Apa Abbas Amin itu moderat? Dia mau ngebunuh gua sambil malakin gua jg. Apa tawangalun itu moderat? Dia ngajurin spy cino2 diperkosa dan ngedukung pedophilia.
Apa safinc blanc moderat? Dia ga keberatan kalo itil cewek2 dipotong. Apa orang2 Islam di milis ini moderat? Orang2 Islam ngedukung Abbas Amin dan tawangalun, muji2 mereka sbg orang baik. Termasuk di dlmnya adalah orang2 yg ngakunya agnostik atau abangan, tp sebetulnya mereka cuma oportunis tulen. Hehehe.... apa ga ada yg berani bilang apakah orang2 Islam di milis ini moderat? >________________________________ > From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Wednesday, May 23, 2012 2:04 AM >Subject: [proletar] Islam Moderat Solusi Bangsa? > > > > >Ref: Bagi yang pandai agama, dipersilahkan memberikan komentar, jangan hanya >bicara dibelakang layar. Plisss, monggo-monggo, bitte ! > >http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38247 > >SENIN, 21 Mei 2012 | 195 Hits > >Islam Moderat Solusi Bangsa? >Mustajab Al-Musthafa, Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Sulsel > >Seminar yang dirangkaikan peluncuran buku bertema “Merajut Islam Moderat: >Upaya Membumikan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara”, menarik direspons. >DR H Abdul Rauf > >Amin, seorang panelis seminar yang juga kontributor pada buku yang diluncurkan >itu memaparkan bahwa moderatisasi dicapai melalui substansialisasi, >kontekstualisasi, dan rasionalisasi teks menjadi prinsip dasar berijtihad. >Sayangnya istilah moderat kurang tereksplorasi secara mendalam. > >Moderat seperti disampaikan Abdul Rauf Amin disinonimkan kata al-wasath dengan >menyebutkan beberapa makna dari kata al-wasath (yakni: di tengah-tengah, yang >terbaik, adil). Sementara kata moderat dimaknai toleran (dalam pemikiran >Islam) dan penuh hikmah (dalam dakwah). Padahal kata moderat merupakan kata >serapan, yakni kata asing yang di-Indonesia-kan yang tentunya perlu ditelusuri >makna-makna dan aspek-aspek yang melingkupinya pada awal penggunaannya. > >Istilah moderat populer pertama kali di Eropa pada masa renaissance ketika >terjadi pergolakan pemikiran antara para filosof dengan pihak agamawan >(pendeta/pastor) dan raja. Pergolakan itu terkait otoritas agamawan dan raja >dalam kekuasaan, yang berkolaborasi dalam mengendalikan kekuasaan yang >melahirkan banyak ketimpangan. > >Kondisi itu kemudian diprotes kalangan cerdik pandai (filosof) agar kekuasaan >tunduk pada rumusan mereka. Akhirnya muncul sikap kompromi dari keduanya, >yakni memberikan otoritas agamawan hanya pada ruang lingkup gereja (moralitas >dan spiritual) yang sifatnya privat. Sementara untuk wilayah publik, agama >(tentu juga agamawan) tak boleh terlibat. Di sinilah sekularisasi kehidupan >publik terwujud. Dan sikap kompromi dan sekuler inilah yang kemudian disebut >moderat. > >Sementara istilah al-wasath (wasathan) di antaranya dinyatakan dalam QS >Al-Baqarah: 143. Dalam ayat ini, kata wasath yang diungkap menunjukkan >karakter umat Islam. Murtadha az-Zubaidi dalam Tâj al-‘Urûsy; ar-Razi dalam >Mukhtâr ash-Shihâh dan al-Jauhari dalam ash-Shihâh fî al-Lughah mengatakan: >al-wasath dari segala sesuatu adalah a’daluhu (yang paling lurus/paling adil). > >Juga dikatakan sesuatu yang wasath adalah antara yang baik dan yang jelek >(kualitas medium). Rawwas Qal’ah Ji di Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ menambahkan >bahwa al-wasath bentuk jamaknya awsâth, artinya al-mu’tadil (pertengahan). >Wasathu asy-syay`i adalah pertengahan antara dua kutubnya dan dari situ maka >wasath ath-tharîq adalah tengahnya. > >Di dalam Alquran kata wasath disebutkan lima kali, dan empat ayat lainnya, >yaitu; ash-shalât al-wusthâ (QS al-Baqarah: 238) untuk menyebut salat asar >dalam mayoritas riwayatnya; min awsâth mâ tuth’imûna ahlîkum (QS al-Maidah: >89) dengan makna a’dal (paling baik) atau amstal (semisal) atau yang >rata-rata; qâla awsâthuhum (QS al-Qalam: 28, dengan makna yang paling baik dan >pilihan; fa wasathna bihi jam’an (QS al-Adiyat: 5, dengan arti tengah-tengah >perkumpulan. > >Di dalam Lisân al-‘Arab dinyatakan: “Ketahuilah bahwa wasath kadang datang >sebagai sifat meski asalnya merupakan isim (kata benda). Dari satu sisi bahwa >awsath asy-syay’i afdhaluhu wa khiyâruhu—wasath sesuatu adalah yang paling >afdhal dan yang terbaik serta yang pilihan.” Selanjutnya juga dinyatakan: >“Ketika wasath sesuatu adalah yang paling afdhal dan paling adil atau lurus >maka kata wasath itu bisa berposisi sebagai sifat. Itu seperti firman Allah >swt (yang artinya): Demikian pula Kami telah menjadikan kalian umat[an] >wasath[an] (yaitu ‘adilan [adil]). Inilah tafsir wasath dan hakikat maknanya.” > >Sekuler >Jika wasath diartikan sikap di antara ghuluw (berlebihan) dan taqshîr >(mengabaikan) atau di antara ifrâth dan tafrîth, maka itu juga tidak berarti >sikap moderat, jalan tengah atau kompromi; melainkan adalah sikap tidak >guluw/ifrâth dan tidak taqshîr/tafrîth. Imam ath-Thabari di dalam Tafsîr >ath-Thabarî saat menjelaskan QS an-Nisa: 171 menjelaskan, bahwa asal al-ghuluw >dalam segala hal adalah melampaui batas yang telah ditetapkan. Di dalam Qâmûsh >al-Muhîth dan Mukhtâr ash-Shihâh juga dinyatakan bahwa al-ghuluw artinya >melampaui batas. > >Allah swt telah menetapkan batasan-batasan yaitu hudud Allah yang tidak boleh >dilanggar atau dilampaui (QS al-Baqarah: 187, 229). Karena itu, secara syar’i, >al-ghuluw/ifrâth adalah melampaui hudud Allah. Misalnya, mengharamkan yang >halal, menghalalkan yang haram, mewajibkan yang sunnah, menambah-nambah dalam >hal ibadah, dan sebagainya. > >Berlebih-lebihan hingga bersikap ghuluw/ifrâth seperi itulah yang dilarang dan >itu bukan sikap wasath. Begitupun sikap taqshîr/tafrîth, yaitu sikap >mengabaikan atau menelantarkan ketentuan Allah, yakni meninggalkan yang wajib >atau melakukan yang haram, dan itu juga bukan sikap wasath. > >Olehnya itu, tidaklah tepat menyamakan kata moderat dengan al-wasath. Karena >ada makna dari kedua istilah itu yang berbeda bahkan bertentangan satu sama >lain, sekalipun juga memiliki makna yang sama. Penggunaan dan penerimaan >istilah Islam Moderat lebih menunjukkan kekalahan berpikir atas perang >pemikiran yang tengah dilangsungkan Barat atas Dunia Islam. Juga menunjukkan >kelemahan analisis dan ketidakmampuan counter of idea atas pemikiran Barat. > >Kesimpulannya, ummat[an] wasath[an] adalah umat yang adil dan pilihan, bukan >umat yang moderat. Karena umat yang moderat cenderung menolak keterlibatan >agama dalam pengaturan urusan publik (sosial, ekonomi, politik, dan bidang >kehidupan publik lainnya). Umat moderat lebih sering menolak formalisasi agama >(Islam) dengan bahasa substansialisasi, kontekstualisasi, dan rasionalisasi. >Jika demikian halnya, Islam Moderat sama saja dengan Islam Sekuler. Dengan >demikian, mengharap pada kaum moderat untuk membumikan Islam adalah jauh >panggang dari api yang tentunya juga kerahmatan Islam untuk seluruh alam tak >akan kunjung terwujud. (*) > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
