Asyik juga abis ujan begini nemu musmus lagi sendirian ngisepin jempol kakinya.
Mong-omong mus, kalo SP 11 Maret itu "sebenarnya" berisi perintah untuk nangkap Soeharto, mestinya yang bawa surat itu ke Soeharto (sekalian nangkap) bukan 3 jenderal AD itu dong yah, tapi Aidit atau Omar Dhani atau siapalah yang musuhan sama Soeharto. Mustahil juga musmus yang bawa, karena musmus kan tantenya.. Ya kan? --- "muskitawati" <muskitawati@...> wrote: > Sebenarnya kita tidak bisa berdebat kusir tentang palsu tidaknya > super semar, atau berdebat masalah apakah Suharto kudeta atau > tidak. Perdebatan2 semacam begitu sama sekali tidak mengungkapkan > keadaan yang sebenarnya pada waktu itu. > > Jadi disini sekedar saya kasih gambaran, bahwa ekonomi RI waktu itu > betul2 hancur luar biasa, bahkan lebih parah dari Gaza yang > diblokade sekarang ini. Listrik semuanya mati, yang nyala itu cuma > dirumah pejabat dan militer, beras hanya dipunyai pegawai negeri > dari pembagian pemerintah, kain blacu pun enggak ada, untuk bikin > baju dan celana ada pembagian di koperasi yang jatah setiap > keluarga dipasung dan cuma satu merek yaitu RATATEX, minyak goreng > cuma boleh sebotol dan itupun ngantrinya sehari penuh. Busung > lapar ditemukan di Karawang, Bekasi, Jawa Tengah dan diluar Jawa. > > Pokoknya yang saya ceritain itu cuma setitik aja karena yang > sebenarnya lebih parah dari itu, para pencoleng jangan ditanya > lagi. Jadi dengan kondisi tsb, janganlah debat2 lagi, semua orang > mengharapkan Sukarno cepat2 mati. Yang ditangkapin, diculik, > hilang mendadak lebih banyak daripada yang dilakukan Suharto, > tuduhan yang paling ditakuti masyarakat waktu itu adalah kontra > revolusi, dituduh subversi, dituduh kaki tangan imperialis, dituduh > manikebu, dan soal tuduhan2 untuk alasan ditangkap puluhan kali > lipat lebih banyak daripada dizaman Suharto. > > Koran2 dizaman Sukarno tidak boleh mengkritik sedikitpun juga, > bahkan cuma menyenggol sedikit aja langsung ditangkap, digebukin > sampai mati dipenjara. Dengarkan radio Malaysia ditangkap > sekeluarga, dipenjara, rumahnya disegel. Waaah... kalo saja anda2 > itu mau hidup disituasi seperti begitu barulah bisa mengerti kenapa > Super Semar boleh saja dipalsu. > > Orang enggak peduli apakah namanya itu kudeta atau peralihan yang > konstitusional, yang mempermasalahkan itu khan setelah Suharto > berhasil ambil alih dan membunuh mati Sukarno di RSGS, yang enggak > kebagian rezeki kemudian cuap2 bahwa itu kudeta tidak > konstitusional dlsb. > > Suharto boleh dianggap bangsat, tetapi sekali lagi saya ungkapkan > disini, Sukarno itu biang bangsat !!!! > > Jadi anda2 harus tahu dulu bahwa G30S itu cuma gerak tipu, > istilahnya pukulan di Barat tapi suaranya ada di Timur, dan > gebukannya baru terjadi di Utara, baru proses penghancurannya dari > arah selatan. > > Sukarno banyak akal tipunya, rakyat sangat takut, sejak diumumkan > adanya G30S, tidak ada koran atau rakyat yang berani berkomentar > !!! Bahkan Suharto juga takut ngomong, dia ciut nyalinya, jelas > dia bukan penggeraknya. Tidak ada orang Indonesia yang berani > melakukan gerakan seperti itu meskipun berpangkat jenderal yang > paling tinggi. > > Tujuan utama G30S adalah menculik Sukarno, sedangkan penculikan > jendral2 cuma gerak tipu saja. > > Tidak ada yang pernah menanyakan, apakah berhasil atau tidak > penculikan Sukarno itu. Tapi disini saya jelaskan, tujuan > penculikan Jendral adalah untuk membungkam gerakan militer yang > membela Sukarno, dan memberi kesempatan perwira2 dibawah untuk > bergerak dibawah perintah CIA. > > Jadi kalo penculikan jendral2 sukses besar, silahkan anda pikir > sendiri apakah berhasil atau tidaknya penculikan Sukarno. Memang > bukan tujuannya membunuh Sukarno, skenarionya, Sukarno didikte > untuk melakukan begini dan begitu setelah semua jendral2 pentingnya > dibunuh. Barulah Sukarno disuruh mengundurkan diri atas kemauannya > sendiri seperti Suharto. > > Tapi rupanya, meskipun Sukarno yang sudah berhasil diculik, > digertak, diancam, dan bahkan pembantaian jendral2 yang diculik > yang belum mati dilakukan di lubang buaya disaksikan Sukarno > sendiri, tapi Sukarno yang biasa licik pada kali ini juga mau > menggunakan langkah2 liciknya untuk melepaskan diri dari cengkraman > yang tidak terlihat rakyatnya, namun semua akal licik Sukarno kali > ini gagal. > > Niat Sukarno melepaskan diri secara per-lahan2 digagalkan, SP 11 > Maret yang semula oleh Sukarno mau dijadikan pemukul malah memukul > diri sendiri. Entah bagaimana caranya, yang pasti SP 11 Maret yang > aseli itu kemungkinan besar berisi penangkapan Jendral Suharto > untuk dipenjarakan, dan Suharto juga gerak cepat, Sukarno itu sudah > dipenjarakan di Istana Bogor, langsung SP 11 Maret itu diketik > ulang, isinya bukan untuk menangkap Suharto sebaliknya berisi > menyerahkan kekuasaan kepada Suharto. > > Begitulah, Suharto yang mulanya takut2, gara2 mau ditangkap Sukarno > akhirnya jadi nekad, prinsipnya "dia yang mati atau aku yang mati", > ya situasi begini jelas, yang mati akhirnya Sukarno, karena Suharto > dibacking CIA. Dalam kasus ini Sukarno tak berdaya, biarpun Cina > dan Russia membacking dia, ternyata sorry aja, CIA jauh lebih > sakti, dan kita tahu nasib Sukarno jatuh secara memalukan. > > Amerika dan CIA-nya tidak mau ada huru hara, semua pengambil alih > kekuasaan se-bisa2nya dilakukan se-normal2 mungkin sesuai dengan > hukum yang berlaku, tujuannya agar segala yang sudah berjalan > jangan malah macet dan hancur semuanya sehingga ngebangunnya jadi > lebih mahal. > > Sukarno udah bilang, revolusi butuh korban, dan susah untuk > menyalahkan siapapun selain Sukarno untuk jatuhnya korban2 lebih > dari 10 juta hanya dalam waktu 6 bulan. Berita dunia yang dikuasai > Barat Cuma menulis korban yang jatuh hanya 5000 jiwa, kemudian > diralat oleh Suharto katanya korban yang jatuh 10 ribu jiwa, > kemudian diralat lagi gara2 Australia bilang korban yang jatuh > lebih dari 100 ribu, maka Suharto mengaku korbannya hingga 200 > ribu, barulah setelah Suharto berkuasa selama 20 tahun, kembali > Amerika memerintahkan Suharto mundur tapi Suharto menggunakan > langkah bandel melawan seperti Sukarno, maka berita disebarkan > Cornel University bahwa korban2 yang jatuh sekitar 2 juta jiwa. > > Tapi saya yang melakukan ekspedisi langsung keseluruh Jawa, rata2 > paling sedikit separuh penduduk hilang disetiap kampung atau desa, > sehingga bisa diprediksi bahwa jumlah korban PASTI diatas 10 juta > jiwa, tidak mungkin dibawah angka ini. > > Bayangin ya, jumlah korban perang dunia kedua yang berlangsung > hampir 10 tahun berjumlah 15 juta jiwa, dan itupun mayoritas > militer, dan yang jadi tertuduh adalah Hitler dan Jepang. Dunia > waktu itu heboh, marah besar, Hitler dan Jepang jadi penjahat > perang. > > Lhaaaa... di Indonesia cuma 6 bulan jatuh korban lebih dari 10 juta > jiwa dan korban2nya sama sekali bukan militer, dalam keadaan damai > bukan situasi perang. Ini benar2 paling mengerikan lebih > mengerikan dari Hitler dan Jepang. Kejahatan kemanusiaan yang > paling akbar melebihi kejahatan pembantaian Yahudi yang dilakukan > Muhammad dizaman dulu. Ternyata Indonesia yang belajar dari nabi > Muhammad berhasil melaksanakan Sunnah nabi dengan membantai lebih > dari 10 juta manusia yang dianggapnya kafir. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Menurut berbagai sumber, baik lawan maupun kawan Soekarno, > > Surat Perintah 11 Maret itu memang ada. Antara lain seperti > > diungkap AH. Nasution: > > > > "...Memang ada hal-hal yang terus-menerus dipertanyakan orang > > sampai sekarang. Dan tidak ada yang berterus-terang mengatakan > > di mana Supersemar itu sekarang. Saya sebagai Ketua MPRS juga > > membaca jelas naskah Supersemar itu." > > [Eros Djarot, "Misteri Supersemar"; hal 42] > > > > Naskah SP 11 Maret yang resmi diedarkan pemerintah Orba > > patut dicurigai keasliannya. Sebab, naskah yang dibuat dengan > > mesin ketik biasa (tahun '60an) mestinya punya tampilan > > seperti ini: > > > > http://3.bp.blogspot.com/-_tHy45hOs6s/Taunjfbw9CI/AAAAAAAAEPc/jnZp9Zu-D34/s320/teksproklamasitik1.jpg > > > > dan mustahil tampil dengan bentuk huruf seperti ini: > > > > http://1.bp.blogspot.com/-APUf-M73iSk/Tve5DDcnL-I/AAAAAAAABK4/U_2Z2H-pLoo/s1600/Naskah+Asli+dan+Isi+Supersemar.jpg > > > > Lagi pula, sungguh aneh jika dalam sebuah surat resmi > > nama 'Soekarno' dan 'Soeharto' (ejaan lama) tertulis > > sebagai "SUKARNO" dan "SUHARTO". > > > > > > - > > > > Soal kudeta, silakan simpulkan sendiri berdasarkan komentar > > orang yang membantu Soeharto mengepung Istana Merdeka untuk > > menangkap Waperdam I : > > > > .:: Ketika ditanya, setelah keamanan pulih, haruskah > > kewenangan itu dikembalikan kepada Bung Karno? > > Kemal Idris menjawab, "Iya, cuma sampai di situ saja, > > tidak berarti dia (Soeharto) mengambilalih kekuasaan. > > Jadi setelah keamanan bisa dipulihkan, kekuasaan itu > > harus dikembalikan kepada Bung Karno." > > [Manai Shopiaan, "Kehormatan Bagi Yang Berhak"; hal 146] > > > > .:: Pada pukul 23.00 malam, ketiga jenderal itu kembali > > ke Kostrad dengan membawa surat dari Bung Karno, yang > > isinya melimpahkan kekuasaan kepada Pak Harto. Saya > > sempat membaca surat itu, yang memberikan kekuasaan > > kepada Pak Harto untuk bertindak mengamankan situasi. > > Setelah tugas dilaksanakan, kekuasaan dikembalikan > > kepada Bung Karno sebagai presiden RI. Surat itu dikenal > > dengan nama Supersemar." > > [Kemal Idris, "Bertarung Dalam Revolusi"; hal 187] > > > > > > Komentar pengikut Soeharto itu terbukti sejalan juga dengan > > komentar orang yang akan ditangkapnya (Waperdam I) : > > > > .:: Soebandrio, yang waktu itu ikut membaca bahkan ikut > > mengoreksi naskah Supersemar, membenarkan adanya poin > > yang antara lain menyebut "dikembalikan". "Ya, ada, ada itu. > > Saya enggak tahu kenapa dihilangkan. Tapi yang pasti kata- > > kata itu memang ada," katanya. > > [Eros Djarot, "Supersemar Palsu"; hal 46] > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
