Ref: Bagi yang pandai agama, dipersilahkan memberikan komentar, jangan hanya 
bicara dibelakang layar. Plisss, monggo-monggo, bitte !


http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38247

SENIN, 21 Mei 2012 | 195 Hits


Islam Moderat Solusi Bangsa? 
Mustajab Al-Musthafa, Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Sulsel


Seminar yang dirangkaikan peluncuran buku bertema “Merajut Islam Moderat: Upaya 
Membumikan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara”, menarik direspons. DR H 
Abdul Rauf 

Amin, seorang panelis seminar yang juga kontributor pada buku yang diluncurkan 
itu memaparkan bahwa moderatisasi dicapai melalui substansialisasi, 
kontekstualisasi, dan rasionalisasi teks menjadi prinsip dasar berijtihad. 
Sayangnya istilah moderat kurang tereksplorasi secara mendalam.

Moderat seperti disampaikan Abdul Rauf Amin disinonimkan kata al-wasath dengan 
menyebutkan beberapa makna dari kata al-wasath (yakni: di tengah-tengah, yang 
terbaik, adil). Sementara kata moderat dimaknai toleran (dalam pemikiran Islam) 
dan penuh hikmah (dalam dakwah). Padahal kata moderat merupakan kata serapan, 
yakni kata asing yang di-Indonesia-kan yang tentunya perlu ditelusuri 
makna-makna dan aspek-aspek yang melingkupinya pada awal penggunaannya.

Istilah moderat populer pertama kali di Eropa pada masa renaissance ketika 
terjadi pergolakan pemikiran antara para filosof dengan pihak agamawan 
(pendeta/pastor) dan raja. Pergolakan itu terkait otoritas agamawan dan raja 
dalam kekuasaan, yang berkolaborasi dalam mengendalikan kekuasaan yang 
melahirkan banyak ketimpangan.

Kondisi itu kemudian diprotes kalangan cerdik pandai (filosof) agar kekuasaan 
tunduk pada rumusan mereka. Akhirnya muncul sikap kompromi dari keduanya, yakni 
memberikan otoritas agamawan hanya pada ruang lingkup gereja (moralitas dan 
spiritual) yang sifatnya privat. Sementara untuk wilayah publik, agama (tentu 
juga agamawan) tak boleh terlibat. Di sinilah sekularisasi kehidupan publik 
terwujud. Dan sikap kompromi dan sekuler inilah yang kemudian disebut moderat.

Sementara istilah al-wasath (wasathan) di antaranya dinyatakan dalam QS 
Al-Baqarah: 143. Dalam ayat ini, kata wasath yang diungkap menunjukkan karakter 
umat Islam. Murtadha az-Zubaidi dalam Tâj al-‘Urûsy; ar-Razi dalam Mukhtâr 
ash-Shihâh dan al-Jauhari dalam ash-Shihâh fî al-Lughah mengatakan: al-wasath 
dari segala sesuatu adalah a’daluhu (yang paling lurus/paling adil).

Juga dikatakan sesuatu yang wasath adalah antara yang baik dan yang jelek 
(kualitas medium). Rawwas Qal’ah Ji di Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ menambahkan 
bahwa al-wasath bentuk jamaknya awsâth, artinya al-mu’tadil (pertengahan). 
Wasathu asy-syay`i adalah pertengahan antara dua kutubnya dan dari situ maka 
wasath ath-tharîq adalah tengahnya.

Di dalam Alquran kata wasath disebutkan lima kali, dan empat ayat lainnya, 
yaitu; ash-shalât al-wusthâ (QS al-Baqarah: 238) untuk menyebut salat asar 
dalam mayoritas riwayatnya; min awsâth mâ tuth’imûna ahlîkum (QS al-Maidah: 89) 
dengan makna a’dal (paling baik) atau amstal (semisal) atau yang rata-rata; 
qâla awsâthuhum (QS al-Qalam: 28, dengan makna yang paling baik dan pilihan; fa 
wasathna bihi jam’an (QS al-Adiyat: 5, dengan arti tengah-tengah perkumpulan.

Di dalam Lisân al-‘Arab dinyatakan: “Ketahuilah bahwa wasath kadang datang 
sebagai sifat meski asalnya merupakan isim (kata benda). Dari satu sisi bahwa 
awsath asy-syay’i afdhaluhu wa khiyâruhu—wasath sesuatu adalah yang paling 
afdhal dan yang terbaik serta yang pilihan.” Selanjutnya juga dinyatakan: 
“Ketika wasath sesuatu adalah yang paling afdhal dan paling adil atau lurus 
maka kata wasath itu bisa berposisi sebagai sifat. Itu seperti firman Allah swt 
(yang artinya): Demikian pula Kami telah menjadikan kalian umat[an] wasath[an] 
(yaitu ‘adilan [adil]). Inilah tafsir wasath dan hakikat maknanya.”

Sekuler
Jika wasath diartikan sikap di antara ghuluw (berlebihan) dan taqshîr 
(mengabaikan) atau di antara ifrâth dan tafrîth, maka itu juga tidak berarti 
sikap moderat, jalan tengah atau kompromi; melainkan adalah sikap tidak 
guluw/ifrâth dan tidak taqshîr/tafrîth. Imam ath-Thabari di dalam Tafsîr 
ath-Thabarî saat menjelaskan QS an-Nisa: 171 menjelaskan, bahwa asal al-ghuluw 
dalam segala hal adalah melampaui batas yang telah ditetapkan. Di dalam Qâmûsh 
al-Muhîth dan Mukhtâr ash-Shihâh juga dinyatakan bahwa al-ghuluw artinya 
melampaui batas.

Allah swt telah menetapkan batasan-batasan yaitu hudud Allah yang tidak boleh 
dilanggar atau dilampaui (QS al-Baqarah: 187, 229). Karena itu, secara syar’i, 
al-ghuluw/ifrâth adalah melampaui hudud Allah. Misalnya, mengharamkan yang 
halal, menghalalkan yang haram, mewajibkan yang sunnah, menambah-nambah dalam 
hal ibadah, dan sebagainya.

Berlebih-lebihan hingga bersikap ghuluw/ifrâth seperi itulah yang dilarang dan 
itu bukan sikap wasath. Begitupun sikap taqshîr/tafrîth, yaitu sikap 
mengabaikan atau menelantarkan ketentuan Allah, yakni meninggalkan yang wajib 
atau melakukan yang haram, dan itu juga bukan sikap wasath.

Olehnya itu, tidaklah tepat menyamakan kata moderat dengan al-wasath. Karena 
ada makna dari kedua istilah itu yang berbeda bahkan bertentangan satu sama 
lain, sekalipun juga memiliki makna yang sama. Penggunaan dan penerimaan 
istilah Islam Moderat lebih menunjukkan kekalahan berpikir atas perang 
pemikiran yang tengah dilangsungkan Barat atas Dunia Islam. Juga menunjukkan 
kelemahan analisis dan ketidakmampuan counter of idea atas pemikiran Barat.

Kesimpulannya, ummat[an] wasath[an] adalah umat yang adil dan pilihan, bukan 
umat yang moderat. Karena umat yang moderat cenderung menolak keterlibatan 
agama dalam pengaturan urusan publik (sosial, ekonomi, politik, dan bidang 
kehidupan publik lainnya). Umat moderat lebih sering menolak formalisasi agama 
(Islam) dengan bahasa substansialisasi, kontekstualisasi, dan rasionalisasi. 
Jika demikian halnya, Islam Moderat sama saja dengan Islam Sekuler. Dengan 
demikian, mengharap pada kaum moderat untuk membumikan Islam adalah jauh 
panggang dari api yang tentunya juga kerahmatan Islam untuk seluruh alam tak 
akan kunjung terwujud. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke