Paris Exhibition itu menjadi titik tolak Debussy 
untuk melepaskan diri dari pengaruh Richard Wagner 
yang spesialis musik drama & opera. Selanjutnya 
Debussy beralih ke drama sungguhan di panggung dunia, 

"berguru pada irama abadi ombak lautan, desik 
daun terhembus angin, dan banyak bunyi-bunyian lain, 
musik Jawa memiliki kontrapun yang menyebabkan 
kontrapun Palestrina seperti mainan anak kecil" 

http://www.youtube.com/watch?v=qxDjLhy3aRk


--- "awind" <j.gedearka@...> wrote:

> Leeghttp://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/debussy-dan-gamelan-pameran-semesta-paris-1889
> 
>  
> Map 
> Hilversum, Belanda 
> Hilversum, Belanda 
> Debussy dan Gamelan: Pameran Semesta Paris 1889
> Diterbitkan : 18 Mei 2012 - 3:13pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Le 
> Village Javanais) 
> Diarsip dalam: 
>   a.. Debussy
>   b.. Gamelan
>   c.. Pagodes
> Orang-orang Jawa dan Sunda juga hadir di Paris ketika pada tahun 
> 1889, dalam rangka memperingati 100 tahun revolusi Prancis, Menara 
> Eiffel diresmikan. Mereka didatangkan ke Paris untuk mengisi le 
> village Javanais (desa Jawa), sebutan pavilyun Belanda dalam 
> l'exhibition universelle atau pameran semesta yang waktu itu 
> digelar selama enam bulan. Pada pameran ini gamelan menancapkan 
> pengaruhnya pada musik barat.
> 
> Dengan pengaruh gamelan, komponis Prancis Claude Debussy 
> [1862-1918] berhasil mendobrakkan pembaruan pada musik klasik 
> Barat. Debussy dikenal sebagai komponis pelopor aliran 
> impresionisme dalam dunia musik. Berbeda dengan musik aliran 
> romantis pendahulunya, musik aliran impresionis ini misalnya 
> menolak kaidah bahwa akord pengiring ditentukan oleh melodinya. 
> Jadi menurut aliran romantis, kalau melodinya demikian, maka akord 
> yang mengiringi melodi itu biasanya juga harus demikian. Aliran 
> impresionis yang dipelopori Claude Debussy menolak itu. Mereka 
> membebaskan akord dari melodi. Yang diutamakan adalah nuansa 
> musiknya.
> 
> Mitos Debussy
> Debussy sendiri memang dikenal sebagai komponis yang terus mencari 
> hal-hal baru dalam dunia musik, termasuk tangga nada baru dan 
> akord-akord pengiring yang baru pula. Pencarian inilah yang 
> menghantarnya berkenalan dengan musik pentatonis, musik lima nada, 
> musik gamelan.
> 
> Dalam menyebut gamelan seseorang memang harus kritis. Apalagi kita 
> orang Indonesia, negeri asal gamelan itu. Di Barat orang memang 
> sering menyebut Debussy terpengaruh gamelan Jawa, lalu menguraikan 
> bahwa gamelan Jawa punya tangga nada pélog dan sléndro, mungkin 
> setara dengan minor dan mayor dalam musik Barat.
> 
> Pakar gamelan Belanda Ernst Heins tidak setuju kalau langsung 
> disebut bahwa Debussy terpengaruh gamelan Jawa. "Itu mitos belaka," 
> tuturnya. Dia menunjuk bahwa waktu itu Debussy mendengarkan gamelan 
> Sunda Sari Oneng dengan tangga nada lain dari pélog atau sléndro. 
> Jadi mengkaitkan Debussy dengan dua tangga nada itu juga tindakan 
> ceroboh, demikian Ernst Heins. Buktinya tidak ada, tegasnya.
> 
> Sejarawati Belanda Marieke Bloembergen bertutur soal pameran 
> semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889, dalam rangka 
> memperingati 100 tahun revolusi Prancis. Menurutnya ada dua hal 
> yang ingin ditonjolkan dalam pameran ini. Pertama, kemajuan 
> teknologi yang diwakili oleh Menara Eiffel. Kedua, pameran kolonial 
> yang menunjukkan wilayah-wilayah koloni supaya kolonialisme 
> memperoleh dukungan rakyat Prancis.
> 
> Mainan anak kecil
> Dalam pameran semesta ini Belanda tampil sebagai satu-satunya 
> negara asing, karena Prancis ingin meneladani kolonialisme Belanda. 
> Pada pintu masuk Pavilyun Belanda tertera tulisan besar Le Village 
> Javanais, Desa Jawa. Tetapi pada buku pengantar tertera tulisan Le 
> Kampong Javanais, Kampung Jawa. Yang jelas menurut Marieke 
> Bloembergen melalui desa Jawa ini, orang Belanda ingin 
> diperhitungkan dalam percaturan politik Eropa waktu itu. Maklum 
> Belanda yang kecil ini tidak punya pengaruh di Eropa dan itu juga 
> tidak berubah dengan punya jajahan, seberapapun besarnya jajahan 
> itu.
> 
> Desa Jawa di Paris dihuni oleh orang Jawa, mereka yang memang 
> didatangkan dari Sunda dan Jawa. Ada pemain gamelan yang berasal 
> dari desa Parakan Salak di dekat Sukabumi. Mereka sebenarnya bukan 
> pemain gamelan profesional tetapi buruh kebun teh yang main gamelan 
> di waktu senggang. Ada penari yang berasal di Kraton Mangkunegaran 
> di Solo. Tarian kraton Mangkunegaran yang diiringi gamelan Sunda 
> jelas membikin orang heran, tapi penonton di Paris jelas tidak 
> tahu. Mereka berbondong-bondong menonton dan tercatat 875 ribu 
> orang mengunjungi Desa Jawa. Selain pemain gamelan Sunda dan penari 
> kraton Mangkunegara, juga didatangkan orang-orang dari Surabaya dan 
> Yogyakarta yang memahat, membatik dan menenun di desa Jawa itu.
> 
> Salah satu tokoh yang bertandang ke Desa Jawa adalah komponis 
> Prancis Claude Debussy. Sekali datang, Debussy menghabiskan waktu 
> sampai berjam-jam. Meresensi Sari Oneng, komponis Prancis ini 
> menulis: "berguru pada irama abadi ombak lautan, desik daun 
> terhembus angin, dan banyak bunyi-bunyian lain, musik Jawa memiliki 
> kontrapun yang menyebabkan kontrapun Palestrina seperti mainan anak 
> kecil". "Harus diakui," tulisnya lagi, "instrumen perkusi orkestra 
> Barat hanya memperdengarkan bunyi-bunyian primitif seperti yang 
> terdengar di pasar malam".
> 
> Pintu gerbang
> Pada tahun 1903 Debussy menerbitkan Estampes, kumpulan tiga 
> komposisi piano karyanya. Nomer pertama, berjudul Pagodes, 
> merupakan pembaruan penting. Kalau musik aliran romantis begitu 
> bergejolak dan berapi-api, maka musik Debussy, disebut musik aliran 
> impresionis, lebih lamat-lamat dan lebih mementingkan nuansa. Itu 
> dicapainya dengan menggubah paduan nada (akord) yang mengambang dan 
> tidak pernah mencapai penjelesaian. Caranya, antara lain, dengan 
> menggunakan musik pentatonis lima nada, nada gamelan. Tak pelak 
> lagi, Pagodes adalah karya Debussy yang paling terdengar pengaruh 
> pentatonisnya.
> 
> Pianis Indonesia Ananda Sukarlan yang sudah merekam CD berjudul 
> "The Pentatonic Connection" menyebut karya ini istimewa. "Karena 
> dengan not yang lebih sedikit dari not barat, bisa lahir sebuah 
> karya yang ada artinya", demikian Ananda menunjuk pada pentatonis 
> yang hanya lima nada dengan tangga nada Barat yang memiliki 12 nada.
> 
> Ananda merasa lebih mudah menafsirkan musik pentatonis. "Rasanya 
> seperti ada bagian diri saya di dalam karya tersebut," katanya. 
> Tetapi selain hal yang memudahkan itu, Ananda juga menghadapi 
> masalah pelik. "Bagaimana mementaskan karya-karya pentatonis ini 
> supaya tidak terdengar klise. Atau terdengar seperti gamelan 
> palsu." Walaupun berisi nada-nada gamelan, musik Debussy jelas 
> bukanlah musik gamelan yang sebenarnya. 
> 
> Ananda memiliki pegangan menarik untuk menginterprestasikan karya 
> Debussy. Menurutnya baru pertama kali Debussy mendengar gamelan, 
> dan itu tercermin dalam Pagodes. "Jadi seperti seorang anak kecil 
> yang tengah belajar bicara. Omongannya tidak jelas". Bagi Ananda 
> Pagodes baru pengaruh awal gamelan, jadi belum benar-benar intens 
> dan menyeluruh. Anda setuju kalau disebut bahwa Pagodes adalah 
> semacam pintu gerbang yang membawa orang masuk ke dalam khazanah 
> musik campuran Timur dengan Barat.
> 
>   a.. © Foto: Javanais - 
> http://www.culture.gouv.fr/Wave/image/joconde/0656/m500202_atpico041365_p.jpga..
>   
> 




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke