Refl: Bukan kalah, sebab kalau akan dikalahkan, maka rezim berkuasa kerahkan 
militer dan polisi bersenjata lengkap untuk menguasai situasi agar tidak hilang 
wewnang kekuasaan negara.

Perkembangan selama ini menunjukan bahwa rezim NKRI mempunyai kaki tangan sipil 
berjubah, sambil beraksi mereka suka berteriak seolah-olah mumuji-muji Allah. 
Di lain negeri organisasi demikian disebut “vigilante”. Apapun yang 
“vigilantes” lakukan adalah sesuai intruksi rezim berkuasa. Perbuatan pasukan 
berjubah di NKRI boleh dibilang halal karena kebal hukum. 

Kasus Mei 1998 di Jakarta, kasus Tasyikmalaya, Garut etc. Pengiriman Laskar 
Jihad yang disponsor oleh Susilo Bambang Yudhono cs ke Sulawesi Tengah dan 
Maluku untuk membasmi kaum Nasrani, apakah ada yang dihadapkan ke meja hijau?? 

http://www.tempo.co/read/news/2012/05/07/063402064
omePolitikHukum

Pegiat Islam reformis dan penulis buku asal Kanada Irshad Manji (kiri) dikawal 
sejumlah wartawan dan petugas Banser menuju ke kendaraan usai diskusi dan bedah 
buku karyanya "Allah, Liberty & Love" di Salihara, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5) 
malam. ANTARA/Zabur Karuru


Senin, 07 Mei 2012 | 05:35 WIB
Pemerintah Jangan Kalah oleh Preman Berjubah
Besar Kecil Normal 

TEMPO.CO , Jakarta: - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai, 
maraknya pembubaran kegiatan keagamaan oleh ormas tertentu dengan dukungan 
aparat kepolisian akhir-akhir ini membuktikan bahwa pemerintah melalaikan 
kewajiban melindungi hak dasar warga dalam beribadah dan berpendapat. 
"Kebebasan dalam menjalankan ibadah dan berpendapat sudah tertuang dalam 
konstitusi negara sehingga pemerintah punya kewajiban melindunginya," kata 
anggota Subkomisi Mediasi Komnas HAM, Ridha Saleh, saat dihubungi Minggu 6 Mei 
2012




Ridha menilai pembiaran aksi pelarangan ibadah dengan tindak kekerasan termasuk 
inkonstitusional karena kebebasan itu telah diatur dengan undang-undang. 
“Pemerintah tidak memiliki kewenangan dalam melarang individu atau kelompok 
orang dalam menjalankan ibadah,” katanya.

Seperti diberitakan, dalam waktu berdekatan ada sejumlah kegiatan yang 
dibubarkan paksa oleh ormas tertentu bersama polisi. Jumat malam pekan lalu, 
bedah buku Love, Liberty, and Allah karya Irshad Manji, yang diselenggarakan 
oleh Komunitas Salihara, dibubarkan oleh massa beratribut Front Pembela Islam, 
Front Komunikasi Anak Betawi, dan Forum Betawi Rempug. Kepala Bidang Humas 
Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto berdalih, acara diskusi dibubarkan 
karena tidak ada pemberitahuan kepada kepolisian. 

Kemarin massa juga menyerbu Gereja Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia 
Bekasi dan membubarkan jemaat yang sedang beribadah. Bahkan, sejak tiga tahun 
lalu, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin tidak pernah bisa 
beribadah tenang karena terus-menerus diserbu massa. 

Tokoh hak asasi manusia Salahuddin Wahid meminta polisi mengevaluasi diri atas 
sikap mereka membubarkan diskusi Komunitas Salihara, juga dalam 
kekerasan-kekerasan yang terjadi sebelumnya. "Yang pertama adalah alasan kenapa 
mereka membubarkan diskusi tersebut dan kenapa mereka lunak terhadap salah satu 
ormas," katanya saat dihubungi, Sabtu lalu. 

Putri mantan presiden Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, menilai negara telah 
kalah menghadapi desakan “preman berjubah”. “Negara jangan tunduk kepada ormas. 
Negara tidak boleh kalah oleh preman berjubah. Boleh tidak setuju. Tapi, begitu 
menggunakan kekerasan, mereka harus ditindak,” katanya. 

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) menilai 
maraknya kekerasan dan penyerangan terhadap jemaat gereja disebabkan oleh 
kelemahan polisi. “Titik lemah peristiwa ini adalah polisi,” kata Koordinator 
Eksekutif Kontras Haris Azhar. 

Sementara itu, anggota Komisi Agama, Mahrus Munir, meminta waktu untuk 
mengambil keputusan terkait dengan maraknya kekerasan berlatar belakang agama. 
“Kami belum tahu detail perkara ini. Setelah reses, jelas kami akan lihat dan 
pikirkan kasus ini,” katanya, 
Pembatasan kebebasan beragama, menurut Mahrus, tidak boleh lagi terjadi di 
antara masyarakat karena sudah ada dasar hukum yang mengaturnya. Komisi Agama 
juga terus mendorong semua pihak, khususnya golongan mayoritas, untuk tetap 
menghormati hak dan keputusan hukum yang sudah ditetapkan.

FRANSISCO ROSARIANS | IANANDA BADUDU | STMAN MP | DIMAS SIREGAR | RAHMA TW

Berita Terkait
  a.. Anggota FPI Dicelurit, Polisi Periksa Dua Saksi 
  b.. Tawuran di Bogor, Anggota FPI Tewas Dicelurit 
  c.. Diskusi Irshad Manji: Kebebasan Beragama Suburkan Toleransi 
  d.. Yenny Soal Diskusi Salihara: Negara Kok Kalah dengan Ormas 
  e.. Penerbit: Buku Irshad Manji Ditolak Toko Buku 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke