Hehehe... kalo siTeddy dan suryana itu prinsipnya adalah ngejilat pantat 
penguasa ga peduli mereka itu adalah bajingan spy dpt keuntungan pribadi.
 
 

From: Sunny <[email protected]>
>To: [email protected] 
>Sent: Thursday, March 22, 2012 7:34 AM
>Subject: [proletar] Berani “Menambah Musuh
>
>
>  
>http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=37505
>
>RABU, 21 Maret 2012 | 
>
>Berani “Menambah Musuh”
>Penulis : Kristanto Hartadi*
>
>Dalam pertemuan informal dengan teman-teman wartawan, salah seorang rekan 
>berseloroh kepada seorang pemimpin redaksi mingguan: 
>
>“Wah, lu tiap minggu selalu nambah musuh, ya?” Pemimpin mingguan itu hanya 
>tertawa, karena seloroh itu berarti pujian untuk laporan investigasi yang 
>kerap dilancarkannya.
>
>Meski tertawa, saya yakin teman itu sadar bahwa ancaman itu ada, karena pihak 
>yang dibongkar kebobrokannya berpotensi marah dan menyerangnya atau para 
>wartawannya. Karena intimidasi, teror dan serangan sudah kerap terjadi, namun 
>hal itu tidak membuatnya surut atau mengadu kepada pembaca. 
>
>Sebuah kenyataan Indonesia kini “bukan tempat aman” bagi wartawan. Data yang 
>dikumpulkan Aliansi Jurnalis Independan (AJI) menyebutkan tahun 2010 tercatat 
>ada 51 kasus kekerasan terhadap pers, lima di antaranya pembunuhan terhadap 
>wartawan. Pada 2011 terdapat 85 kasus kekerasan terhadap wartawan, termasuk di 
>antaranya penusukan, penyerangan kantor redaksi, penculikan, dan penyekapan.
>
>Demi meningkatkan upaya perlindungan terhadap wartawan, Dewan Pers mencoba 
>menyusun standar penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan, sehingga 
>para insan pers paham langkah yang harus ditempuh bila ada ancaman atau tindak 
>kekerasan.
>
>Langsung Tangkap
>Ketika berbicara kepada pers dari kediaman Ketua Umum Dewan Pembina Partai 
>Demokrat di Cikeas, Minggu (18/3) malam, Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga 
>Presiden RI, mensinyalir ada yang ingin berbuat makar, menjatuhkannya sebelum 
>2014, bahkan ada ancaman terhadap keselamatan dirinya dan keluarga. 
>
>Menurut hemat saya, kalau ada pihak yang mengancam keselamatan presiden 
>seyogianya langsung diperintahkannya untuk ditangkap dan bukannya diumumkan 
>kepada publik. Selama ini kalau ada “ancaman terhadap presiden” tidak pernah 
>disebut siapa pengancam itu, atau memang tidak pernah ada? 
>Detasemen 88 Antiteror, Minggu (18/3), beraksi menewaskan lima orang yang 
>diduga teroris dalam insiden baku tembak di dua lokasi di Bali. Disebutkan, 
>kelima kawanan itu sudah diintai minimal sebulan. Jadi, kalau ada pihak-pihak 
>yang mengancam keselamatan presiden dan keluarganya, pastilah juga mudah 
>dideteksi oleh satuan antiteror dan intelijen kita.
>
>Merupakan sebuah keniscayaan, semakin tinggi jabatan dan tanggung jawab 
>seseorang, semakin besar pula risikonya. Misalnya, Amerika Serikat adalah 
>negara yang banyak merenggut nyawa presidennya. Ada empat presiden yang 
>terbunuh yakni Abraham Lincoln (1865), James Garfield (1881), William McKinley 
>(1901), dan James F Kennedy (1963). 
>
>Presiden Ronald Reagan (1981) selamat dari percobaan pembunuhan, meski terkena 
>tembakan di dadanya. Hal sama dialami Presiden Theodore Roosevelt, Franklin 
>Roosevelt, Harry Truman, dan Gerald Ford. 
>
>Mereka juga pernah mengalami percobaan pembunuhan, namun nyawanya selamat. 
>Namun, tidak ada catatan para pemimpin Amerika itu mengadu kepada rakyatnya 
>bahwa nyawanya terancam, karena itu adalah risiko jabatan.
>
>Karenanya, pengamanan terhadap presiden Amerika Serikat adalah paling ketat di 
>dunia. Pengamanan terhadap presiden RI pun cukup ketat, dan bikin repot banyak 
>pihak yang terdampak tak langsung.
>
>Pamor Merosot?
>Seorang purnawirawan jenderal bintang empat, yang masih aktif dalam kancah 
>politik, mengeluhkan pamor militer Indonesia yang selama ini dicitrakan 
>sebagai tegas dan berani kini luntur, bahkan terbukti orang sipil seperti M 
>Jusuf Kalla ternyata terbukti lebih tegas dan berani mengambil risiko. Saya 
>menduga, apakah pemimpin masa depan nanti sebaiknya dari kalangan berlatar 
>belakang non-militer?
>Bisa jadi pernyataan sang pensiunan jenderal itu ada benarnya bisa juga 
>keliru, karenanya harus diuji lagi. Karena buat saya keberanian itu banyak 
>macam dan ragamnya. Namun, Selasa (20/3) pagi ini saya menyaksikan unjuk 
>contoh keberanian seorang pemimpin. 
>
>Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang berlatar belakang wartawan, ngamuk 
>“mengobrak-abrik” dua gardu pembayaran yang kosong dari empat gardu di gerbang 
>Tol Slipi menuju Semanggi, di saat jam sibuk di pagi hari. 
>
>Kemarahannya dipicu panjangnya antrean, karena dia sudah menginstruksikan 
>kepada pemimpin BUMN operator jalan tol agar panjang antrean maksimal lima 
>mobil, dan itu tidak dijalankan. 
>
>Dahlan berani tidak populer di jajaran BUMN yang memang menjadi tanggung 
>jawabnya. 
>Namun, bukan hanya di gardu tol dia berani, hal yang lebih besar pernah 
>dibuktikannya ketika membereskan kebobrokan di PLN sehingga kondisinya kini 
>jauh lebih baik. Dia bertindak tanpa gentar sesuai dengan tanggung jawab dan 
>kewenangan yang ada di tangannya, karena memang itu harus digunakan. Tanpa 
>mengeluh. 
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke