Ref: Agaknya penulis artikel belum mengetahui tentang candi-candi
di India yang adalah World Heritage , silahkan lihat video dengan click pada
situs ini :
http://www.youtube.com/watch?v=Qa-SPkOoBIU&feature=endscreen&NR=1
Anggota-anggota DPR yang suka melihat video porno waktu persidangan
sebaiknya juga mengadakan studi banding ke India untuk menambah pengetahuan dan
barangkali juga bisa memperbaiki tehnik surga dunia.
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/31/ArticleHtmls/Apa-Guna-Satgas-Antipornografi-31032012011009.shtml?Mode=0#
Apa Guna Satgas Antipornografi
Agus Dermawan T., ESAIS KEBUDAYAAN, IKUT MENULIS BUKU SILENT
SUBVERSIVE EROTIKA DALAM SENI
Ternyata, di negeri-negeri yang meletakkan seksualitas
sebagai sesuatu yang “terbuka”, pornografi tidak pernah tercatat sebagai
sesuatu yang mengganggu negara dan bangsa.
Presiden Susilo Bambang YudhoP yono tiba-tiba membentuk satu
an tugas lagi. Satgas itu bernama Gugus Tugas Pencegahan dan Pe nanganan
Pornografi, yang dituangkan melalui Peraturan Presiden Nomor 25/2012.
Pembentukan satgas yang diketuai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung
Laksono ini dianggap sebagai amanat dari Undang-Undang Nomor 44/2008 tentang
pornografi, dengan tugas pokok mengkoordinasikan upaya pencegahan dan
penanganan pornografi.
Ada perasaan risi mendengar gagasan pembentukan satgas yang
tidak penting itu. Sebab, sesungguhnya urusan pornografi atau erotisme cukup
ditangani oleh keluarga.Yang sedikit lebih besar bisa diurusi oleh lingkungan
dan lembaga kecil saja, misalnya Lembaga Sensor Film untuk sektor pertunjukan
film. Sedangkan kejahatan seksual akibat nafsu liar di rimbun perdu dan
jalanan, serahkan kepada satpam dan kepolisian.
Alasan pereduksian fungsi satgas itu adalah, pornografi di
Indonesia masih jauh dari kategori berbahaya. Kasus pornografi nun di bawah
jahatnya narkoba. Dan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bencana
korupsi yang dari hari ke hari semakin ugal-ugalan. Itu sebabnya, jajak
pendapat Tempo.co mencatat bahwa 85,39 persen responden menganggap Satgas
Antipornografi tak efektif, tidak perlu ada.
Tapi, dari perkara pornografi yang sepele tersebut, saya
sekonyong terangsang untuk membuka catatan yang mengungkap fakta. Ternyata, di
negeri-negeri yang meletakkan seksualitas sebagai sesuatu yang “terbuka“,
pornografi tidak pernah tercatat sebagai sesuatu yang mengganggu negara dan
bangsa. Dan seksualitas yang tidak dengan munafik dibungkus-bungkus justru
membawa masyarakat jadi tahu mana jorok dan mana yang tabu. Belanda dan Jepang
merupakan contoh tulen negeri “seks terbuka“itu.
Museum seks Di Amsterdam, Belanda, di sekitar wilayah Damrak,
berdiri Museum der Erotiek Amsterdam, atau Sex Museum, alias Venus Temple.
Museum ini berisi segala benda yang semuanya berkaitan dengan seks.
Ada yang berseni, seperti porselen-porselen abad ke-19 yang
indah. Juga tongkat perunggu, plakat tembaga, cincin, teropong, yang semuanya
mengacu ke bentuk sesuatu. Di dalam gedung bertingkat itu ada pula patung
phallus (kelamin lelaki) dari zaman Roma. Kontingen Indonesia di wakili ukiran
gading Bali dan gambar “porno“yang dicoretkan di tabung bambu.
Aktivitas museum ini bersamaan dengan beroperasinya belasan
sex shop. Sementara itu, tak jauh dari situ pada pukul 19.00 sampai 02.00
dinihari berpentas Casa Rosso Erotic Show, panggung paling terkenal di Belanda.
Segenap warga Belanda dan wisatawan mancanegara merespons pentas ini dengan
sikap biasa-biasa saja.Yang pingin nonton, ya, nonton.Yang tidak, ya, tidak.
Dalam banyak kunjungan ke Belanda, saya hanya menonton sekali saja. Sete lah
itu, bosan. Menariknya, tanpa dijaga satgas yang dibentuk Ratu, pengunjung yang
datang tersaring dengan sendirinya.
Lalu dunia tahu, kejahatan seksual di Belanda salah satu yang
menempati urutan paling rendah di daratan Eropa.
Pentas erotik terbuka ala Belanda sudah berlangsung sejak
berakhirnya Perang Dunia II. Pertunjukan ini, lantaran dianggap sebagai
“pencair agresivitas“, pelan-pelan menular ke Jepang. Di Tokyo sampai Osaka,
pentas erotisme digelar di gedung-gedung khusus, dan punya jadwal main yang
tetap. Di dalam gedung, para penonton memang heboh. Namun, begitu keluar dari
gedung, mereka pulang dengan tenang, bagai baru menonton bioskop saja.
Di negeri bangsa egaliter seperti Jepang, presentasi erotisme
tampaknya sudah menjadi bagian dari peradaban kota. Pertunjukan erotik dianggap
sebagai katarsis, atau pelepasan yang normal, dari kepenatan hidup sehabis
kerja. Cerita figur di bawah ini menegaskan realitas itu.
Rin Sakuragi, kini 22 tahun, mengaku telah membintangi 30
film porno. Dalam sebulan ia menghasilkan satu film. Rin mulai main film sejak
usia 18 tahun. Da lam sebuah wawancara di televisi, ia menjelaskan bahwa ayah
dan ibunya mendukung profesinya, meski sebelumnya kurang menyetujui. “Erotisme
adalah kebutuhan dasar, tapi khusus bagi yang perlu,“tuturnya. Data lantas
menyebutkan bahwa kejahatan seksual di Jepang nyaris tak masuk hitungan.
Rin Sakuragi pernah diundang ke Indonesia untuk ikut main
dalam film Suster Ngesot. Bintang porno Jepang lain yang pernah membintangi
film Indonesia adalah Miyabi, dalam film Menculik Miyabi. Penonton Indonesia
tentu kecele oleh film ini, lantaran Miyabi ternyata tidak buka baju sama
sekali. Musababnya, sebelum diproduksi, sosok Miyabi sudah diprotes oleh
organisasi massa yang gregetan.
Seni Indonesia Bali adalah negeri yang banyak menyimpan unsur
erotisme, seperti terlihat dalam karya seni rupa tradisionalnya. Namun erotisme
di Pulau Dewata tidak bisa dijerat dengan pasal-pasal antipornografi, lantaran
semua yang dicipta diberangkatkan dari pintu filosofis. Pemahaman itu bertolak
dari kitab Kama Sutra, yang menegaskan bahwa seksualitas sah untuk dibicarakan,
diperlihatkan, dan dilakukan pada tempat, situasi, dan kondisi (desa, kala, dan
patra) yang tepat. Sementara itu, dalam ikonografi Hindu, kelamin wanita
(vulva, yoni) dilambangkan sebagai kekuatan bumi, dan kelamin lelaki (phallus,
lingga) sebagai kekuatan api. Mereka percaya, bumi dan api yang bersatu akan
menyemburkan energi. Itu sebabnya, masuk akal bila masyarakat Bali menolak aksi
ngeres Satgas Antipornografi.
Erotisme memang digarap serius di Bali.
Maestro Gusti Nyoman Lempad (18621978) sejak 90 tahun lalu
telah melukis adegan-adegan seksual yang diilhami oleh Kama Sutra. Banyak
kolektor Amerika dan Eropa mengamati serta menggemari karyakarya Lempad yang
liris romantis itu, sehingga lukisan erotik Lempad akhirnya terusung banyak ke
mancanegara. Pada 2010 sebagian karya tersebut masuk sebagai lot lelang di
Singapura, dan dibeli para kolektor dengan harga puluhan juta rupiah
selembarnya. Tema ini terus digarap oleh ratusan seniman sampai sekarang, dan
dipamerkan dalam banyak kesempatan.
Pelukis modern Nyoman Gunarsa mengatakan, apabila masalah
seksualitas dipersepsikan secara tergopoh-gopoh, dangkal, dan tegang, yang
muncul di pelupuk mata semua jadi pornografi, jadi merangsang!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/