Kalau cuma itu persoalannya ya sebut saja "keadilan gender"; 
keadilan bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan 
persamaan kesempatan & perlakuan (peran) dalam masyarakat. 

Masalahnya kan, ketentuan umum RUU KKG ini pada Poin-2 main 
tentukan sendiri soal "kesetaraan" gender (..adalah kesamaan 
kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan bla..bla...). 

Padahal, satu-satunya KESAMAAN KONDISI perempuan dan laki-laki 
di alam ini hanyalah dalam POSISI sebagai makhluk. Adapun, 
keberadaan jantan dan betina (pada mahkluk hewan), benangsari 
dan kepala putik (pada tumbuhan), serta lelaki dan perempuan 
(pada manusia), merupakan ketetapan yang alamiah. Tanpa syarat. 

Lalu, bagaimana bisa sebuah undang-undang mau merobah ketetapan 
ini menjadi kesamaan? Kalaupun mungkin, sudah barang pasti 
undang-undang itu bertentangan dengan hukum alam (saya bukan 
lagi bicara agama). 

Yang masih bisa (dan boleh) dilakukan melalui undang-undang 
antara lain adalah mengondisikan perbedaan ini ke dalam 
persamaan-persamaan. 

Semisal, ada suami menceraikan istri, ada istri menceraikan 
suami; ada lelaki kepala rumahtangga dan -karena kondisi 
tertentu- ada perempuan kepala rumahtangga. Tetapi, bagaimanapun 
juga, persamaan-persamaan itu tidak bisa untuk: ada perempuan 
yang ibu, lalu dikondisikan ada lelaki yang ibu (dalam konteks 
kodrat: haid, mengandung, melahirkan, menyusui). 

Demikian sekilas mengenai ketentuan umum pada RUU KKG. 

Ade sudah makan siang? 

Saya sudah. Kemarin saya minta istri belanja untuk hari ini 
masak salahsatu menu gacoannya: gulai kepala kakap. 
Menurut saya ini termasuk pembagian peran yang adil untuk 
tujuan menyejahterakan perut sekeluarga siang ini - karena 
ada persamaan selera. 

Kalau menuntut kesamaan saya memasak menu yang sama, tentu 
butuh waktu untuk bisa setara kualitas masakan istri. Kalau 
dipaksakan segera terhidang, saya lebih pilih mengajak keluarga 
jajan ke RM Padang langganan walau beresiko ada jajanan-jajanan 
lain seperti nonton bioskop / musik, beli buku dsb. 

Lalu, karena punya persamaan nonton bola, petang nanti kami 
berencana nonton Arsenal x Chelsea di tv. Istri saya juga suka 
ikut nonton di stadion walau tidak suka main sepakbola. Dan, 
menurut saya tidak mau main sepakbola itu hak dia. Saya tidak 
bisa bilang itu "urusan dia" / mereka / kaum perempuan. 


--- Ade Armando <im_armando@...> wrote:

> Ajeg, ksetaraan gender itu bukan atlit laki-laki bertanding lawan 
> atlit perempuan.
> 
> Kesetaraan gender itu artnya baik pria maupun wanita memiliki 
> kesempatan yang sama untuk menjadi atlit.
> Jadi ada basket pria, ada basket perempuan.
> Ada renang pria, ada renang perempuan.
> Ada sepakbola pria, ada sepakbola perempuan.
> Kesempatan itu harus terbuka secara setara.
> Kalau para perempuan tidak mau main sepakbola, ya itu urusan mereka.
> 
> Ini juga terbuka untuk wilayah lainnya.
> Ada dokter pria. Ada dokter perempuan.
> Ada presiden pria. Ada presiden perempuan.
> Ada kepala rumah tangga pria, ada kepala rumah tangga perempuan.
> Ada pria menceraikan istri, ada perempuan menceraikan suami..
> Kalau Anda percaya istri harus melapor ke suami ketika mau keluar 
> rumah, suami juga harus melapor ke istri kalau mau keluar rumah.
> 
> Ini bukan badut.
> Ini keadilan.
> Dan karena Islam mengajarkan keadilan, maka perjuangan kesetaraan 
> gender adalah perjuangan yang Islami.
> 
> ________________________________
> From: ajeg <ajegilelu@...> 
> 
> > Okey, kita tunggu kiprah KONI & Menpora dalam mempertandingkan
> > atlet putra vs atlet putri maupun mencampur atlet putra & putri
> > dalam satu tim di semua cabang olahraga.
> >
> > Kalau kesetaraan gender di bidang olahraga ini bisa dilaksanakan
> > pada PON XVIII Riau, September mendatang, berarti para badut 
> > negeri ini berhasil mendahului Inggris yang sudah pasti tidak 
> > melakukan kesetaraan gender atlet dalam Olimpiade London, Juli 
> > 2012.
> >
> > Hebat kan, para pemimpin negeri ini selalu gigih mencari perhatian
> > sekalipun dengan tingkah yang aneh-aneh & konyol, sebagaimana
> > halnya badut.
> >
> > --- Shofhi Amhar <shofhi.amhar@...> wrote:
> > 
> > > Poin 2:
> > > 
> > > Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi 
> > > perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, 
> > > berpartisipasi mengontrol dan memperoleh manfaat pembangunan di 
> > > semua bidang kehidupan.
> > 
> 
> --
> "One Touch In BOX"




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke