http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/nkri-buntung-tapi-beruntung
  a.. 
 
Map 
Jakarta, Indonesia 
Jakarta, Indonesia 
NKRI Buntung, Tapi Beruntung
Diterbitkan : 23 Mei 2012 - 3:51pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: 
Aboeprijadi Santoso) 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir pekan lalu menghadiri Pesta Raya Ulang 
Tahun ke-10 Restorasi Kemerdekaan Timor Leste, 20 Mei 2012. Oleh-olehnya: 
persahabatan yang makin kental dan penting bagi kedua negara. Namun 
persahabatan itu timpang.

Timor Leste mengharapkan Presiden RI datang dengan keterangan tentang jasad 
pahlawan nasionalnya, Nicolau Lobato, tapi malah dihadiahi meriam kuno. 
Sementara ratusan perwira Indonesia yang bermasalah karena aksi bumi hangus 
pada 1999, meski pun dicekal PBB, tetap menikmati impunitas.

Lebih satu dasawarsa setelah "kehilangan" propinsi ke-27, NKRI buntung, tapi 
ternyata malah beruntung.

Pengingat bermakna
Perayaan satu dasawarsa kemerdekaan Timor Leste itu seharusnya merupakan suatu 
pengingat (reminder) yang bermakna bagi sang tuan rumah mau pun bagi tetangga 
besar, bekas penjajah, yang kini menjadi sahabat penting.

Untuk pertama kali sejak pemerintahan bekas propinsi ke-27 itu beralih ke 
lembaga PBB UNTAET pada 1999, negeri ini mengalami stabilitas politik dan 
kemajuan ekonomi. Timor Leste memegang kendali baru sejak 2002, namun itu pun 
dengan basis politik yang rawan.

Di bawah Front CNRM, yang kelak berubah menjadi Partai CNRT, Timor Leste 
memenangi referendum pada 1999 dengan mayoritas yang meyakinkan. Tapi negeri 
ini bangkit dari puing-puing amuk tentara Indonesia. Dan CNRM/CNRT hanyalah 
sebuah konsep tanpa struktur politik.

Walhasil, sekali pun di bawah lambang Xanana Gusmao sebagai pemersatu bangsa, 
Timor Leste di bawah pemerintahan Partai Fretilin hingga 2006 hanya ramai 
diguncang dari dalam dan luar.

Politik yang stabil
Baru sejak pertengahan 2000an negeri ini mencatat kemajuan. Politik yang stabil 
dan angka pertumbuhan digit-ganda. Tapi ini pun bukan sesuatu yang menakjubkan. 
Berkat bonansa minyak, peluang kerja bertambah secara substansial dan 
menghasilkan stabilitas.

Pertumbuhan 12% mencolok, tapi jika ini beranjak dari puing-puing masa lalu dan 
merupakan hasil dari ketergantungan mutlak pada sumberdaya minyak, maka ini 
tidaklah mengherankan. Bahkan prestasi itu belum menjamin landasan ke depan 
selagi prasarana masih langka dan kemiskinan masih meluas.

Yang terang pemilu presiden yang aman baru baru ini menunjukkan negeri ini 
mulai beranjak mematangkan kehidupan yang demokratis.

Bagi tuan rumah, ini merupakan lompatan yang perlu dirayakan. Bagi sang tamu 
dari RI, ini suatu kehormatan. Presiden Yudhoyono, mantan Danrem di Dili yang 
dikenal masih bersih dari ulah berdarah, mendapat medali negara.

Sedangkan bagi banyak pengamat, Timor Leste adalah semacam monumen tentang 
sebuah masa silam yang kelam. Barang siapa berkelana ke pedalaman, tidaklah 
sulit menjumpai dampak seperempat abad perang dan pendudukan tentara Indonesia.

Dikuburkan bersama-sama
Timor Leste adalah sebuah negeri bertabur kubur. Setiap rata-rata setengah jam 
berperjalanan, Anda dapat melihat sejumlah kuburan yang berstruktur sama dengan 
warna dan hiasan yang sama. Artinya, banyak korban ditemukan bersama, 
dikuburkan bersama-sama, mungkin sekali mereka dibantai bersama-sama pula.

Bahkan, sampai pemerintah menyerukan kepada penduduk agar mengumpulkan sisa 
sisa jasad kerabat dan membangun monumen di setiap distrik bagi tulang belulang 
mereka.

Nicolau Lobato
Tapi ada sebuah jasad yang sangat didambakan oleh bangsa Timor Leste, yaitu 
tulang belulang Nicolau Lobato, Sukarno-nya negara ini. Presiden kedua Timor 
Leste ini ditembak mati pada akhir 1978 oleh satuan pimpinan Kapten Prabowo 
Subianto di bawah komandan Yonif 744 Mayor Yunus Yosfiah.

Kepalanya pernah diabadikan di bawah kaki Kolonel Dading Kalbuadi dan Kapten 
Prabowo serta beberapa perwira lain sebelum kepala tersebut kabarnya diminta 
Presiden Suharto agar dibawa ke Jakarta. Sejak itu nasib sisa jasad paling 
berharga bagi Timor Leste itu, tak diketahui.

Berulangkali, melalui diplomasi sunyi, Dili mengharapkan agar Jakarta dapat 
mengembalikan tulang belulang tersebut, atau setidaknya dapat memberi 
keterangan. Akhirnya, pada perayaan ulang tahun ke-10 kemenangan referendum 
pada 2009, Presiden Jose Ramos-Horta secara terbuka meminta kembali jasad 
Lobato.

Bahkan, April yang lalu di Dili santer berita seolah jasad itu akan 
dikembalikan, namun kehadiran Presiden Yudhoyono membuktikan kebalikannya. 
Indonesia malah menghibahkan sebuah meriam historis yang hanya berguna untuk 
upacara saja.

Kerjasama militer
Boleh jadi, TNI kerepotan untuk melacak kembali sisa jasad Nicolau Lobato, 
justru karena hal itu akan mengungkap aib tentara Indonesia, sekali pun 
hubungan kemiliteran kedua negara membaik. Presiden baru Taur Matan Ruak April 
yang lalu menegaskan kepada Radio Nederland, Timor Leste tetap menjaga hubungan 
baik, bahkan juga akan meningkatkan kerjasama militer.

Jose Belo, wartawan yang kala itu membantu kampanye Jenderal Taur, mengungkap 
pengganti Taur Brigjen Lere Anan Timor telah bertemu dengan Letjen pur. Prabowo 
dan Letjen pur. Kiki Syanakri, komandan TNI semasa bumi hangus 1999.

Yang menarik, Kiki kepada media Australia mengakui dirinya belum bisa datang ke 
Dili karena masih dicekal PBB. Inilah pertama kali perwira TNI mengakui bahwa 
sekitar 300an perwiranya resminya masih dalam Daftar Hitam SCU, Serious Crimes 
Unit, badan PBB yang mendakwa mereka yang bertanggungjawab atas kekerasan 1999.

Maju tapi gagal
Walhasil, meski Indonesia dan Timor Leste sejak 2008 bersama-sama mengubur 
kejahatan masa lalu melalui KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan), sejumlah 
perwira TNI-bermasalah, seperti Wiranto dan Prabowo, sebenarnya masih dipenjara 
di negerinya sendiri.

Boleh jadi, itu satu alasan mereka selalu maju sebagai capres, meski pun selalu 
gagal.

Apa pun, meningkatnya hubungan dagang, ekonomi, politik dan militer antara 
Indonesia dan Timor Leste di sisi lain tetap ditandai ketimpangan yang 
merupakan dampak langsung dari pendudukan brutal tentara Indonesia.

Inilah yang seharusnya pantas menjadi reminder bagi seorang presiden RI yang 
berkunjung ke Timor Leste.

  a.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  b.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  c.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  d.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nla..  
  b..  
  c..  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke