http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/02/323506/70/13/Peluru-Kosong-Hemat-Energi


Peluru Kosong Hemat Energi 


Sabtu, 02 Juni 2012 00:00 WIB GERAKAN penghematan energi kembali diserukan 
pemerintah. Padahal, seruan bagi penghematan energi selama ini terbukti bak 
peluru kosong karena begitu miskin keteladanan justru dari pemerintah. 

Selasa (29/5) malam, di Istana Negara Jakarta, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono mengumumkan dimulainya gerakan nasional penghematan energi, baik 
bahan bakar minyak maupun listrik, mulai Juni ini. 

Ada lima langkah penghematan. Pertama, mengendalikan sistem distribusi di 
setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kedua, melarang kendaraan 
pemerintah, BUMN, dan BUMD memakai BBM bersubsidi. Ketiga, melarang BBM 
bersubsidi untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan. Keempat, konversi BBM 
ke bahan bakar gas untuk transportasi. Dan kelima, penghematan penggunaan 
listrik dan air di kantor-kantor pemerintah, BUMN, BUMD, dan penerangan jalan. 

Penghematan energi memang langkah yang wajib dilakukan. Sebab, beban anggaran 
subsidi terus membengkak dari waktu ke waktu, apalagi setelah pemerintah gagal 
menaikkan harga BBM bersubsidi. 

Anggaran subsidi energi untuk tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp225 triliun 
bisa membengkak di atas Rp300 triliun dengan terus meningkatnya konsumsi BBM. 
Bahkan kuota yang ditetapkan APBN Perubahan 2012 sebesar 40 juta kiloliter 
hanya cukup sampai hari kesepuluh Oktober mendatang. 

Bukan kali ini saja Presiden menyerukan perlunya penghematan energi. Pada 2005, 
ia bahkan telah mengeluarkan Inpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan 
Energi. Hasilnya? Pemborosan terus saja terjadi. 

Instruksi Presiden itu dianggap angin lalu saja karena miskin teladan. Kini, 
Yudhoyono kembali menegaskan agar para pejabat pusat maupun daerah memberikan 
contoh nyata dalam gerakan penghematan energi. 

Sebenarnya banyak contoh yang bisa ditunjukkan. Dan mestinya itu dimulai dari 
Yudhoyono sendiri. Misalnya saja, mengurangi jumlah kendaraan yang mengiringi 
pejabat tinggi di jalan raya. Bukankah sebaiknya hal itu dimulai dengan 
mengurangi jumlah kendaraan yang mengiringi Presiden? Begitu juga ketika 
Presiden datang ke daerah, kendaraan yang menyambut perlu ada pembatasan. 

Selain itu, gerakan penghematan energi haruslah ditempatkan dalam konteks yang 
lebih besar, yakni penghematan anggaran. Pembangunan kantor dan rumah dinas 
yang mewah, misalnya, jelas pemborosan. Pengadaan mobil-mobil mewah bagi 
pejabat pemerintah maupun lembaga-lembaga negara yang umumnya di atas 2000 cc 
dan kerap menggunakan 

premium juga pemborosan dan karena itu layak segera dihentikan. 

Masih banyak langkah penghematan lain yang bisa dilakukan. Celakanya, 
keteladanan yang ditunjukkan pejabat hanya sesaat. Cuma heboh ketika ada 
instruksi Presiden, tapi kemudian lenyap tak berbekas. 

Karena itu, selain perlu dibarengi dengan pemberian sanksi, keteladanan yang 
dicontohkan pejabat mestinya konsisten dan berkesinambungan hingga menciptakan 
budaya dalam keseharian. Dan itu, tidak bisa lain, haruslah dimulai dari 
pimpinan tertinggi di negeri ini. 

Tanpa itu, gencarnya seruan penghematan energi ibarat berperang dengan peluru 
kosong karena bermodal omong kosong. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke