http://www.shnews.co/detile-1607-melawan-perkebunan-sawit-dan-pertambangan-batu-bara-.html


Melawan Perkebunan Sawit dan Pertambangan Batu Bara 
Wahyu Dramastuti | Rabu, 09 Mei 2012 - 15:51:41 WIB



(SH/Yuyuk Sugarman)Segala fitnah dan ancaman terhadap dirinya diabaikan demi 
kebenaran dan kemanusiaan. 
Sepotong senyum merekah di balik kacamata berwarna hitam berbentuk kotak itu. 
Adem ayem rasanya setiap kali berbincang dengan sang empunya senyuman itu. 
Apalagi tutur katanya lembut dan tenang pembawaannya. Wajar saja jika orang 
menyangsikan dia adalah tokoh penggerak masyarakat untuk demonstrasi melawan 
perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. 

Dia berani bersaksi, "Di depan hutan dibabat, di belakang bumi dikeruk". 
Padahal sejatinya, Mardiana D Dana (53), nama sosok itu, adalah seorang perawat 
di Rumah Sakit Barito Timur sejak 1979. Karena sebagai perawat dan terjun 
langsung ke masyarakat, Mardiana mendengar langsung keluhan-keluhan warga. 

Ternyata masyarakat mengeluhkan kebun, hutan, ladang, sungai, hingga danau dan 
rawa-rawa yang sedang digarap perusahaan sawit dan batu bara. "Masyarakat di 
sana hidupnya berkaitan dengan alam. Jadi kalau perkebunan karet dan 
buah-buahan dibabat habis, lalu mereka hidup dari mana?" tutur Mardiana, ibu 
dari dua anak dan dua cucu ini. 

Kemudian rakyat pergi mengadu ke kepala desa dan kepala kecamatan, tetapi tak 
memperoleh tanggapan. Akibatnya, terjadi perselisihan antarwarga dan dengan 
kepala desa. Bahkan di Desa Janah Jari, ada perusahaan yang tumpang tindih 
antara kebun sawit dan tambang batu bara. 

Di sana ada empat perusahaan yang tumpang tindih. Pada 1993 terjadi tragedi 
berdarah dan belasan orang meninggal setelah ada bentrok antara rakyat dan 
pihak perusahaan. Hal ini terjadi akibat nasi dan padi milik penduduk yang 
diambil karyawan perusahaan. 

Karena sebagai perawat yang bolak-balik rumah sakit, Mardiana tidak sempat 
menghitung berapa jumlah korban sebenarnya. "Saya memberanikan diri. Saya hanya 
memohon kekuatan dan perlindungan Tuhan," katanya. 

Lalu ada lagi kejadian ketika seorang lelaki umur 80-an yang menawarkan 
nyawanya untuk masuk hutan. "Saya bilang jangan! Itulah yang jadi penguat saya, 
kalau dulu dijajah Belanda maka sekarang dijajah sesama kita sendiri," 
tuturnya. Selain itu, Mardiana punya tanah sekitar 20 hektare yang dibabat 
orang lain sampai tidak diketahui lagi di mana batas area miliknya. 

Terdorong rasa kemanusiaan, akhirnya Mardiana mulai bergerak mendampingi 
masyarakat di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah itu. "Saya ingin 
menolong mereka walaupun kemampuan saya terbatas dan saya malah dianggap 
sebagai musuh oleh sebagian orang. Kemudian saya mencari orang-orang yang bisa 
membantu keadaan ini, dan puji Tuhan bertemu dengan Aliansi Masyarakat Adat 
Nusantara (AMAN)," ujarnya. 

Sebelum 2008 dia sudah aktif mendampingi warga, tetapi kegiatannya stagnan. 
Kasih sayang dia salurkan begitu saja seperti air mengalir, bagaikan mengobati 
orang sakit. Barulah setelah bertemu AMAN, kiprahnya makin terfokus. 

Akibat aktivitasnya melawan kapitalisme perkebunan sawit dan pertambangan batu 
bara, Mardiana yang berkulit putih itu diancam jiwanya dengan golok, mandau, 
juga diteror melalui posel maupun secara langsung. 

"Saya tidak takut karena berdiri bersama rakyat, memperjuangkan hak hidup," 
tuturnya. Bahkan dengan bangga, perempuan ini mengatakan, "Kalau sebagai 
perawat saya hanya menyelamatkan satu orang, tetapi kalau menyangkut hak hidup 
berarti menyelamatkan banyak orang." 

Malah, sebagai perawat dia terkadang merasa frustrasi jika ternyata pasiennya 
tidak berhasil disembuhkan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Lalu 
pelan-pelan Mardiana mengurangi aktivitasnya sebagai perawat, untuk lebih fokus 
pada tugas yang lebih besar. 

Awalnya dia dicaci-maki banyak warga dan dianggap sombong, tetapi lama-kelamaan 
penduduk bisa memahami mengapa Mardiana mengurangi porsinya sebagai perawat. 
Dia bertekad akan terus memperjuangkan hak hidup rakyat dan selalu bersama 
rakyat. Ini karena kalau dirinya membiarkan pembabatan hutan, berarti dirinya 
membiarkan masyarakat tidak hidup sejahtera. 

Walaupun atas pembabatan hutan itu rakyat memperoleh kompensasi, kompensasi itu 
hanya bersifat sementara dan tidak akan mencukupi hidup seterusnya. Sebaliknya, 
jika rakyat diberi hutan untuk dikelola, hidup mereka pasti akan sejahtera. 

Namun apa lacur, pada 2010 kegiatan beberapa perusahaan di Barito Timur semakin 
menggila. Bahkan, ada perusahaan yang kepemilikannya ganda, memiliki 
pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit sekaligus. Lebih gila lagi, 
dalam satu desa ada empat perusahaan. 

Mendampingi Tujuh Desa 

Mardiana mendampingi masyarakat tujuh desa di Kabupaten Barito Timur, jadi tahu 
persis kondisi ini. Tujuh desa itu antara lain Desa Pangkan, Gunung Krasik, 
Sarapat, Pulau Patai, dan Dayu. Ketujuh desa tersebut sudah dibabat habis demi 
ambisi pemilik perkebunan sawit. Bahkan perkebunan merambah hingga sekitar 30 
meter dari pemakaman masyarakat adat. 

Di Desa Pulau Patai, ada perusahaan yang meminta izin membuat jalan. Karena 
akses jalan penting bagi warga, warga mengabulkan permintaan itu. Namun 
ternyata kemudian, akses itu bukannya untuk pembangunan jalan, melainkan untuk 
membuka perkebunan sawit. Padahal, sebelumnya sudah ada penolakan kebun sawit 
hingga ke menteri kehutanan. 

Sementara itu, di Desa Gunung Krasik terdapat lokasi wisata yang indah. Ada gua 
dan air terjun menawan hati. Tetapi di sana ada delapan rumah yang diancam 
orang yang tamak, karena batu bara muncul di atas tanah tersebut. Sementara 
itu, di Desa Rumea, ada halaman sekolah dasar yang dirambah perkebunan sawit. 
"Anak-anak main di kebun sawit. Saya sakit hati karena mereka bisa terkena 
semprotan pupuk sawit. Kecamatan Dayu juga sudah dikelilingi kebun sawit. 

Menurutnya, ada fakta sangat menyakitkan, di mana pada 2003–2004 penduduk di 
Kampung Sarapat, Kecamatan Dusun Timur, menghibahkan tanah sekitar 20 hektare 
untuk pembangunan Kabupaten Barito Timur. Namun ternyata pada 2006 pemda, desa, 
dan kecamatan menyerahkan desa itu kepada perusahaan. Rakyat tentu saja protes 
dan meminta agar hak mereka itu tidak dijual. Namun sampai saat ini rakyat 
hanya bisa gigit jari. 

Ada juga kisah sedih lain yang dituturkan Mardiana, yaitu ada hutan anggrek 
paling luas, sekitar 10 hektare, yang musnah karena disulap menjadi perkebunan 
kelapa sawit. 

Yang paling menyayat hati, ada dua situs bersejarah, yakni tapal batas antara 
Desa Sarapat dan Desa Morotuhu, yang hilang. Padahal di tempat inilah pernah 
dilakukan upacara perdamaian secara adat. 

Ada dua orang yang rela dipotong lehernya demi perdamaian dua desa itu dan 
darahnya dimasukkan ke dalam lubang pohon besar di sana. "Itu dilakukan karena 
warga sudah bosan dengan pertikaian. Namun karena tidak ada lagi tapal batas 
itu, orang jadi lupa dengan perdamaian itu," Mardiana mengingatkan. 

Dia menegaskan, merupakan kebohongan jika ada yang mengatakan masyarakat hidup 
lebih sejahtera dengan adanya perkebunan dan pertambangan. Ini karena rakyat 
yang sudah dipekerjakan akan diberhentikan secara sepihak dengan berbagai 
alasan. Kalaupun ada yang diberi ganti rugi atas tanahnya, hanya dihargai Rp 1 
juta–Rp 3 juta per hektare. 

Sebetulnya bagi rakyat setempat, ada 13 lokasi hutan adat atau hutan penyangga 
yang tidak bisa dibagi kepada siapa pun, karena menjadi tempat berburu, menanam 
sayur dan tanaman obat-obatan, mencari rotan, dan sumber air bersih berupa 
danau. 

"Jadi adanya tambang batu bara dan kebun sawit membuat pemiskinan besar-besaran 
dan pembunuhan secara perlahan-lahan," tuturnya lagi. Hal itu terjadi karena 
pembuangan limbah pupuk dan semprotan hama kelapa sawit mengalir ke sungai. 

Kegigihan Mardiana melawan pihak tambang dan kebun sawit membuat dirinya 
difitnah sebagai teroris dan difitnah pindah agama hanya karena sebagai muslim 
sering berkomunikasi dengan para pastor. 

Namun, bagi Mardiana, apa pun akan dilakukannya demi masyarakat. Sayangnya, 
masyarakat sendiri terbagi dalam tiga kubu, yakni yang pro terhadap perusahaan, 
yang kontra, dan yang diam, meskipun mereka melihat ada oknum Brimob yang 
mendampingi perusahaan untuk menanam sawit. 

“Saya menyesalkan mengapa orang-orang kaya dan berpendidikan ternyata lebih 
miskin dan bodoh,” Mardiana menegaskan. 

Setegar-tegarnya Mardiana, matanya terlihat berkaca-kaca ketika bercerita bahwa 
bulu burung juwe yang biasa ditancapkan di topi, makin jarang karena mulai 
punah. Topi lawung pun kian jarang yang membuatnya, karena tak ada lagi kulit 
kayunya. Apalagi rompi dari kayu keang, pohon itu pun sudah sangat sulit 
dijumpai. 

(Sinar Harapan) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke