Sangat tergeletik dengan apa yang baru2 saja aku ikuti  di layar TV (One plus 
One) TV ABC 24, yang men-tayangkan
suatu wawancara antara wartawan dengan Ian Khama, presiden Botswana, negara 
landlocked di belahan Afrika bagian
selatan.
Mengikuti wawancara ini mau tidak mau aku terpesona, sekalian juga ter-ombang 
ambing, bagaimana pun juga pikiranku
melayang ke pelbagai persoalan yang menyangkut segala macam problim yang 
menyangkut pelbagai negara dikawasan
dua benua ini. (Afrika dan Asteng). Tidak terduga ter-"seret" juga pengalaman 
waktu ber-holiday baru2 ini ( December 2011),
  ke manca negara (Malaysia, Hongkong dan Macao)
 
Aku mulai dengan wawancara One plus One yang mengetengahkan suatu "keganjilan", 
boleh dibilang keganjilan, karena siapa
yang akan menyangka bahwa sebuah negara yang landlocked, Botswana yang  
berbatasan dengan gurun pasir Kalahari ini bisa punya prestasi
yang demikian hebat ditinjau dari perkembangan negara itu, yang dipimpin oleh 
Ian Khama. Sebagai berita sampingan, Presiden
Ian Khama adalah lulusan Sandhurst (akademi militer Inggris), jadi presiden ini 
juga sejajar soal status sedikitnya dengan, alm Suharto
dan juga SBY, sama2 dari angkatan bersenjata. Tapi dimana letak perbedaan-nya?
 
Dalam wawancara ini ditanyakan kenapa negara2 lain di kawasan- Afrika banyak 
mengalami kegagalan dalam mengangkat negara dan
rakyatnya menjadi negara yang maju dan kaya? Jawabnya dan dengan mengetengahkan 
contoh2nya, salah satunya yang masih urgent,
saat ini, yalah Libya yang dipimpin oleh Muamar Khadafi. Sekalipun Khadafi 
bilang bahwa dia berjoang untuk rakyatnya tapi kenyataan-nya
Khadafi mementingkan dirinya dan pamilinya dan memupuk hasil rampok-an hasil 
minyak a.l. bagi kepentingan dirinya sendiri. Juga problim kedua
yalah ,ujar Khama: bahwa pemimpin2 (kebanyakan) Afrika itu terlalu lama 
bercokol sebagai pemimpin dan alhasil misinya berubah jadi seorang
diktator with impunity. Contohnya yang masih urgent, tinjau Robert Mugabe dari 
Zimbabwe, dan yang terachir, diberitakan presiden dari Senegal
yang ngak mau turun dari kepresiden-nan walaupun masa dinasnya (2X) sudah 
terpenuhi. Alhasil aturan/hukum dan konstitusi di-koyak2!
 
Perlu diberitakan disini bahwa negara termaju, bahkan Tiongkok sekalipun  bisa 
dikesampingkan pabila melihat prestasi negara Botswana, negara dengan penduduk
kecil, sebuah negara land locked, tapi bisa memajukana negara dan rakyatnya. 
Pendapatan per capita rakyat Botswana mencapai $14,900,=/tahun.
Sumber daya alam melimpah, tambang berlian terutama dan sekarang diperkirakan 
tambang2 seperti minyak diduga ada di negara ini. Dan last but not
least negara ini hidup dibawah naungan filsafat demokrasi. Tidak ada 
presiden2nya yang nongkrong tanpa batasan waktunya, dan hukum dijalankan
dengan transparan. Tidak ada revenue dari hasil tambang2 itu masuk ke 
kantong-nya para pejabat.
 
Dengan ulasan berita tersebut, tinjaulah bagaimana perjalanan negara kita. Dari 
Presiden Sukarno yang digelari Presiden seumur hidup, diteruskan
oleh Pres.Suharto, berapa dasa warsa telah terbuang dan nilai2 demokrasi di 
koyak2. Kesampingkan Presiden2 selanjutnya, seperti Pres.Habibie, Gus Dur 
dan Megawati. Kiprahnya bisa dibilang insicnificant.   Dan mulailah memikirkan 
dan meninjau kepresidenan SBY. Apa yang telah dicapai? Walaupun era 
Suharto telah berlalu, tapi ciri2 chas era2 sebelumnya masih dikendalikan oleh 
pemerintah saat ini. Ciri2 era feodalisme, ciri2 dimana penggede bisa bertindak
semau gue. Alhasil negara yang punya filsafat Pancasila, UUD 45 dll sepertinya 
bisa disebut :...sebuah .....atribut ...window dressing!
 
Tanpa mengusik dan segala penghormatan aku limpahkan bagi pejoang2 kemerdekaan 
RI. Tapi ada satu fenomena yang tidak bisa di kesampingkan begitu
saja. Terutama pabila di sandingkan dengan misalnya perjoangan Vietnam, rupanya 
kemerdekaan RI ,lolos dari penjajahan agaknya kurang meyakinkan.
Terlalu "mudah", dan terutama kedua-nya (yang penting), paham feodalisme tetap 
mengayomi rakyat Indonesia sampai saat ini. Betapa tidak menyedihkan,
pemimpin (?) yang tidak berprestasi pun tetap nongkrong, bahkan yang terlibat 
korupsipun tetap ber-singgasana. Inilah fenomena sistim feodalisme.
Sistim majikan dan  budak tetap hidup subur dinegeri ini. Belum lagi bila kita 
mengetengahkan berapa juta bangsa dewek yang dibantai oleh rezim Suharto
demi mengabdi kepada majikan imperialis US dan berkelanjutan mendirikan basis 
jiwa korupsi, yang sampai sekarang tetap hidup subur.
 
Sebagai imbuhan tulisan ini yakni perjalanan ku ke manca negara. Yang menarik 
yalah pertemuan-ku dengan pemuda di Genting Highland Casino.
Pemuda ini kerja/belajar di Malaysia dalam  perhotelan, asal dari NTB tapi 
sekolah di Jogya.  Sempat ngomong sewaktu aku makan di restoran Casino. 
Dia cerita dalam acara menuntut ilmu soal akomodasi dijamin, uang saku dapat 
300 Ringit, tinggal sebulan disini ujarnya. Ngomong2 dia sempat ber-
keluh kesah kalau orang sini, maksudnya orang Malaysia sangat memandang rendah 
orang kita (Indonesia). Beberapa kali dia mendapat pertanyaan,
apakah  itu urusan malnutrition di negara kita, itu marak adanya?. Aku bilang, 
"kan ada benarnya bukan"? ..ah itu kan cuma berita di media Pak. Untuk tidak 
membuat
dia kecewa tidak aku lanjutin dengan pertanyaan (yang sebetulnya ada dalam 
pikiran-ku)..."kan banyak TKI,TKW kesini bukan"? Itu kan artinya
susah untuk cari penghidupan layak dinegari  sendiri.
 
Di Macao sempat aku bersua dengan 3 ibu, yang waktu itu, salah satu dari mereka 
bilang dengan gairahnya, bahwa setahun lagi ibu ini berhak mengajukan
permohonan izn tinggal. Ibu ini menceritakan pabila orang sudah 7 tahun kerja 
disini mereka berhak mendapatkan izin tinggal permanen. Lalu aku tanya
apakah mereka mau tinggal disini? "Habis gimana pak, di tanah air ngak ada 
pekerjaan"
Dalam hati aku menegur diri sendiri, ceritanya negara kita ini maju pesat, 
sampai2 LN ber-rebutan mau investasi di tanah air, per capita income ceritanya 
$3000, an 
 Dan disini aku temui warga dewek yang kluyuran cari nafkah di negara orang. 
 
Cerita sambilan, selama di Hongkong dan Macao, bahkan di Malaysia pun perkara 
angkutan umum (public transport) itu maju dan benar2 nyaman untuk digunakan.
Kebersihan di kota2 seperti Kuala Lumpur, Macao dan Hongkong bisa dibilang 
relatip bersih dan teratur ,soal pengaturan penangulangan sampah terorganisir.
Bahkan pabila anda sampai di Macao, HP anda, per sms,  akan diberi peringatan 
bahwa littering akan dikenakan denda 600dollar .
Pengalamanku, setiap malam hari aku jalan di promenade dari hotel ku(tempat 
nginap)  MGM,  ke Grand Lisboa, sepanjamg jalur pedestrian itu disemprot, 
disikat bersih.
Dalam hati kapan negara dan bangsa Indonesia ini punya kesungguhan untuk 
membenahi negaranya? Beberapa kali aku naik bus di Macao dan Hongkong,
semuanya serba mulus, apalagi soal ketepatan waktu, .....luar biasa, dan ngak 
ada bus yang berhenti se-enaknya sang sopir, semua teratur berhenti ya di halte
yang sudah ditentukan.
 
Sampailah  achir tulisan ini, himbauanku kepada bapak birokrat, kalau kirim 
orang mau study tour kirim saja ke Botswana, ngadep Presiden Ian Khama dan minta
adpis gimana membenahi negara. Jangan ke negara2 yang sudah maju, malah bikin 
bapaka kita frustrasi ,tanya/ selidik bagaimana negara bekas jajahan seperti 
Botswana bisa maju pesat. Sepertinya  ya ngak jauh beda sikonnya Botswana 
dengan Indonesia, sama2 punya SDA yang semarak, bedanya hanya penduduk secara 
kwantitas beda, dan Botswanna
tidak mempraktek-kan sistim feodal tapi menegakkan demokrasi dengan segala 
atributnya, seperti hak semua orang sama, hukum berlaku bagi semua
orang, itu bedanya dengan negara dewek yang carut marut/ deldel duwel dalam 
segala aspek negara dan birokratnya. 
 
Sebagai penutup, rupanya "kompas kehidupan" , terutama bagi para penggede 
negara kita sudah tidak jalan, alhasil perjalanan bangsa dan negara kesasar,
ngak bertujuan, achrinya negara akan menemui target tujuan...negara akan jadi 
deldel duwel
 
Harry Adinegara

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke