sendiri seperti Suharto. Tapi rupanya, meskipun Sukarno yang sudah berhasil diculik, digertak, diancam, dan bahkan pembantaian jendral2 yang diculik yang belum mati dilakukan di lubang buaya disaksikan Sukarno sendiri, tapi Sukarno yang biasa licik pada kali ini juga mau menggunakan langkah2 liciknya untuk melepaskan diri dari cengkraman yang tidak terlihat rakyatnya, namun semua akal licik Sukarno kali ini gagal. Niat Sukarno melepaskan diri secara per-lahan2 digagalkan, SP 11 Maret yang semula oleh Sukarno mau dijadikan pemukul malah memukul diri sendiri. Entah bagaimana caranya, yang pasti SP 11 Maret yang aseli itu kemungkinan besar berisi penangkapan Jendral Suharto untuk dipenjarakan, dan Suharto juga gerak cepat, Sukarno itu sudah dipenjarakan di Istana Bogor, langsung SP 11 Maret itu diketik ulang, isinya bukan untuk menangkap Suharto sebaliknya berisi menyerahkan kekuasaan kepada Suharto. Begitulah, Suharto yang mulanya takut2, gara2 mau ditangkap Sukarno akhirnya jadi nekad, prinsipnya "dia yang mati atau aku yang mati", ya situasi begini jelas, yang mati akhirnya Sukarno, karena Suharto dibacking CIA. Dalam kasus ini Sukarno tak berdaya, biarpun Cina dan Russia membacking dia, ternyata sorry aja, CIA jauh lebih sakti, dan kita tahu nasib Sukarno jatuh secara memalukan. Amerika dan CIA-nya tidak mau ada huru hara, semua pengambil alih kekuasaan se-bisa2nya dilakukan se-normal2 mungkin sesuai dengan hukum yang berlaku, tujuannya agar segala yang sudah berjalan jangan malah macet dan hancur semuanya sehingga ngebangunnya jadi lebih mahal. Sukarno udah bilang, revolusi butuh korban, dan susah untuk menyalahkan siapapun selain Sukarno untuk jatuhnya korban2 lebih dari 10 juta hanya dalam waktu 6 bulan. Berita dunia yang dikuasai Barat Cuma menulis korban yang jatuh hanya 5000 jiwa, kemudian diralat oleh Suharto katanya korban yang jatuh 10 ribu jiwa, kemudian diralat lagi gara2 Australia bilang korban yang jatuh lebih dari 100 ribu, maka Suharto mengaku korbannya hingga 200 ribu, barulah setelah Suharto berkuasa selama 20 tahun, kembali Amerika memerintahkan Suharto mundur tapi Suharto menggunakan langkah bandel melawan seperti Sukarno, maka berita disebarkan Cornel University bahwa korban2 yang jatuh sekitar 2 juta jiwa. Tapi saya yang melakukan ekspedisi langsung keseluruh Jawa, rata2 paling sedikit separuh penduduk hilang disetiap kampung atau desa, sehingga bisa diprediksi bahwa jumlah korban PASTI diatas 10 juta jiwa, tidak mungkin dibawah angka ini. Bayangin ya, jumlah korban perang dunia kedua yang berlangsung hampir 10 tahun berjumlah 15 juta jiwa, dan itupun mayoritas militer, dan yang jadi tertuduh adalah Hitler dan Jepang. Dunia waktu itu heboh, marah besar, Hitler dan Jepang jadi penjahat perang. Lhaaaa... di Indonesia cuma 6 bulan jatuh korban lebih dari 10 juta jiwa dan korban2nya sama sekali bukan militer, dalam keadaan damai bukan situasi perang. Ini benar2 paling mengerikan lebih mengerikan dari Hitler dan Jepang. Kejahatan kemanusiaan yang paling akbar melebihi kejahatan pembantaian Yahudi yang dilakukan Muhammad dizaman dulu. Ternyata Indonesia yang belajar dari nabi Muhammad berhasil melaksanakan Sunnah nabi dengan membantai lebih dari 10 juta manusia yang dianggapnya kafir. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Menurut berbagai sumber, baik lawan maupun kawan Soekarno, > Surat Perintah 11 Maret itu memang ada. Antara lain seperti > diungkap AH. Nasution: > > "...Memang ada hal-hal yang terus-menerus dipertanyakan orang > sampai sekarang. Dan tidak ada yang berterus-terang mengatakan > di mana Supersemar itu sekarang. Saya sebagai Ketua MPRS juga > membaca jelas naskah Supersemar itu." > [Eros Djarot, "Misteri Supersemar"; hal 42] > > Naskah SP 11 Maret yang resmi diedarkan pemerintah Orba > patut dicurigai keasliannya. Sebab, naskah yang dibuat dengan > mesin ketik biasa (tahun '60an) mestinya punya tampilan > seperti ini: > > http://3.bp.blogspot.com/-_tHy45hOs6s/Taunjfbw9CI/AAAAAAAAEPc/jnZp9Zu-D34/s320/teksproklamasitik1.jpg > > dan mustahil tampil dengan bentuk huruf seperti ini: > > http://1.bp.blogspot.com/-APUf-M73iSk/Tve5DDcnL-I/AAAAAAAABK4/U_2Z2H-pLoo/s1600/Naskah+Asli+dan+Isi+Supersemar.jpg > > Lagi pula, sungguh aneh jika dalam sebuah surat resmi > nama 'Soekarno' dan 'Soeharto' (ejaan lama) tertulis > sebagai "SUKARNO" dan "SUHARTO". > > > - > > Soal kudeta, silakan simpulkan sendiri berdasarkan komentar > orang yang membantu Soeharto mengepung Istana Merdeka untuk > menangkap Waperdam I : > > .:: Ketika ditanya, setelah keamanan pulih, haruskah > kewenangan itu dikembalikan kepada Bung Karno? > Kemal Idris menjawab, "Iya, cuma sampai di situ saja, > tidak berarti dia (Soeharto) mengambilalih kekuasaan. > Jadi setelah keamanan bisa dipulihkan, kekuasaan itu > harus dikembalikan kepada Bung Karno." > [Manai Shopiaan, "Kehormatan Bagi Yang Berhak"; hal 146] > > .:: Pada pukul 23.00 malam, ketiga jenderal itu kembali > ke Kostrad dengan membawa surat dari Bung Karno, yang > isinya melimpahkan kekuasaan kepada Pak Harto. Saya > sempat membaca surat itu, yang memberikan kekuasaan > kepada Pak Harto untuk bertindak mengamankan situasi. > Setelah tugas dilaksanakan, kekuasaan dikembalikan > kepada Bung Karno sebagai presiden RI. Surat itu dikenal > dengan nama Supersemar." > [Kemal Idris, "Bertarung Dalam Revolusi"; hal 187] > > > Komentar pengikut Soeharto itu terbukti sejalan juga dengan > komentar orang yang akan ditangkapnya (Waperdam I) : > > .:: Soebandrio, yang waktu itu ikut membaca bahkan ikut > mengoreksi naskah Supersemar, membenarkan adanya poin > yang antara lain menyebut "dikembalikan". "Ya, ada, ada itu. > Saya enggak tahu kenapa dihilangkan. Tapi yang pasti kata- > kata itu memang ada," katanya. > [Eros Djarot, "Supersemar Palsu"; hal 46] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
