http://www.shnews.co/detile-2641-pelaku-penembakan-di-papua-tidak-pernah-terungkap.html


Pelaku Penembakan di Papua Tidak Pernah Terungkap 
Odeodata H Julia | Jumat, 01 Juni 2012 - 16:18:18 WIB



(dok/ist)Kasus selalu berakhir dengan misterius. 
JAYAPURA – Aparat keamanan didesak untuk mengusut kasus penembakan warga negara 
Jerman Pieter Dietmar Helmut (55) dan rentetan kasus penembakan lainnya yang 
menewaskan warga di Papua. Selama ini, mayoritas penembakan yang dilakukan 
kelompok bersenjata dan aparat keamanan belum pernah terungkap siapa yang 
berada di belakang aksi-aksi ini. 

Data yang dihimpun Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan 
(Kontras) menunjukkan sepanjang tahun ini, ada 12 kasus penembakan yang 
mayoritas dilakukan kelompok bersenjata. 

Alih-alih menangkap pelaku dengan bukti yang sahih, aparat menuding Tentara 
Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) berada di belakang 
aksi-aksi ini. Dalam kasus penembakan warga Jerman, Selasa (29/5) lalu, 
misalnya, Dandim 1701 Jayapura Letkol Inf Rano Tilaar menduga penembakan 
tersebut terkait dengan rangkaian hari ulang tahun TPN/OPM di Papua 1 Juli 
mendatang. 

Namun, TPN/OPM wilayah Papua Barat langsung membantah tudingan ini. Panglima 
TPN-OPM Papua Barat Dani Kogoya kepada SH, Kamis (31/5) malam, beralibi bahwa 
senjata yang digunakan pelaku adalah senjata otomatis dan kaliber. 

TPN-OPM tidak punya senjata dengan model seperti itu. Apalagi peristiwa itu 
terjadi di wilayah Kota Jayapura. “Anggota TPN-OPM murni, tidak mungkin 
menggunakan mobil dan jalan-jalan di Kota Jayapura,” ujarnya. 

Aktivis HAM Papua Markus Haluk menduga penembakan warga Jerman terkait dengan 
suara kritis delegasi Jerman atas situasi HAM di Papua dalam pelaksanaan sidang 
XIII Komisi HAM PBB di Jenewa pada 23 Mei lalu. Ia juga menyebut bahwa aksi 
penembakan terhadap warga Jerman tersebut mirip seperti dialami Opinus Tabuni, 
9 Agustus 2008 di Wamena, saat perayaan hari Masyarakat Pribumi Sedunia. 

“Dari semua penembakan di Papua sejauh ini aparat keamanan belum pernah 
mengungkap dan memproses pelakunya secara hukum. Justru sebaliknya, kesimpulan 
yang selalu diambil ialah kelompok sipil bersenjata. Kalaupun ditemukan peluru 
yang ditemukan dalam tubuh korban selalu saling menyangkal dan melempar di 
antara dua institusi Kepolisian RI dan TNI,” katanya. 

Tarik Tentara 

Pengamat Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth 
mengatakan, berbagai kekerasan yang masih saja terjadi di Papua menunjukkan 
bahwa siklus kekerasan politik belum dapat diselesaikan. Keberadaan prajurit 
TNI yang tidak proporsional telah menghalangi proses damai di Papua. Oleh 
karena itu, penarikan tentara dari pelbagai tempat di Papua, terkecuali di 
perbatasan, menjadi syarat utama agar proses dialog damai di Tanah Papua bisa 
dimulai. 

"Syarat utama (memulai perdamaian) adalah penarikan tentara yang tidak 
proporsional. Tidak perlu ada tentara di semua tempat. Suasana tidak akan 
pernah lebih baik dengan kehadiran tentara di semua tempat di Papua," kata 
Adriana saat dihubungi SH di Jakarta, Kamis malam. 

Adriana mengatakan, warga Papua membutuhkan suasana tenang, kondusif, dan tidak 
merasa terancam. Dengan begitu, kata Adriana, warga Papua sebagai warga negara 
dapat bebas dan tidak merasa takut menyuarakan keinginan mereka ke pemerintah 
pusat sebagai bagian dari proses awal menuju dialog damai. 

Ketidakmampuan aparat kepolisian mengungkap pelbagai aksi penembakan di Papua, 
kata Adriana, hanya memperburuk situasi di Papua. Selain itu, kata dia, 
ketidakmampuan aparat justru memberikan peluang bagi pihak-pihak yang memang 
diuntungkan oleh situasi konflik di Papua. 

Di Papua, dia melanjutkan, aksi kekerasan tidak hanya dilakukan aparat, tapi 
juga warga sipil. Oleh karena itu, kata dia, harus diungkap asal senjata yang 
dimiliki warga sipil, apakah dicuri dari gudang senjata atau memang ada 
pihak-pihak yang menyuplai. 

Adriana mengatakan, pemerintah di Jakarta harus memahami bahwa gerakan yang 
menuntut kemerdekaan di Papua tidak akan pernah hilang. "Sejak saya meneliti 
Papua, tuntutan tertinggi adalah kemerdekaan. Namun, (tuntutan kemerdekaan) itu 
bukan harga mati. Seandainya pemerintah ingin berbicara dengan damai, duduk 
bersama-sama, mereka akan mau berkompromi," ujarnya. Kebanyakan warga Papua 
hanya ingin hidup damai dan seluruh hak mereka yang dirampas bisa dijamin oleh 
pemerintah Jakarta. 

Selain itu, kata Adriana, sulitnya memulai proses dialog karena pemerintah di 
Jakarta juga tidak memiliki tujuan dan kepentingan yang sama di Papua. Ia 
mengatakan, ada institusi-institusi pemerintah yang menebar jaringan intelijen 
justru sengaja memelihara konflik dan separatis di Papua karena merasa 
diuntungkan. Namun, kata dia, ada juga pihak di pemerintah yang berpikiran 
moderat menginginkan dialog. 

Utusan khusus untuk Papua, Farid Husein, mengatakan, usaha untuk dialog tidak 
ada batas waktunya. Namun, sejauh ini, ia telah mendekati akar rumput, 
mahasiswa yang tersebar di berbagai kota, seperti Yogyakarta dan Makassar. Ia 
juga menggali informasi dari berbagai faksi yang ada di dalam OPM. “Banyak 
faksi saya ketemu semua, tetapi hasil ini tidak tentu berdialog. Nanti mereka 
akan mencari jalan. Pada dasarnya mereka semua baik-baik, tidak ada yang 
kasar,” katanya. 

Hasil kerjanya akan dilaporkan kepada presiden. Selanjutnya presiden akan 
mengeluarkan keputusan mengenai persoalan Papua. Meski demikian, ia mengakui 
pencarian solusi di Papua jauh lebih rumit dibandingkan dengan Aceh. “Secara 
medan lebih rumit. Selain itu, tidak ada pemimpin tertinggi yang bisa mengambil 
keputusan dan bisa mewakili mereka untuk berdialog, semuanya sendiri-sendiri, 
dan banyak faksi,” tuturnya. (Ruhut Ambarita/Sigit Wibowo/Tutut Herlina) 


(Sinar Harapan) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke