BBM naik, maka harga makanan di Indonesia jg akan naik. Berarti, orang 
Indonesia itu tambah makmur, kata seorang super dungu, hehehe....
 
 

From: Sunny <[email protected]>
>To: [email protected] 
>Sent: Friday, March 9, 2012 12:00 AM
>Subject: [proletar] Rakyat Kian Terjepit
>
>
>  
>Ref: Rakyat terjepit bukan masalah urgen, yang penting dan diutamakan agar 
>penguasa bersuka ria dalam dunia bahagia, karena itulah harga mati NKRI.
>
>http://www.sinarharapan.co.id/content/read/rakyat-kian-terjepit/
>07.03.2012 11:48
>
>Rakyat Kian Terjepit
>Penulis : Faisal Rachman/Sulung Prasetyo/Vidi Batlolone/Ninuk Cucu Suwanti 
>
>(foto:dok/SH)
>JAKARTA — Pemerintah baru rencana akan menaikkan harga bahan bakar minyak 
>(BBM) pada 1 April yang diikuti dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 
>1 Mei 2012. Kondisi itu kian menyulitkan kehidupan keseharian masyarakat. 
>
>Sebut saja apa yang dikeluhkan sejumlah nelayan Lampung. Mereka menyatakan 
>resah atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi mulai 1 April 
>2012. 
>
>Kenaikan harga BBM itu akan berpengaruh terhadap membengkaknya biaya 
>operasional mereka selama melaut, kata Salim, salah seorang pemilik kapal 
>nelayan di Telukbetung Bandar Lampung, Rabu (7/3). Ia mengatakan, dengan harga 
>BBM sekarang, nelayan cukup kesulitan karena hasil tangkapan dan cuaca yang 
>tidak menentu. Kalau harga BBM naik, biaya operasional naik juga.
>
>Belakangan ini hasil tangkapan mereka kadang tidak sesuai dengan biaya yang 
>dikeluarkan. "Kalau BBM naik maka harga ikan juga pasti ikut naik, tapi apakah 
>pembeli mau mengerti dengan keadaan ini," katanya.
>
>Ia menyebutkan, nelayan setempat membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan 
>Bakar Nelayan (SPBN) Lempasing dengan harga normal. Jika stok solar di SPBN 
>itu habis maka nelayan terpaksa membelinya di pengecer dengan harga lebih 
>mahal Rp 1.000 per liter. 
>
>"Kalau di SPBN harganya normal, Rp 4.500 per liter, tapi jika di pengecer 
>harganya Rp 5.500 per liter," katanya. Saat ini, sekali melaut selama seminggu 
>ia menghabiskan dana paling sedikit Rp 6 juta.
>
>"Untuk membeli bahan bakar sebanyak 500 liter saja sudah Rp 2,25 juta, belum 
>lagi biaya belanja logistik untuk kebutuhan selama di laut. Jadi, saya harus 
>menyiasati dengan menaikkan harga tangkapan agar tidak merugi," ia melanjutkan.
>
>Menurut dia, jika harga solar naik menjadi Rp 6.000 per liter, biaya melaut 
>dalam seminggu akan mencapai Rp 8 juta.
>
>Hal senada diungkapkan pemilik kapal lainnya, Rustono. Ia mengatakan, rencana 
>kenaikan harga BBM itu akan mengganggu aktivitas mereka untuk mencari ikan. 
>"Jika BBM naik maka biaya beban kami akan naik juga. Harga ikan pun pasti ikut 
>naik," katanya saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gudanglelang 
>Telukbetung.
>
>Ia mengatakan kesulitan mencari tambahan modal jika harga BBM naik. "Biasanya 
>saya sekali melaut harus mengeluarkan dana sekitar delapan sampai sembilan 
>juta rupiah," kata dia menjelaskan.
>
>Sementara itu, sejumlah warga Lampung lainnya menyatakan lebih memilih 
>kenaikan harga BBM daripada pembatasan penjualan solar dan Premium.
>
>"Lebih baik naik daripada sulit mendapatkan Premium," kata salah seorang warga 
>setempat, Tobing.
>
>Sementara itu, harga cabai merah biasa di pasar tradisional Kabupaten dan Kota 
>Cirebon, Jawa Barat, Rabu, naik menjadi Rp 21.000 per kilogram, padahal 
>beberapa hari sebelumnya kurang Rp 13.000 per kg.
>
>Suwarno, pedagang cabai merah lain di Jagastru, mengatakan, kenaikan harga 
>cabai merah di daerah Pantura Cirebon masih dipicu hambatan pengiriman dari 
>petani. Kondisi itu akan kian buruk jika harga BBM naik juga pada 1 April 2012.
>
>Riwad, petani setempat menuturkan, budi daya cabai merah di Kabupaten Cirebon 
>dan Brebes berhasil baik sehingga harga cabai merah stabil.
>
>Seiring dengan peningkatan produksi dan naiknya harga jual, sejumlah petani 
>bawang merah mulai melirik menanam cabai karena menguntungkan.
>
>Biaya Tambahan
>
>Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir kepada SH, 
>Rabu mengatakan, menjelang kenaikan harga BBM kebutuhan harga sembako 
>diprediksi tetap akan mengalami kenaikan. Dia menjelaskan, kenaikan tersebut 
>tergantung dari biaya tambahan yang dikeluarkan petani untuk menggarap lahan 
>pertaniannya, termasuk juga biaya BBM.
>
>“Jika si petani mengeluarkan biaya tambahan sampai 10 persen, otomatis harga 
>produk pertaniannya ikut naik 10 persen,” katanya.
>
>Dia menambahkan, untuk saat ini kenaikan harga belum terlihat cukup tinggi, 
>pasalnya untuk semua jenis produk pertanian saat ini sedang mengalami masa 
>panen.
>
>Menurutnya, sekalipun panen raya sudah datang, harga produk pertanian masih 
>bisa dikategorikan yang cukup tinggi pada tahun ini. Untuk komoditas 
>hortikultura seperti bawang, cabai, dan tomat saja, kata Winarno, masih 
>merupakan yang tertinggi pada tahun ini.
>
>“Cabai merah keriting masih di tataran Rp 75.000 per kg, bawang merah masih 
>pada tataran Rp 30.000 per kg, pokoknya harga turun pada tataran 5 persen. 
>Namun ini masih terbilang harga yang tinggi, sebab musim panen bulan ini sudah 
>tiba,” ujarnya.
>
>Dia menjelaskan, penyebab utama kenaikan harga pertanian menjelang dan ketika 
>naiknya harga BBM, sering kali dipicu ulah pedagang yang mau mengambil untung 
>dari situasi tersebut.
>
>Ia mencontohkan, pedagang sering kali menginjak para petani dengan membiarkan 
>hasil panen mereka berlama-lama, sehingga pada akhirnya petani menjual dengan 
>terpaksa lantaran membutuhkan uang. Petani dipaksa menjual dengan harga murah, 
>selain itu harus menanggung beban biaya BBM untuk pengiriman produk 
>pertaniannya.
>
>Menurut Winarno, sekalipun panen raya untuk beras saat ini sedang berlangsung, 
>harga beras masih terbilang cukup tinggi, yakni Rp 5.000 per kg gabah kering 
>giling (GKG). 
>
>“Bulan November 2011 sampai Februari 2012, harga beras Rp 5.600 per kg GKG. 
>Ini merupakan harga paling tinggi dalam 10 tahun terakhir, namun pada Maret 
>ini turunnya hanya sedikit. Itu semua memang ada hubungannya dengan rencana 
>kenaikan harga BBM,” tuturnya. 
>
>Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Syahrul R 
>Sempurnajaya mengharapkan pemerintah memantau lebih cermat perkembangan harga 
>gabah dan beras di sentra-sentra produksi.
>
>Menjelang panen raya seperti sekarang ini seharusnya terjadi koreksi atau 
>penurunan harga. Jika penurunan harga tidak terjadi, mengindikasikan kondisi 
>anomali. Ada faktor lain seperti aksi spekulan menjelang kenaikan harga BBM 
>dan TDL. 
>
>Dari hasil pemantauan Bappebti, harga gabah di sentra-sentra produksi di Jawa 
>dalam tiga bulan terakhir ada yang turun, ada juga yang naik. Pada saat di 
>sentra produksi Jatim harga beras turun, di sentra produksi Jawa Barat justru 
>mengalami kenaikan. 
>
>Harga gabah jenis medium di sentra produksi di Jombang Jatim 1 Maret 2012 Rp 
>3.950, harga beras pada 6 Maret masih sama. Sebagai acuan, pada 1 Januari 2012 
>di Jombang harga gabah Rp 4.000 per kg. Harga gabah di Banyumas 1 Maret Rp 
>5.150 dan pada 6 Maret masih sama.
>
>Sebagai acuan pada 1 Januari, di Banyumas harga gabah Rp 5.000 per kg.
>Harga beras rata-rata medium di sentra produksi Indramayu pada 1 Maret Rp 
>8.425 per kg, sedangkan pada 6 Maret Rp 8.175 per kg. Sebagai acuan pada 1 
>Januari di Indramayu harga beras Rp 7.675. 
>
>Pada medio Februari, harga beras di Indramayu untuk jenis IR64 kualitas 1 
>diperdagangkan pada harga Rp 8.425, kualitas 2 Rp 7.775 dan kualitas 3 pada 
>harga Rp 7.700.
>
>Di Indonesia, harga beras telah meningkat sejak Mei 2011. Pada Januari, 
>kenaikan harga beras mencapai tingkat rekor baru rata-rata Rp 10.439 (sekitar 
>US$ 1,10) per kg, sekitar 13 persen lebih tinggi dibanding Januari 2010 satu 
>tahun sebelumnya. 
>
>Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa setelah membuka secara resmi 
>Rapat Kerja Kementerian Perdagangan yang digelar di salah satu hotel 
>berbintang di Jakarta, Rabu pagi ini mengatakan, kebijakan penyesuaian harga 
>bahan bakar minyak bersubsidi akan menyelamatkan kondisi perekonomian nasional 
>secara keseluruhan, sehingga hal tersebut mutlak dilakukan.
>
>Ditentang
>
>Sejumlah kalangan menolak rencana kenaikan harga BBM dan TDL dalam waktu dekat 
>ini karena malah hanya membebani rakyat. Pemerintah seharusnya mencari sumber 
>pendanaan subsidi dari sumber-sumber lain, yang kini bocor dikorupsi ketimbang 
>menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 
>
>Demikian diungkapkan puluhan organisasi massa yang bersatu dalam Komite Aksi 
>Tolak Kenaikan Harga BBM dan TDL, di depan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) 
>Jakarta, Selasa (6/3). 
>
>“Untuk mengatasi membengkaknya subsidi, pemerintah bisa mengambil jalan lain 
>yang pada intinya tidak merugikan mayoritas rakyat, seperti memberantas 
>korupsi, yang kini diperkirakan telah menyusutkan dana APBN hingga 30 persen,” 
>ujar Ramses D Aruan dari Serikat Buruh Migran Indonesia. 
>
>Fraksi PDI Perjuangan melalui Maruarar Sirait di Gedung DPR Senayan, Jakarta, 
>Selasa siang menyatakan, pihaknya menolak rencana kenaikan harga BBM yang 
>diusulkan pemerintah. Ini karena pemerintah seharusnya bisa melakukan 
>efisiensi melalui anggaran di eksekutif, legislatif dan yudikatif yang tak 
>perlu. 
>
>"Kenaikan BBM, PDI Perjuangan tolak. Alasannya, yang harus kita lakukan untuk 
>efisiensi anggaran ada yang lain seperti efisiensi anggaran di eksekutif, 
>legislatif dan yudikatif. Program yang tidak perlu tidak usah (dianggarkan), 
>cukup biaya rutin yang berdampak langsung ke pelayanan publik," katanya.
>
>Sikap serupa diperlihatkan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR. 
>Sekretaris Jenderal PKS, Anis Matta menyatakan, partainya menolak rencana 
>pemerintah menaikkan harga BBM. PKS berpendapat kenaikan harga BBM merupakan 
>cara pemerintah mengalihkan beban pengelolaan fiskal dari anggaran negara 
>kepada rakyat. 
>
>Menurutnya, kenaikan harga BBM sebetulnya bisa diantisipasi. “Masih banyak 
>pilihan yang bisa dilakukan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM,” 
>katanya.
>
>Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo seusai menghadiri rapat kerja 
>dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa siang mengatakan, mulai dengan APBN-P 
>2012 ini, pemerintah meminta diberi kewenangan lebih besar untuk menentukan 
>harga BBM. 
>
>Jika sebelumnya pemerintah baru bisa menaikkan harga BBM tatkala harga minyak 
>dunia lebih tinggi 10 persen dari ICP yang ditentukan, pada APBN-P 2012 
>pemerintah ingin agar ketika harga minyak dunia naik 5 persen dari asumsi ICP, 
>harga BBM bersubsidi bisa dinaikkan.
>
>Menkeu menegaskan kenaikan lanjutan hanya dilakukan bila kenaikan Rp 1.500 per 
>liter saat ini tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga minyak dunia. "Itu 
>kami harus pegang karena kalau tidak akan menjadi sangat sulit kalau mesti 
>melalui proses APBN-P baru dilakukan perubahan harga BBM bersubsidi," ucapnya. 
>(CR-27/CR-28/Ant)
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke