http://www.shnews.co/detile-1988-masyarakat-rentan-konflik.html


Masyarakat Rentan Konflik 
Junaidi Hanafiah | Jumat, 18 Mei 2012 - 16:03:30 WIB




(dok/antara)Legitimasi negara merosot, kekerasan terjadi dari Aceh hingga 
Papua. 
JAKARTA - Aksi kekerasan marak terjadi di sejumlah tempat sepanjang pekan ini, 
dari Aceh hingga Papua. Pemicunya bisa beragam, tapi akar masalahnya adalah 
merosotnya legitimasi negara di hadapan publik. 

Di Aceh, dua orang tewas ditembak orang tidak dikenal, Rabu (16/5) dini hari, 
di kawasan Kuta Blang Kabupaten Bireun. Motif penembakan yang menewaskan 
Sekretaris Partai Aceh Lhokseumawe Sukri bin Abdullah dan pengusaha Cut Yeti 
tersebut belum diketahui. 

Polda Aceh mengatakan penembakan tersebut tidak terkait dengan pemilihan kepala 
daerah (pilkada). Namun diakui pelaku sangat profesional dengan menggunakan 
senjata laras panjang jenis AK 47. “Jenis senjata yang digunakan diketahui dari 
selongsong peluru yang ditemukan oleh petugas,” ungkap Kabag Humas Polda Aceh 
Kombes Pol Gultav Leo Gustav. 

Di Ambon, Kamis (17/5) dini hari sekitar pukul 03.00 WIT, ledakan bom di tiga 
tempat berbeda mengagetkan warga Kota Masohi. Ledakan bom tersebut meledak di 
depan rumah Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Malteng Aziz 
Sangkala, gedung DPRD Kabupaten Malteng dan Kantor Bupati Malteng. Ledakan bom 
rakitan tersebut tidak memakan korban, namun ditengarai terkait ricuh jelang 
persiapan pilkada. 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Maluku AKBP Johanes 
Huwae, Jumat (18/5), menduga ledakan bom di Masohi akibat tidak terakomodasinya 
keinginan salah satu kandidat untuk menunda pelaksanaan pilkada putaran kedua 
hingga usai digelarnya acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXIV tanggal 8-19 
Juni. “Itu sudah pasti riak-riak kandidat yang tidak terakomodasi,” ujarnya. 

Sebelumnya, Selasa (15/5), Ambon juga sempat rusuh saat digelar acara 
arak-arakan peringatan HUT Pattimura. Rusuh ini dipicu perkelahian antarwarga. 
Sebanyak 44 orang terluka dalam bentrokan tersebut. Polisi lamban menangani 
karena sempat terkelabui informasi palsu yang mengatakan rusuh akan terjadi di 
lokasi yang berbeda. 

Wakil Gubernur Maluku Said Assagaff, hari ini, meminta Polres Pulau Ambon dan 
Pulau-Pulau Lease tidak memberikan izin keramaian jelang pelaksanaan MTQ. 

"Saya minta Polres Ambon tidak mengeluarkan izin keramaian kepada masyarakat. 
Langkah ini guna mencegah terjadinya hal-hal tidak diinginkan yang dapat 
mengganggu stabilitas keamanan saat pelaksanaan MTQ tingkat nasional itu," 
katanya. 

Di Papua, seorang tukang ojek, Arkilaur Refwutu (48), tewas ditembak orang tak 
dikenal, Kamis pagi, saat mengantar penumpang di Kampung Yalinggua, Mulia, 
Kabupaten Puncak Jaya. Korban ditembak di bagian muka sehingga langsung tewas 
di tempat kejadian. Setelah dilakukan visum oleh dokter, atas izin keluarga 
korban, Arkilaur Refwutu akan dimakamkan di Mulia. 

Direktur Reserse Umum Kepolisian Daerah (Polda) Papua Kombes Pol Wachyono 
mengatakan Polres Puncak Jaya saat ini sedang melakukan olah TKP, dan visum 
atas luka yang dialami korban. “Kami juga sedang mencari proyektil yang 
bersarang di tubuh korban. Dari proyektil tersebut akan dikirim ke labfor, 
setelah itu baru diketahui senjata apa yang dipakai oleh pelaku," ungkapnya. 

Legitimasi Negara Merosot 

Sosiolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sudjito melihat maraknya 
kekerasan antarmasyarakat akhir-akhir ini terjadi akibat kemerosotan legitimasi 
negara, baik di tingkatan eksekutif, parlemen, maupun penegak hukum. “Ini 
memunculkan reaksi balik dari masyarakat sipil. Masyarakat sipil dalam kondisi 
rentan. Pemicunya bisa pilkada atau pemekaran atau lainnya,” ungkapnya. 

Kasus-kasus, seperti yang terjadi di Aceh, Ambon, atau Papua tersebut, menurut 
Arie, akan terjadi lagi secara beruntun, jika negara tidak membenahi performa 
di hadapan masyarakat. “Harus ada tindakan dan policy yang membuat rakyat 
percaya. Contoh, kalau ada korupsi ya dituntaskan. Penyelesaian kasus-kasus 
pelanggaran HAM (hak asasi manusia), seperti Mesuji dan Bima, juga harus tuntas 
diselesaikan,” katanya. 

Sementara dari sisi masyarakat harus dibangun kesadaran agar tidak gampang 
terjebak dan terprovokasi oleh isu-isu agama maupun etnis. “Konflik struktural 
jangan sampai jadi konflik kultural sehingga meunculkan bentrok antarkelompok,” 
kata Arie. 

Dalam hal inilah peran tokoh masyarakat, baik pemimpin adat maupun agama, 
menjadi penting agar masyarakat juga tidak mudah dimobilisasi elite politik 
lokal maupun nasional. (Izaac Tulalessy/Ant/Fransisca Ria Susanti) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke