Pantesan si debil tak jelas sikapnya; apakah ia perempuan atau laki2 ? Tapi 
kalaau pinpin sudah merasa jelas; maka ia memanggil sister pada si debil yang 
abu idiot item itu.

--- On Wed, 30/5/12, Sunny <[email protected]> wrote:

From: Sunny <[email protected]>
Subject: [proletar] Warna Polisi Kita
To: [email protected]
Received: Wednesday, 30 May, 2012, 5:23 AM








 



  


    
      
      
           

                       

                  Ref: Kalau polisi rajin menerima suapan akan sangat 
memudahkan dan meringankan pekerjaan pengadilan. 



http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/29/ArticleHtmls/Warna-Polisi-Kita-29052012012003.shtml?Mode=0



Warna Polisi Kita 

                  Budi Hatees, PENELITI DI MATAKATA INSTITUTE " Sinergisitas 
antara Polri dan Kompolnas tidak kunjung membawa perubahan berarti, karena 
Kompolnas tidak punya wewenang memastikan " ada-tidaknya eksekusi atas laporan 
tersebut.



ika warna dijadikan tanda unJ tuk menyebut sesuatu, warna yang cocok untuk 
menandai ek sistensi Kepolisian RI adalah abu-abu. Hitam bukan, putih pun 
tidak. Warna yang suram. Warna dari sesuatu yang tak jelas sikapnya. 

                  Soal warna Polri ini belakangan kembali menyeruak. Korps 
Bhayangkara disorot sangat tajam, dikritik sangat kejam. Institusi yang berada 
di bawah Presiden Republik Indonesia ini diposisikan sebagai satu-satunya 
institusi yang sikapnya tidak pernah jelas.



Tapi publik selalu mendengar klaim keberhasilan atas nama Polri.

                  Mulai urusan eksternal sampai internal, Polri selalu 
mengkampanyekan diri telah sukses melakukan banyak program, terutama 
program-program berkaitan dengan semangat reformasi Polri yang didengungkan 
sejak dulu.

                  Padahal realitas yang ada menunjukkan hal yang bertolak 
belakang, karena polisi masih saja seperti dulu.



Perkembangan reformasi Polri hanya klaim. Di satu sisi, polisi mengklaim tahap 
pertama Grand Strategy Polri 2005-2025 sukses mengembalikan kepercayaan publik 
(trust building) terhadap institusi Polri. Sukses ini karena reformasi Polri 
berhasil mengedepankan paradigma baru sebagai polisi sipil. Bahkan grand 
strategy pembangunan Polri tahap kedua berupa peningkatan kerja sama dengan 
ragam stakeholder (partnership building) selama masa 2010-2014 diklaim juga 
memperlihatkan kemajuan yang signifikan.



Tapi, di sisi lain, publik melihat pendekatan keamanan yang dilakukan polisi 
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya lebih berorientasi pada 
kepentingan negara dan mengabaikan faktor-faktor kemanusiaan. Bahkan hubungan 
Polri dengan stakeholder lain, seperti aparat penegak hukum lainnya, justru 
mempertontonkan hal yang sangat memalukan. Pertarungan polisi dengan hakim 
terkait dengan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi, seperti 
yang terjadi dalam kasus korupsi dana anggaran pendapatan dan belanja daerah 
oleh mantan Bupati Lampung Tengah serta mantan Bupati Lampung Timur jauh dari 
hubungan partnership building itu. Konon pula, kerja sama Polri dengan 
stakeholder lainnya, seperti Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang 
pengurus barunya, periode 2012-2016, baru saja ditetapkan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono.



Paradigma baru sebagai polisi sipil yang melayani publik dan menjadikan dirinya 
sebagai public service organization sesungguhnya hanya ada dalam Grand Strategy 
Polri 20052025 dan Rencana Strategis Polri 2010-2014. Dalam keseharian, polisi 
justru semakin menjauh dari kepentingan publik. Polisi lebih dekat sebagai 
penjaga kepentingan negara, sehingga mindset polisi terhadap tugas dan tanggung 
jawab sebagai penjaga keamanan serta ketertiban ma syarakat justru memposisikan 
masyarakat sebagai entitas yang harus diawasi dan diamankan.



Sukar mengharapkan Korps Bhayangkara akan tampil sebagai bagian yang inheren 
dari kehidupan masyarakat. Pasalnya, kultur kerja di lingkungan Polri dibangun 
dalam sistem birokrasi yang tidak dipersiapkan untuk melayani publik. Selain 
itu, setiap anggota Polri “dipaksa“oleh sistem yang ada untuk tidak terlalu 
memikirkan soal kompetensi, karena pemimpin dalam manajemen “dipaksa“ oleh 
kondisi untuk mengabaikan persoalan kompetensi itu.



Akibatnya, prestasi kerja di lingkungan Korps Bhayangkara bukan hal utama.Yang 
terpenting adalah kepatuhan anggota terhadap kesatuan sebagaimana menjadi Kode 
Etik Profesi Polri. Kepatuhan itu sekaligus dapat diartikan sebagai kesetiaan 
terhadap pemimpin, sehingga seorang pemimpin akan selalu menjadi teladan bagi 
anggotanya. Begitu juga halnya dengan unsur pimpinan di lingkungan Polri, 
selalu akan menjadikan pemimpinnya sebagai teladan.



Kode Etik Profesi Polri sangat mengikat setiap anggota dalam kultur tugas untuk 
selalu menghormati para komandan. Besar kemungkinan penegakan disiplin di 
lingkungan Polri hanya akan tajam terhadap para anggota di level bawah, tapi 
tumpul jika berhadapan dengan anggota Polri yang pangkatnya ada di level atas.



Pasalnya, stratifikasi sosial di lingkungan Polri sangat ketat. Levelitas 
berlaku dalam segala situasi dan kondisi. Mereka yang berada di level paling 
bawah, sejak pertama kali masuk sebagai anggota Korps Bhayangkara, sudah 
menjatuhkan pilihannya untuk tetap berada di level paling bawah.

                  Mereka yang ingin mencapai level atas harus berjuang keras 
dengan mengikuti sejumlah tingkatan pendidikan di lingkungan Polri, yang 
ternyata juga tidak mudah bagi setiap anggota Polri untuk masuk ke dalam 
lingkungan pendidikan itu.



Karena itu, sangat beralasan jika polisi diam saja saat menyaksikan organisasi 
kemasyarakatan melakukan tindak kekerasan, seperti pembubaran diskusi dan 
peluncuran buku Al lah, Liberty and Love karya Irshad Manji di Teater Salihara, 
Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Mungkin polisi condong 
menafsirkan kegiatan diskusi dan peluncuran buku itu dapat merugikan 
kepentingan negara, meskipun publik tak pernah memahami kepentingan seperti apa 
yang dimaksud.



Hal seperti ini akan terus berulang dilakukan polisi jika orientasi institusi 
ini dalam menjalankan tugas bukan untuk kepentingan kemanusiaan.

                  Maka institusi Polri tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri 
mengurusi institusinya. Polri membutuhkan campur tangan stakeholder lainnya, 
yang bertujuan memperbaiki profesionalitas insan Bhayangkara.



Dalam banyak kesempatan, Presiden Yudhoyono berharap Korps Bhayangkara bermitra 
dengan Kompolnas. Tapi harapan ini tampaknya tidak akan membawa hasil 
signifikan, mengingat persoalan sesungguhnya ada pada sistem yang telah 
membentuk kultur kepolisian kita. Kultur di lingkungan Polri memaksa anggota 
Korps Bhayangkara lebih mempercayai lingkungan internalnya, sehingga eksistensi 
Kompolnas bagi Polri hampir tidak mendapat pengakuan.



Kompolnas sendiri hanya sebuah lembaga yang lebih banyak bekerja sebagai 
ombudsman untuk memberi saran kepada Presiden berkaitan dengan kinerja Polri. 
Komisi itu hanya lembaga “pembisik“dan penyampai saransaran terkait dengan cara 
mereformasi Polri sehingga tampil seperti keinginan segenap lapisan masyarakat.



Artinya, Kompolnas “bermitra“dengan presiden, bukan dengan Polri.

                  Saran-saran dari Kompolnas menyangkut eksistensi dan 
kredibilitas Polri, termasuk kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia Korps 
Bhayangkara, hanya bisa disampaikan kepada presiden. Jika ternyata output dari 
saran-saran Kompolnas itu tidak ada, tak berarti Kompolnas tidak melakukan 
tugas dan tanggung jawabnya, tapi karena eksekusi atas saran-saran itu ada di 
tangan Presiden Republik Indonesia.



Akibatnya, Kompolnas selalu disudutkan. Peran yang dimainkan Kompolnas selama 
ini dipandang tak bisa mengubah citra Polri menjadi lebih baik di mata publik. 
Sinergisitas antara Polri dan Kompolnas tidak kunjung membawa perubahan 
berarti, karena Kompolnas tidak punya wewenang memastikan ada-tidaknya eksekusi 
atas laporan tersebut.



Selain itu, eksistensi Kompolnas sebagai lembaga yang berdiri sendiri masih 
berada di bawah bayang-bayang Polri.Terutama berkaitan dengan anggaran untuk 
kinerja Kompolnas yang masih menginduk pada anggaran Polri dalam Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Negara, sehingga tingkat ketergantungan Kompolnas kepada 
Polri sangat tinggi. Selama anggaran Kompolnas masih menginduk pada anggaran 
untuk Polri, sulit mengharapkan Kompolnas mampu bekerja profesional sebagaimana 
seharusnya. 

                 

           

     



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    






  





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke