Kartini Bukan Icon Islam Tapi Nasionalis Pluralistic !!!
Kartini berkata: "menjadi orang baik lebih berguna daripada menjadi orang yang
beragama". Kata2nya ini tidak berubah hingga akhir hayatnya. Apa yang
dikatakan Kartini disini meskipun hanya sepotong kalimat tetapi merupakan pagar
benteng yang melindungi dogma aseli Kartini yang tidak bisa dirombak atau
dipalsukan menjadi Icon Syariah Islam.
Menyusupkan tokoh palsu Kiay Buaya Darat sebagai guru kerohanian Islam Kartini
untuk mengubah profile Kartini yang Nasionalistik Pluralistic pejuang
emansipasi wanita menjadi icon Islam sama sekali tidak ada bukti2nya sama
sekali. Semuanya palsu atau pemalsuan.
Memang kesasar dan memalukan cara2 kelompok Islam yang sebelumnya berusaha
menyangkal figure Kartini sebagai pejuang Nasional dan pejuang emansipasi
wanita yang ditetapkan sebagai teladan wanita Indonesia dimana hari lahirnya
ditetapkan sebagai "Hari Ibu".
Dari surat menyurat yang ada bukti2nya, dari buku2 yang dikarangnya yang
menjadi bukti2 otentik, dari kesaksian2 sahabat2nya didalam dan diluar negeri,
dan kesemuanya memastikan bahwa Kartini bukanlah icon yang Islami tapi
merupakan figur Nasionalis, Humanis, Emansipasi Wanita, dan juga Pluralistic.
Sebaliknya, tambahan dongeng2 yang disebar luaskan oleh kelompok2 Islam
pendukung Syariah Islam ini antara lain menceritakan tentang ketertarikan
Kartini terhadap Islam setelah mendapatkan terjemahan dari kiayi buaya darat
beberapa saat sebelum ajalnya menjelang. Jelas, pemalsuan sejarah ini
merupakan kejahatan, merupakan kriminal, harus dikutuk, dan sama sekali tidak
ada bukti2nya, tidak ada saksi2nya, tidak satupun teman2nya membenarkan, bahwa
tidak pernah ada surat dari RA Kartini kepada sahabatnya Meneer Abendoon dan
isterinya yang menceritakan kebanggaannya terhadap agama Islam. Kritik dan
cercaan Kartini terhadap Islam sama sekali bukan karena ketidak tahuan Kartini
terhadap Islam, juga bukan karena Kartini tidak tahu terjemahannya, melainkan
dia kecewa karena tidak boleh diterjemahkan meskipun dia sendiri tahu
terjemahannya. Namun sang Kartini berassumsi bahwa karena tidak boleh
diterjemahkan bagaimana orang bisa mengerti, akhirnya dia menyimpulkan bahwa
larang menerjemahkan itu dikarenakan agar umatnya tidak boleh mengerti.
Pada hakekatnya, Kartini menceritakan kebodohan2 penganut agama Islam yang
tidak boleh mengerti bacaan alQuran agar jangan ditentang umatnya apabila sudah
mengerti. Jadi maksud Kartini, kalo saja AlQuran boleh diterjemahkan, maka
semua umat Islam pasti menentangnya seperti juga dirinya.
Sia2 usaha2 kelompok Islam yang gagal dalam membatalkan gelar pahlawan bangsa
ini dengan cara meng-gali2 tokoh2 pejuang kemerdekaan wanita yang lain yang
bisa dijadikan icon yang Islami.
Tujuan kelompok2 Islam ini cuma satu, yaitu memecah belah bangsa kita dengan
cara mendiskreditkan peranan nasionalisme dan peranan tokoh2 agama yang bukan
Islam dalam sumbangsihnya terhadap kemerdekaan RI. Mereka selalu memalsukan
sejarah RI yang se-olah2 kemerdekaan ini berhasil dicapai hanya oleh mereka
yang beragama Islam sedangkan yang bukan Islam sama sekali tidak punya andilnya
sehingga tidak boleh protest apabila Syariah Islam dipaksa untuk ditegakkan
dinegara ini.
Gagal mencabut gelar Kartini, diganti dengan taktik lain yaitu memalsukan
surat2 Kartini, memutar balikkan sikap Kartini yang menentang Islam menjadi
se-olah2 sangat tertarik kepada Islam, dan menyusupkan tokoh misteri yang Islam
yang disebutnya kiyai buaya darat yang menjadi tutor penerjemahan ayat2 AlQuran
bagi Kartini. Padahal sudah jelas pandangan Kartini, bahwa "menjadi orang baik
lebih berguna daripada menjadi orang yang beragama".
Jadi bukan kebetulan tapi kenyataan bahwa Bung Karno adalah aktivis gerakan
Nasionalistis Pluralistic, bukan dari gerakan Syariah Islam.
Juga bukan kebetulan kalo tokoh Kartini diangkat menjadi figure teladan wanita
Indonesia, bukan seperti yang diputer balikkan oleh kelompok2 Islam se-olah2
tokoh Kartini ini diangkat oleh Belanda untuk tujuan politik penjajahannya.
Jadi sekali lagi saya tegaskan, bahwa Kartini diangkat sebagai teladan figure
wanita Indonesia bukan oleh Belanda tapi oleh BUNG KARNO sebagai icon
nasionalis pluralistik dan humanisme, BUKAN SEBAGAI ICON YANG ISLAMI.
Secara turun temurun keluarga RA Kartini adalah penganut Islam Kejawen, dan
Islam Kejawen bukanlah seperti ajaran Islam yang dianut MUI yang mendukung
gerakan teror Jihad. Islam Kejawen menentang teror Jihad, Islam Kejawen
menentang diskriminasi agama dan ini memang terbukti bahwa Kejawen itu mencakup
juga agama lainnya seperti Kristen Kejawen, Buddha Kejawen, dan Kejawen itu
adalah filosofi Jawa yang dilandasi primbon2 Jawa sebagai buku sucinya
disamping AlQuran.
Tapi meskipun Kartini dari lingkungan Islam Kejawen, tetapi dia juga masuk dan
berkontribusi dalam lingkungan agama Katolik yang dianut teman2nya diluar
negeri. Sumbangannya kepada agama Katolik adalah didirikannya Yayasan oleh
Kartini yang hingga sekarang dikelola oleh Klinik Atmajaya yang setiap tahunnya
mendapatkan bantuan dana dari Yayasan Kartini yang ada di Belanda.
Disamping itu, kakak Kartini meneruskan pengembangan Islam Kejawen melalui
Yayasan yang dibentuk bersama Kartini dengan kakaknya ini, dan yayasan ini
masih tetap berjalan dimana jumlah anggautanya bertambah banyak berlipat ribuan
kali.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/