http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=37505

RABU, 21 Maret 2012 | 

Berani “Menambah Musuh”
Penulis : Kristanto Hartadi*

Dalam pertemuan informal dengan teman-teman wartawan, salah seorang rekan 
berseloroh kepada seorang pemimpin redaksi mingguan: 

“Wah, lu tiap minggu selalu nambah musuh, ya?” Pemimpin mingguan itu hanya 
tertawa, karena seloroh itu berarti pujian untuk laporan investigasi yang kerap 
dilancarkannya.

Meski tertawa, saya yakin teman itu sadar bahwa ancaman itu ada, karena pihak 
yang dibongkar kebobrokannya berpotensi marah dan menyerangnya atau para 
wartawannya. Karena intimidasi, teror dan serangan sudah kerap terjadi, namun 
hal itu tidak membuatnya surut atau mengadu kepada pembaca. 

Sebuah kenyataan Indonesia kini “bukan tempat aman” bagi wartawan. Data yang 
dikumpulkan Aliansi Jurnalis Independan (AJI) menyebutkan tahun 2010 tercatat 
ada 51 kasus kekerasan terhadap pers, lima di antaranya pembunuhan terhadap 
wartawan. Pada 2011 terdapat 85 kasus kekerasan terhadap wartawan, termasuk di 
antaranya penusukan, penyerangan kantor redaksi, penculikan, dan penyekapan.

Demi meningkatkan upaya perlindungan terhadap wartawan, Dewan Pers mencoba 
menyusun standar penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan, sehingga 
para insan pers paham langkah yang harus ditempuh bila ada ancaman atau tindak 
kekerasan.

Langsung Tangkap
Ketika berbicara kepada pers dari kediaman Ketua Umum Dewan Pembina Partai 
Demokrat di Cikeas, Minggu (18/3) malam, Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga 
Presiden RI, mensinyalir ada yang ingin berbuat makar, menjatuhkannya sebelum 
2014, bahkan ada ancaman terhadap keselamatan dirinya dan keluarga. 

Menurut hemat saya, kalau ada pihak yang mengancam keselamatan presiden 
seyogianya langsung diperintahkannya untuk ditangkap dan bukannya diumumkan 
kepada publik. Selama ini kalau ada “ancaman terhadap presiden” tidak pernah 
disebut siapa pengancam itu, atau memang tidak pernah ada? 
Detasemen 88 Antiteror, Minggu (18/3), beraksi menewaskan lima orang yang 
diduga teroris dalam insiden baku tembak di dua lokasi di Bali. Disebutkan, 
kelima kawanan itu sudah diintai minimal sebulan. Jadi, kalau ada pihak-pihak 
yang mengancam keselamatan presiden dan keluarganya, pastilah juga mudah 
dideteksi oleh satuan antiteror dan intelijen kita.

Merupakan sebuah keniscayaan, semakin tinggi jabatan dan tanggung jawab 
seseorang, semakin besar pula risikonya. Misalnya, Amerika Serikat adalah 
negara yang banyak merenggut nyawa presidennya. Ada empat presiden yang 
terbunuh yakni Abraham Lincoln (1865), James Garfield (1881), William McKinley 
(1901), dan James F Kennedy (1963). 

Presiden Ronald Reagan (1981) selamat dari percobaan pembunuhan, meski terkena 
tembakan di dadanya. Hal sama dialami Presiden Theodore Roosevelt, Franklin 
Roosevelt, Harry Truman, dan Gerald Ford. 

Mereka juga pernah mengalami percobaan pembunuhan, namun nyawanya selamat. 
Namun, tidak ada catatan para pemimpin Amerika itu mengadu kepada rakyatnya 
bahwa nyawanya terancam, karena itu adalah risiko jabatan.

Karenanya, pengamanan terhadap presiden Amerika Serikat adalah paling ketat di 
dunia. Pengamanan terhadap presiden RI pun cukup ketat, dan bikin repot banyak 
pihak yang terdampak tak langsung.

Pamor Merosot?
Seorang purnawirawan jenderal bintang empat, yang masih aktif dalam kancah 
politik, mengeluhkan pamor militer Indonesia yang selama ini dicitrakan sebagai 
tegas dan berani kini luntur, bahkan terbukti orang sipil seperti M Jusuf Kalla 
ternyata terbukti lebih tegas dan berani mengambil risiko. Saya menduga, apakah 
pemimpin masa depan nanti sebaiknya dari kalangan berlatar belakang non-militer?
Bisa jadi pernyataan sang pensiunan jenderal itu ada benarnya bisa juga keliru, 
karenanya harus diuji lagi. Karena buat saya keberanian itu banyak macam dan 
ragamnya. Namun, Selasa (20/3) pagi ini saya menyaksikan unjuk contoh 
keberanian seorang pemimpin. 

Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang berlatar belakang wartawan, ngamuk 
“mengobrak-abrik” dua gardu pembayaran yang kosong dari empat gardu di gerbang 
Tol Slipi menuju Semanggi, di saat jam sibuk di pagi hari. 

Kemarahannya dipicu panjangnya antrean, karena dia sudah menginstruksikan 
kepada pemimpin BUMN operator jalan tol agar panjang antrean maksimal lima 
mobil, dan itu tidak dijalankan. 

Dahlan berani tidak populer di jajaran BUMN yang memang menjadi tanggung 
jawabnya. 
Namun, bukan hanya di gardu tol dia berani, hal yang lebih besar pernah 
dibuktikannya ketika membereskan kebobrokan di PLN sehingga kondisinya kini 
jauh lebih baik. Dia bertindak tanpa gentar sesuai dengan tanggung jawab dan 
kewenangan yang ada di tangannya, karena memang itu harus digunakan. Tanpa 
mengeluh. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke