Refl: Siapa berkuasa dialah yang menentukan politik ekonomi negara! Jika 
“penyakit Belanda” dipraktekan pada zaman Hindia Belanda, maka zaman tidak 
berobah, hanya bendera merah putih biru hilang warna birunya.


http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38038
SABTU, 27 April 2012 |


Sindrom “Penyakit Belanda”


Muhammad Syarkawi Rauf, (Regional Chief Economist BNI/Kepala Lembaga 
Pengkajian Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Unhas)
“Penyakit Belanda” atau “Dutch Deseas” adalah istilah yang digunakan untuk 
menggambarkan eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara besar-besaran, 
khususnya tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor manufaktur.

Tambang migas dan non migas mengalami over exploitation tanpa diikuti 
berkembangnya sektor industri di suatu negara atau daerah.

Sindrom “penyakit Belanda” banyak ditemukan dalam kasus eksplotasi SDA di 
luar Jawa, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Daerah 
yang mengalami eksploitasi tambang paling parah adalah Kalsel dengan batu 
bara-nya, Kaltim dengan gas dan batu bara, Papua dengan tambang 
tembaganya, dan Sulsel dengan nikel-nya.

Tidak bisa dipungkiri, sekitar 70 persen output perekonomian Papua 
disumbangkan oleh hanya satu perusahaan pertambangan, yaitu PT Freeport. 
Sementara kontribusi industri pengolahan masih relatif kecil atau bahkan 
mengalami deteorisasi. Pertumbuhan sektor pertambangan jauh lebih besar 
dibandingkan sektor industri pengolahan berbasis pertanian (agroindustry).

Demikian juga dengan Sulawesi, khususnya Sulsel dan Sultra yang 
mengandalkan komoditas pertambangan nikel. Perusahaan nikel terbesar di 
Sulsel adalah PT Inco dengan konsesi lahan yang sangat luas dan berjangka 
panjang. Ekspor utama Sulsel ke sejumlah negara dalam beberapa tahun 
terakhir sangat bergantung pada satu komoditas saja, yaitu nikel.

Perekonomian Sulsel belum juga bergerak ke resources based industry 
(industri berbasis SDA). Secara sektoral perekonomian Sulsel masih sangat 
didominasi oleh sektor perdagangan dan pertanian. Sektor industri 
pengolahan masih tercecer di belakang dan bahkan mengalami proses 
pelambatan dengan pertumbuhan yang lebih kecil dibanding sektor lainnya.

Kecenderungan yang lebih parah lagi terjadi di Kaltim, yaitu eksploitasi 
tambang besar-besaran hanya menyisakan problem lingkungan yang serius. 
Banyak yang memprediksi bahwa suatu saat Kaltim akan menjadi daerah miskin 
ketika rezeki migas sudah mulai menipis. Pemerintah lalai atau alpa dalam 
menggerakkan sektor industri manufakturnya.

Luar Jawa Berkembang?
Fenomena deindustrialisasi terjadi secara nasional. Hampir semua daerah 
mengalami kemunduran dalam sektor industri pengolahannya. Pertumbuhan 
sektor industri melambat karena dunia usaha lebih senang mengimpor barang 
jadi dibanding memproduksi sendiri di dalam negeri. Ditambah lagi produsen 
yang lebih senang menjual komoditas pertanian dan pertambangan gelondongan 
dibanding memberikan nilai tambah tinggi.

Di tengah proses deindustrialisasi terdapat berita gembira karena pada 
kwartal pertama 2012 realisasi investasi mengalami peningkatan secara year 
on year (yoy). Tidak hanya itu, kecenderungan positif juga terjadi karena 
distribusi investasi sudah lebih merata antara Jawa dengan luar Jawa.

Saat ini, dari sekitar Rp71,0 triliun realisasi investasi secara nasional, 
sekitar Rp33,60 triliun atau sekitar 47,20 persen terdapat di luar Jawa. 
Sisanya sekitar 51,80 persen terdapat di pulau Jawa. Meskipun Jawa masih 
sangat dominan tetapi kecenderungan seperti ini seharusnya dapat menjadi 
signal positif untuk segera merelokasi industri ke luar Jawa.

Namun jika data-data investasi dipelototi secara lebih detail lagi, 
ternyata realisasi investasi terbesar di luar Jawa didominasi sektor 
pertambangan dan perkebunan. Kedua jenis invesatsi ini terkonsentrasi di 
Sumatera yang menyerap sekitar Rp12,10 triliun atau sekitar 17 persen. 
Investasi ke Sulawesi hanya sekitar Rp5,2 triliun, dan yang terkecil 
adalah Maluku–Papua yang hanya sekitar Rp0,7 triliun.

Pertumbuhan investasi yang tinggi bukan sebagai prestasi pemerintah karena 
tidak sesuai rencana pemerintah sendiri yang akan menggerakkan sektor 
industri pengolahan. Kecenderungan ini juga bertentangan program 
pemerintah yang akan mempercepat relokasi industri ke luar Jawa.

Fenomena di atas juga bertentangan dengan semangat Master Plan Percepatan 
dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang berorientasi pada 
nilai tambah. Investasi sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa 
tidak sejalan dengan doktrin MP3EI yang menganut prinsip pertumbuhan yang 
digerakkan oleh inovasi (innovation driven economy).

Jalan Keluar
Aliran investasi ke sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa dan ke 
sektor industri ke pulau Jawa akan membuat program pemerintah mengalami 
kegagalan, khususnya terkait komitmen mempercepat proses industrialisasi 
di luar Jawa. Sulit merealisasikan rencana pemerintah untuk menempatkan 
Jawa hanya sebagai innovation centre atau pusat R dan D.

Pola penyebaran investasi baik investasi dalam negeri maupun foreign 
direct investment (FDI) semakin memperkuat sindrom “penyakit Belanda” di 
Indonesia. Di mana sekitar Rp21,50 triliun realisasi investasi ke KTI 
hanya terkonsentrasi di sektor pertambangan. Sulawesi yang kebagian Rp5,1 
triliun juga didominasi investasi pertambangan.

Idealnya, investasi ke luar Jawa diarahkan pada infrastruktur dasar dan 
resources based industry. Pemerintah bisa mengendalikannya secara langsung 
tidak hanya dengan membuat aturan mengenai bea keluar ekspor SDA non 
olahan yang tinggi. Pengendalian bisa dimulai dari sejak awal penerbitan 
izin investasinya, yaitu memprioritaskan izin investasi yang disertai oleh 
industri pengolahannya di luar Jawa, khususnya KTI.

Jalan keluarnya adalah hilirisasi komoditas utama di setiap pulau atau 
merujuk pada MP3EI pada setiap koridor ekonomi. Hilirisasi adalah kegiatan 
mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang langsung bisa dijual ke end 
user atau konsumen akhir. Pemerintah tidak boleh hanya berada pada rantai 
produksi dengan nilai tambah rendah, seperti produk intermediate.

Hilirisasi komoditas utama nasional juga harus berhati-hati. Pembangunan 
yang terlalu berorientasi pada nilai tambah dapat melahirkan masalah baru, 
khususnya yang terkait ownership dari industrinya. Sebab tidak ada gunanya 
pemerintah ngotot membangun industri, misalnya pengolahan nikel tetapi 
mematikan pengusaha nikel lokal.

Peralihan ownership akan berdampak negatif jika pada akhirnya industri 
pengolahan SDA dimiliki asing. Perusahaan pertambangan asing lebih mampu 
berinvestasi di industri pengolahan nikelnya dan juga komoditas strategis 
lainnya. Akhirnya, tidak ada gunanya jika usaha pemerintah menghindari 
jebakan “penyakit Belanda” hanya membuat usaha kecil kehilangan 
kepemilikan. Di sinilah seninya memerintah. Semoga sukses. (*)
--
I am using the free version of SPAMfighter.
We are a community of 7 million users fighting spam.
SPAMfighter has removed 679 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

The Professional version does not have this message


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke