Ref: Rasa tidak aman bukan jatuh dari langit melainkan diciptakan oleh 
oknom-oknom yang mempunyai kekuasaan atas kehidupan masyarakat.


http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/29/322704/70/13/Rasa-Aman-yang-Hilang


Rasa Aman yang Hilang 


Selasa, 29 Mei 2012 00:01 WIB 
JAKARTA kian tidak aman. Peringatan itu tidak main-main. Perampokan dengan 
senjata api kerap meletus di ibu kota negara ini. Tidak hanya itu, konser Lady 
Gaga pun batal digelar karena faktor keamanan. 

Ancaman keamanan itu bisa ditujukan langsung ke Lady Gaga, para kru, dan 
manajemennya. Menurut promotor pada Minggu (27/5), keamanan penonton pun bisa 
terancam. 

Lady Gaga membatalkan konsernya dengan alasan menghormati keadaan di Indonesia 
dan tidak ingin ada orang cedera hanya karena menonton konsernya. Padahal, izin 
sudah 95% beres. 

Semula kita beranggapan alasan Lady Gaga membatalkan konser karena pertimbangan 
keamanan sungguh menyepelekan kemampuan polisi menjaga keamanan dan ketertiban. 
Namun, alasan Lady Gaga itu mendapat pembenaran hanya beberapa jam kemudian. 
Tiga orang tewas dan lima luka-luka seusai pertandingan sepak bola Persija 
Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Senayan Jakarta pada Minggu. 

Pembatalan konser Lady Gaga dan tewasnya tiga anak muda di Senayan membuat kita 
miris. Miris karena mencuatnya pertanyaan siapakah yang memiliki otoritas 
menciptakan rasa aman bagi warga? Masihkah polisi? 

UUD 1945 hasil amendemen kedua pada Pasal 30 ayat (4) secara tegas menyebutkan 
kepolisian sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat 
bertugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum. 
Fungsi itu diperkuat lagi dalam UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara 
Republik Indonesia. 

Namun, kita khawatir otoritas itu tidak lagi di polisi, tetapi di tangan 
kelompok tertentu. Kelompok itulah kini memegang hegemoni untuk menentukan 
sesuatu boleh dilakukan atau dilarang. 

Sesungguhnya aroma itu sangat kental dalam pembatalan konser Lady Gaga. 

Polisi, meski berkali-kali membantah, terkesan tunduk pada tekanan kelompok 
tertentu. Kita harus terus terang mengatakan polisi telah merendahkan diri 
mereka sendiri. 

Polisi yang semestinya menjadi pemegang tunggal kekuasaan menjaga keamanan dan 
ketertiban masyarakat seolah dilucuti dan kewenangannya disewakan kepada 
komprador tertentu. 

Keberingasan kelompok tertentu yang hanya ditonton polisi kini dicontohi warga 
di berbagai wilayah Tanah Air. Kekerasan pun marak. Mereka beranggapan polisi 
akan kalah asalkan dilawan ramai-ramai. 

Pembatalan konser Lady Gaga dan tewasnya tiga pemuda di Senayan menjadi 
advertensi yang amat jelek mengenai keamanan Indonesia ke dunia internasional. 
Jangan kaget jika di kemudian hari konser-konser artis dunia, wisatawan asing, 
dan klub-klub sepak bola mancanegara membatalkan kunjungan ke Indonesia dengan 
alasan keamanan. 

Kita khawatir polisi tidak lagi menjamin rasa aman masyarakat. Polisi telah 
kehilangan otoritas. Lalu ke manakah warga mesti mencari? Tragis. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke