Tersohornya R.A. Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia 
sangat mungkin terjadi akibat propaganda Orientalis-Belanda yang licik. 
Hal ini dilihat dari upaya H.H. van Kol, C.Th. van Deventer, Snouck 
Hurgronje, Estella Zeehandelaar, Ny. Abendanon dan lainnya yang 
merupakan aktifis Orientalis-Belanda dalam mengekspos curhat Kartini 
melalui media dan buku-buku untuk menebar pertentangan dan perpecahan 
(Devide at Impera). Atau juga sebagai ajang akulturasi nilai-nilai 
budaya Belanda untuk menjamah struktur nilai dan budaya Indonesia agar 
dapat tunduk bersimpati kepada kolonial Belanda.

Sehingga wajar jika Kartini menjadi pahlawan emansipasi karena 
kegemarannya yang suka curhat. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh 
Malahayati, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Laswi, Jo Paramitha, Siti Aisyah We 
Tenriolle, Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Ny. Sunarjo Mangunpuspito dan 
pahlawan wanita lainnya ketika memperjuangkan kemerdekaan bangsa 
Indonesia.

Lihat remaja putri atau kaum perempuan saat ini, kehidupan yang bebas telah 
menyeret sebagian besar mereka dalam kubangan seks bebas, aborsi, 
mabuk-mabukan, diskotik, mengumbar aurat, serta kehidupan hedon 
lainnya. Bagi wanita karir yang kebetulan sukses dengan gampangnya 
bergonta-ganti suami atau berselingkuh karena merasa telah berjasa 
menghidupi diri dan keluarganya. Apakah ini yang dinamakan produk 
emansipasi perempuan? Pantaskah bangsa Indonesia yang memiliki norma 
budaya luhur mengadopsinya?
Distorsi sejarah bangsa Indonesia sudah membentur tembok 
krusial dan saatnya direformasi jika tidak ingin kita terus berada dalam 
dongeng klasik karya Orientalis-Belanda. Generasi saat ini menanti dan 
merindukan pencerahan nasional demi membuka wawasan berpikirnya 
membangun bangsa berperadaban. Dan kurikulum pendidikan nasional memikul 
tanggung jawab besar dalam proses aufklarung tersebut, karena bangku 
pendidikan adalah tempat mendoktrin pemikiran yang efektif.

Masih adakah makna memperingati hari Kartini? Masih adakah 
perempuan sekarang yang dapat menjadi tauladan? Perempuan yang menjadi 
pewaris Kartini. Sekarang tak ada lagi tokoh perempuan yang dapat 
diteladani dengan layak. Kita hanya dapat melihat  perempuan dengan 
getir. Begitu banyak noda dan kesedihan. Akibat perempuan telah berubah. 
Berubah orientasi dan tujuan hidupnya.
Kita hari ini hanya disuguhi perempuan yang menuntut hak-hak 
kesetaraan mereka. Di segala aspek kehidupan. Mereka tidak mau lagi di 
bawah dominasi laki-laki. Mereka ingin hidup setara dengan laki-laki. 
Mereka ingin memiliki hak dan otoritas yang sama dengan laki-laki. Maka 
para perempuan sekarang sedang memperjuangkan hak-hak mereka, dan 
membuat rancangan kesetaraan gender.
Memang. Dari tahun-tahun emansipasi semakin tumbuh luas. Dalam kehidupan. Sudah 
pernah ada perempuan menjadi presiden. Sudah banyak 
perempuan menjadi menteri.  Sudah banyak perempuan menjadi pejabat. 
Menjadi bupati, walikota, camat, lurah. Pejabat eselon satu sudah 
banyak. Sudah banyak perempuan menjadi anggota DPR. Bahkan banyak pula 
menjadi CEO perusahaan.

Dampaknya banyak  perempuan yang menjadi pejabat publik. Rela 
meninggalkan keluarganya demi karir politiknya. Keluarga tidak penting 
lagi. Mereka bisa rapat hingga larut malam. Meninggalkan keluarga 
mereka. Mereka terlibat dalam lobi politik di tingkat tinggi. Mereka 
berperan dengan sangat kuat. Banyak perempuan yang menjadi tokoh 
bayangan dalam kekuasaan. Mengendalikan suaminya yang menjadi presiden, 
menteri, pejabat tinggi sipil dan militer.
Tetapi, perempuan tak juga puas dengan posisinya yang ada 
sekarang, dan terus menuntut perannya yang lebih besar lagi. Di era 
reformasi ini semakin kuat tuntutan perempuan dalam emansipasi itu. 
Sekalipun, tak nampak ada tokoh-tokoh seperti Kartini,yang bisa 
diteladani oleh kaum perempuan.

Sekarang hanya ada sosok, seperti Nunun Nurbaeti yang pernah 
buron, Angelina Sondakh yang menjadi buah bibir, Wa Ode yang menjadi 
tersangka, karena sogok, Miranda Gultom, dan banyak lagi perempuan lagi 
yang nista, dan menyebabkan korupsi semakin marak.
(Saduran bebas dari beberapa sumber)


________________________________
 From: muskitawati <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Monday, April 23, 2012 5:52 AM
Subject: [proletar] Kartini Bukan Icon Islam Tapi Nasionalis Pluralistic !!!
 

  
Kartini Bukan Icon Islam Tapi Nasionalis Pluralistic !!!

Kartini berkata: "menjadi orang baik lebih berguna daripada menjadi orang yang 
beragama".  Kata2nya ini tidak berubah hingga akhir hayatnya.  Apa yang 
dikatakan Kartini disini meskipun hanya sepotong kalimat tetapi merupakan pagar 
benteng yang melindungi dogma aseli Kartini yang tidak bisa dirombak atau 
dipalsukan menjadi Icon Syariah Islam.

Menyusupkan tokoh palsu Kiay Buaya Darat sebagai guru kerohanian Islam Kartini 
untuk mengubah profile Kartini yang Nasionalistik Pluralistic pejuang 
emansipasi wanita menjadi icon Islam sama sekali tidak ada bukti2nya sama 
sekali.  Semuanya palsu atau pemalsuan.

Memang kesasar dan memalukan cara2 kelompok Islam yang sebelumnya berusaha 
menyangkal figure Kartini sebagai pejuang Nasional dan pejuang emansipasi 
wanita yang ditetapkan sebagai teladan wanita Indonesia dimana hari lahirnya 
ditetapkan sebagai "Hari Ibu".

Dari surat menyurat yang ada bukti2nya, dari buku2 yang dikarangnya yang 
menjadi bukti2 otentik, dari kesaksian2 sahabat2nya didalam dan diluar negeri, 
dan kesemuanya memastikan bahwa Kartini bukanlah icon yang Islami tapi 
merupakan figur Nasionalis, Humanis, Emansipasi Wanita, dan juga Pluralistic.

Sebaliknya, tambahan dongeng2 yang disebar luaskan oleh kelompok2 Islam 
pendukung Syariah Islam ini antara lain menceritakan tentang ketertarikan 
Kartini terhadap Islam setelah mendapatkan terjemahan dari kiayi buaya darat 
beberapa saat sebelum ajalnya menjelang.  Jelas, pemalsuan sejarah ini 
merupakan kejahatan, merupakan kriminal, harus dikutuk, dan sama sekali tidak 
ada bukti2nya, tidak ada saksi2nya, tidak satupun teman2nya membenarkan, bahwa 
tidak pernah ada surat dari RA Kartini kepada sahabatnya Meneer Abendoon dan 
isterinya yang menceritakan kebanggaannya terhadap agama Islam.  Kritik dan 
cercaan Kartini terhadap Islam sama sekali bukan karena ketidak tahuan Kartini 
terhadap Islam, juga bukan karena Kartini tidak tahu terjemahannya, melainkan 
dia kecewa karena tidak boleh diterjemahkan meskipun dia sendiri tahu 
terjemahannya.  Namun sang Kartini berassumsi bahwa karena tidak boleh 
diterjemahkan bagaimana orang bisa mengerti, akhirnya dia
 menyimpulkan bahwa larang menerjemahkan itu dikarenakan agar umatnya tidak 
boleh mengerti.

Pada hakekatnya, Kartini menceritakan kebodohan2 penganut agama Islam yang 
tidak boleh mengerti bacaan alQuran agar jangan ditentang umatnya apabila sudah 
mengerti.  Jadi maksud Kartini, kalo saja AlQuran boleh diterjemahkan, maka 
semua umat Islam pasti menentangnya seperti juga dirinya.

Sia2 usaha2 kelompok Islam yang gagal dalam membatalkan gelar pahlawan bangsa 
ini dengan cara meng-gali2 tokoh2 pejuang kemerdekaan wanita yang lain yang 
bisa dijadikan icon yang Islami.

Tujuan kelompok2 Islam ini cuma satu, yaitu memecah belah bangsa kita dengan 
cara mendiskreditkan peranan nasionalisme dan peranan tokoh2 agama yang bukan 
Islam dalam sumbangsihnya terhadap kemerdekaan RI.  Mereka selalu memalsukan 
sejarah RI yang se-olah2 kemerdekaan ini berhasil dicapai hanya oleh mereka 
yang beragama Islam sedangkan yang bukan Islam sama sekali tidak punya andilnya 
sehingga tidak boleh protest apabila Syariah Islam dipaksa untuk ditegakkan 
dinegara ini.

Gagal mencabut gelar Kartini, diganti dengan taktik lain yaitu memalsukan 
surat2 Kartini, memutar balikkan sikap Kartini yang menentang Islam menjadi 
se-olah2 sangat tertarik kepada Islam, dan menyusupkan tokoh misteri yang Islam 
yang disebutnya kiyai buaya darat yang menjadi tutor penerjemahan ayat2 AlQuran 
bagi Kartini.  Padahal sudah jelas pandangan Kartini, bahwa "menjadi orang baik 
lebih berguna daripada menjadi orang yang beragama".

Jadi bukan kebetulan tapi kenyataan bahwa Bung Karno adalah aktivis gerakan 
Nasionalistis Pluralistic, bukan dari gerakan Syariah Islam.

Juga bukan kebetulan kalo tokoh Kartini diangkat menjadi figure teladan wanita 
Indonesia, bukan seperti yang diputer balikkan oleh kelompok2 Islam se-olah2 
tokoh Kartini ini diangkat oleh Belanda untuk tujuan politik penjajahannya.

Jadi sekali lagi saya tegaskan, bahwa Kartini diangkat sebagai teladan figure 
wanita Indonesia bukan oleh Belanda tapi oleh BUNG KARNO sebagai icon 
nasionalis pluralistik dan humanisme, BUKAN SEBAGAI ICON YANG ISLAMI.

Secara turun temurun keluarga RA Kartini adalah penganut Islam Kejawen, dan 
Islam Kejawen bukanlah seperti ajaran Islam yang dianut MUI yang mendukung 
gerakan teror Jihad.  Islam Kejawen menentang teror Jihad, Islam Kejawen 
menentang diskriminasi agama dan ini memang terbukti bahwa Kejawen itu mencakup 
juga agama lainnya seperti Kristen Kejawen, Buddha Kejawen, dan Kejawen itu 
adalah filosofi Jawa yang dilandasi primbon2 Jawa sebagai buku sucinya 
disamping AlQuran.

Tapi meskipun Kartini dari lingkungan Islam Kejawen, tetapi dia juga masuk dan 
berkontribusi dalam lingkungan agama Katolik yang dianut teman2nya diluar 
negeri.  Sumbangannya kepada agama Katolik adalah didirikannya Yayasan oleh 
Kartini yang hingga sekarang dikelola oleh Klinik Atmajaya yang setiap tahunnya 
mendapatkan bantuan dana dari Yayasan Kartini yang ada di Belanda.

Disamping itu, kakak Kartini meneruskan pengembangan Islam Kejawen melalui 
Yayasan yang dibentuk bersama Kartini dengan kakaknya ini, dan yayasan ini 
masih tetap berjalan dimana jumlah anggautanya bertambah banyak berlipat ribuan 
kali.

Ny. Muslim binti Muskitawati.


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke