Seperti pernah saya bilang, musik etnik kepulauan nusantara 
(juga seni-budaya dan tradisi lainnya) masih hidup sampai 
detik ini. Tidak seperti meriahnya budaya agraris Eropa yang 
kini cuma dimunculkan dalam festival-festival karena terbekap 
senyapnya budaya & tradisi X'mas. 

Seni-budaya nusantara betul-betul masih hidup dan menghidupi 
masyarakatnya. Jadi, Bangsa Indonesia sungguh beruntung, 
samasekali belum melupakan adat, tradisi, budayanya sendiri 
walau betul agak terbengkalai di tengah deru-derap langkah 
pemerintah mengemis utang. 

Yang menyedihkan dari Paris Exhibition 1889 itu adalah 
kedudukan budaya nusantara yang diperlakukan sebagai bukti 
kejayaan kolonial Belanda seperti kata Marieke Bloembergen: 
"melalui (paviliun) desa Jawa ini, orang Belanda ingin 
diperhitungkan dalam percaturan politik Eropa waktu itu. 
Maklum Belanda yang kecil ini tidak punya pengaruh di Eropa 
dan itu juga tidak berubah dengan punya jajahan, seberapapun 
besarnya jajahan itu." 

Dan, Debussy patut diperhitungkan jasanya karena bukan ikut 
mempertontonkan "hasil taklukan" kolonial, melainkan memberi 
"caption" yang menggugah tentang (budaya) kepulauan nusantara. 
Enam tahun setelah itu, Debussy membuat komposisi orkestra 
yang -kata orang- mengaduk gaya impresionis menjadi harmoni, 
"La mer" (Sang Laut). 

--- "arra_s" <arra_s@...> wrote:

> salute….
> kalau kita hidup bergelimang mutiara, kadang lupa betapa bernilai 
> nya si kumpulan mutiara…
> dibiarkan terbengkalai, jarang dirawat, jarang di banggakan, jarang 
> di sentuh dan di nikmati….
> sampai suatu saat,  sebuah mutiara menampakkan sinar nya di negeri 
> orang baru terhenyak….  itu kan mutiara saya…..  
> 
> gamelan bersinar di Paris lewat sentuhan Debussy…
> 
> pernah lewat di salah satu plaza di Kuala Lumpur, salah satu 
> perusahaan internet provider sedang promosi 4G, music pengantar nya 
> degung sunda…  
> seneng sih denger music sendiri di negeri orang, tetapi kenapa yah 
> ada yg nyangkut di hati….
> 
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=Si7-ScfxzlM&feature=related
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=JjxNtecLfhA
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=uPRG5pIVYVs&feature=related
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=Y8ZPZmNyDRM
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=WEsfevRfjCI&feature=related
> 
> 
> 
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> 
> > Paris Exhibition itu menjadi titik tolak Debussy 
> > untuk melepaskan diri dari pengaruh Richard Wagner 
> > yang spesialis musik drama & opera. Selanjutnya 
> > Debussy beralih ke drama sungguhan di panggung dunia, 
> > 
> > "berguru pada irama abadi ombak lautan, desik 
> > daun terhembus angin, dan banyak bunyi-bunyian lain, 
> > musik Jawa memiliki kontrapun yang menyebabkan 
> > kontrapun Palestrina seperti mainan anak kecil" 
> > 
> > http://www.youtube.com/watch?v=qxDjLhy3aRk
> > 
> > 
> > --- "awind" <j.gedearka@...> wrote:
> > 
> > > Leeghttp://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/debussy-dan-gamelan-pameran-semesta-paris-1889
> > > 
> > >  
> > > Map 
> > > Hilversum, Belanda 
> > > Hilversum, Belanda 
> > > Debussy dan Gamelan: Pameran Semesta Paris 1889
> > > Diterbitkan : 18 Mei 2012 - 3:13pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: 
> > > Le Village Javanais) 
> > > Diarsip dalam: 
> > >   a.. Debussy
> > >   b.. Gamelan
> > >   c.. Pagodes
> > > Orang-orang Jawa dan Sunda juga hadir di Paris ketika pada 
> > > tahun 1889, dalam rangka memperingati 100 tahun revolusi 
> > > Prancis, Menara Eiffel diresmikan. Mereka didatangkan ke Paris 
> > > untuk mengisi le village Javanais (desa Jawa), sebutan pavilyun 
> > > Belanda dalam l'exhibition universelle atau pameran semesta 
> > > yang waktu itu digelar selama enam bulan. Pada pameran ini 
> > > gamelan menancapkan pengaruhnya pada musik barat.
> > > 
> > > Dengan pengaruh gamelan, komponis Prancis Claude Debussy 
> > > [1862-1918] berhasil mendobrakkan pembaruan pada musik klasik 
> > > Barat. Debussy dikenal sebagai komponis pelopor aliran 
> > > impresionisme dalam dunia musik. Berbeda dengan musik aliran 
> > > romantis pendahulunya, musik aliran impresionis ini misalnya 
> > > menolak kaidah bahwa akord pengiring ditentukan oleh melodinya. 
> > > Jadi menurut aliran romantis, kalau melodinya demikian, maka 
> > > akord yang mengiringi melodi itu biasanya juga harus demikian. 
> > > Aliran impresionis yang dipelopori Claude Debussy menolak itu. 
> > > Mereka membebaskan akord dari melodi. Yang diutamakan adalah 
> > > nuansa musiknya.
> > > 
> > > Mitos Debussy
> > > Debussy sendiri memang dikenal sebagai komponis yang terus 
> > > mencari hal-hal baru dalam dunia musik, termasuk tangga nada 
> > > baru dan akord-akord pengiring yang baru pula. Pencarian inilah 
> > > yang menghantarnya berkenalan dengan musik pentatonis, musik 
> > > lima nada, musik gamelan.
> > > 
> > > Dalam menyebut gamelan seseorang memang harus kritis. Apalagi 
> > > kita orang Indonesia, negeri asal gamelan itu. Di Barat orang 
> > > memang sering menyebut Debussy terpengaruh gamelan Jawa, lalu  
> > > menguraikan bahwa gamelan Jawa punya tangga nada pélog dan 
> > > sléndro, mungkin setara dengan minor dan mayor dalam musik 
> > > Barat.
> > > 
> > > Pakar gamelan Belanda Ernst Heins tidak setuju kalau langsung 
> > > disebut bahwa Debussy terpengaruh gamelan Jawa. "Itu mitos 
> > > belaka," tuturnya. Dia menunjuk bahwa waktu itu Debussy 
> > > mendengarkan gamelan Sunda Sari Oneng dengan tangga nada lain 
> > > dari pélog atau sléndro. Jadi mengkaitkan Debussy dengan dua 
> > > tangga nada itu juga tindakan ceroboh, demikian Ernst Heins. 
> > > Buktinya tidak ada, tegasnya.
> > > 
> > > Sejarawati Belanda Marieke Bloembergen bertutur soal pameran 
> > > semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889, dalam rangka 
> > > memperingati 100 tahun revolusi Prancis. Menurutnya ada dua hal 
> > > yang ingin ditonjolkan dalam pameran ini. Pertama, kemajuan 
> > > teknologi yang diwakili oleh Menara Eiffel. Kedua, pameran 
> > > kolonial yang menunjukkan wilayah-wilayah koloni supaya 
> > > kolonialisme memperoleh dukungan rakyat Prancis.
> > > 
> > > Mainan anak kecil
> > > Dalam pameran semesta ini Belanda tampil sebagai satu-satunya 
> > > negara asing, karena Prancis ingin meneladani kolonialisme 
> > > Belanda. Pada pintu masuk Pavilyun Belanda tertera tulisan 
> > > besar Le Village Javanais, Desa Jawa. Tetapi pada buku 
> > > pengantar tertera tulisan Le Kampong Javanais, Kampung Jawa. 
> > > Yang jelas menurut Marieke Bloembergen melalui desa Jawa ini, 
> > > orang Belanda ingin diperhitungkan dalam percaturan politik 
> > > Eropa waktu itu. Maklum Belanda yang kecil ini tidak punya 
> > > pengaruh di Eropa dan itu juga tidak berubah dengan punya 
> > > jajahan, seberapapun besarnya jajahan itu.
> > > 
> > > Desa Jawa di Paris dihuni oleh orang Jawa, mereka yang memang 
> > > didatangkan dari Sunda dan Jawa. Ada pemain gamelan yang 
> > > berasal dari desa Parakan Salak di dekat Sukabumi. Mereka 
> > > sebenarnya bukan pemain gamelan profesional tetapi buruh kebun 
> > > teh yang main gamelan di waktu senggang. Ada penari yang 
> > > berasal di Kraton Mangkunegaran di Solo. Tarian kraton 
> > > Mangkunegaran yang diiringi gamelan Sunda jelas membikin orang 
> > > heran, tapi penonton di Paris jelas tidak tahu. Mereka 
> > > berbondong-bondong menonton dan tercatat 875 ribu orang 
> > > mengunjungi Desa Jawa. Selain pemain gamelan Sunda dan penari 
> > > kraton Mangkunegara, juga didatangkan orang-orang dari Surabaya
> > > dan Yogyakarta yang memahat, membatik dan menenun di desa Jawa 
> > > itu.
> > > 
> > > Salah satu tokoh yang bertandang ke Desa Jawa adalah komponis 
> > > Prancis Claude Debussy. Sekali datang, Debussy menghabiskan 
> > > waktu sampai berjam-jam. Meresensi Sari Oneng, komponis Prancis 
> > > ini menulis: "berguru pada irama abadi ombak lautan, desik daun 
> > > terhembus angin, dan banyak bunyi-bunyian lain, musik Jawa 
> > > memiliki kontrapun yang menyebabkan kontrapun Palestrina 
> > > seperti mainan anak kecil". "Harus diakui," tulisnya lagi, 
> > > "instrumen perkusi orkestra Barat hanya memperdengarkan bunyi-
> > > bunyian primitif seperti yang terdengar di pasar malam".
> > > 
> > > Pintu gerbang
> > > Pada tahun 1903 Debussy menerbitkan Estampes, kumpulan tiga 
> > > komposisi piano karyanya. Nomer pertama, berjudul Pagodes, 
> > > merupakan pembaruan penting. Kalau musik aliran romantis begitu 
> > > bergejolak dan berapi-api, maka musik Debussy, disebut musik 
> > > aliran impresionis, lebih lamat-lamat dan lebih mementingkan 
> > > nuansa. Itu dicapainya dengan menggubah paduan nada (akord) 
> > > yang mengambang dan tidak pernah mencapai penjelesaian. 
> > > Caranya, antara lain, dengan menggunakan musik pentatonis lima 
> > > nada, nada gamelan. Tak pelak lagi, Pagodes adalah karya 
> > > Debussy yang paling terdengar pengaruh pentatonisnya.
> > > 
> > > Pianis Indonesia Ananda Sukarlan yang sudah merekam CD berjudul 
> > > "The Pentatonic Connection" menyebut karya ini istimewa. 
> > > "Karena dengan not yang lebih sedikit dari not barat, bisa 
> > > lahir sebuah karya yang ada artinya", demikian Ananda menunjuk 
> > > pada pentatonis yang hanya lima nada dengan tangga nada Barat
> > > yang memiliki 12 nada.
> > > 
> > > Ananda merasa lebih mudah menafsirkan musik pentatonis. 
> > > "Rasanya seperti ada bagian diri saya di dalam karya tersebut," 
> > > katanya. Tetapi selain hal yang memudahkan itu, Ananda juga 
> > > menghadapi masalah pelik. "Bagaimana mementaskan karya-karya 
> > > pentatonis ini supaya tidak terdengar klise. Atau terdengar 
> > > seperti gamelan palsu." Walaupun berisi nada-nada gamelan,  
> > > musik Debussy jelas bukanlah musik gamelan yang sebenarnya. 
> > > 
> > > Ananda memiliki pegangan menarik untuk menginterprestasikan 
> > > karya Debussy. Menurutnya baru pertama kali Debussy mendengar 
> > > gamelan, dan itu tercermin dalam Pagodes. "Jadi seperti seorang 
> > > anak kecil yang tengah belajar bicara. Omongannya tidak jelas". 
> > > Bagi Ananda Pagodes baru pengaruh awal gamelan, jadi belum 
> > > benar-benar intens dan menyeluruh. Anda setuju kalau disebut 
> > > bahwa Pagodes adalah semacam pintu gerbang yang membawa orang 
> > > masuk ke dalam khazanah musik campuran Timur dengan Barat.
> > > 
> > >   a.. © Foto: Javanais - 
> > > http://www.culture.gouv.fr/Wave/image/joconde/0656/m500202_atpico041365_p.jpga..
> > >   
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke