http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/02/ArticleHtmls/Ekspor-Terpukul-Krisis-Ekonomi-Global-02062012101005.shtml?Mode=0

      Ekspor Terpukul Krisis Ekonomi Global  
     
      JAKARTA  


Neraca perdagangan mengalami defisit.

Dampak lesunya ekonomi global mulai menjalar ke Indonesia. Gubernur Bank 
Indonesia Darmin Nasution mengatakan gejolak krisis Eropa yang menjalar hingga 
ke India, Cina, dan negara lain di Asia ikut memukul ekspor. 
Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, menurut Darmin, bakal membayangi ekspor 
Indonesia hingga akhir tahun ini.
Namun dia meyakini ekspor akan kembali meroket tahun depan.
“Pertumbuhan ekonomi tahun depan pun kami perkirakan sedikit lebih baik,“ 
ujarnya kemarin.

Badan Pusat Statistik melansir laju ekspor April lalu turun 7,36 persen 
dibanding bulan sebelumnya. Nilai ekspor April hanya sebesar US$ 15,98 miliar, 
lebih rendah dibanding Maret lalu yang sebesar US$ 17,26 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryatmin mengatakan penurunan ekspor terjadi 
untuk produk migas dan nonmigas. Nilai ekspor migas turun dari US$ 3,49 miliar 
pada Maret lalu menjadi US$ 3,36 miliar. “Sedangkan ekspor nonmigas juga turun. 
Pada Maret, nilainya US$ 13,77 miliar men jadi US$ 12,62 miliar,“ ujarnya 
kemarin.

Negara tujuan ekspor terbesar masih didominasi Cina, dengan nilai seluruhnya 
mencapai US$ 7,04 miliar. Di posisi kedua adalah Jepang dengan nilai US$ 5,74 
miliar, dan Amerika Serikat dengan US$ 4,8 miliar.

Di sisi lain, laju impor justru meningkat. Menurut Suryatmin, impor naik 
sepanjang April lalu sebesar 11,65 persen dibanding periode yang sama tahun 
sebelumnya. Hingga akhir April 2012, nilai impor telah menyentuh US$ 16,62 
miliar. Sedangkan pada April tahun lalu, impor sebesar US$ 14,89 miliar. 
Dibandingkan dengan Maret 2012, nilainya juga melonjak 1,82 persen.

Perlambatan ekspor, menurut Darmin, tidak akan berdampak besar terhadap 
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menduga ekonomi tetap tumbuh hingga 6,3 
persen.“Peranan ekspor terhadap perekonomian kita tidak sebesar seperti 
Thailand, Malaysia, apalagi Singapura,“ ujarnya.

Melonjaknya ekspor menyebabkan neraca perdagangan April lalu mengalami defisit. 
BPS mencatat defisit sebesar US$ 641,1 juta karena nilai impor lebih tinggi 
dibanding ekspor.
Namun Suryatmin menyatakan, selama Januari hingga April tahun ini, nilai 
kumulatif neraca perdagangan mengalami surplus. “Masih surplus, tapi tidak 
begitu besar,“ katanya.

Sepanjang empat bulan terakhir, neraca perdagangan produk migas defisit US$ 
1,159 miliar. Sebaliknya, pada produk nonmigas justru surplus US$ 3,288 miliar.

BPS juga mencatat laju inflasi Mei sebesar 0,07 persen, lebih rendah daripada 
April lalu yang 0,21 persen. Adapun inflasi tahun kalender sebesar 1,15 persen 
dan inflasi year on year tercatat 4,45 persen.

Menurut Darmin, Bank Indonesia optimistis angka inflasi hingga akhir tahun ini 
tidak melampaui target, kurang-lebih 4,5 persen. Berbeda dengan inflasi dunia 
yang cenderung naik, ia justru memprediksi inflasi nasional bakal turun.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan turunnya inflasi terjadi karena 
spekulasi tentang kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi telah berakhir. 
“Masyarakat memahami pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi,“ katanya 
kemarin.

Berbeda dengan pada April lalu, kenaikan harga-harga didongkrak ketidakpastian 
harga BBM bersubsidi. Agus berharap turunnya harga minyak dunia yang mencapai 
US$ 86 per barel ikut meredakan inflasi. “Semoga bisa dipertahankan, pemerintah 
bisa mencapai inflasi di bawah 5 persen,“ katanya.

Pengamat ekonomi Iman Sugema memperkirakan, defisit neraca pembayaran terus 
berlangsung hingga akhir tahun ini. Laju ekspor tetap melambat karena turunnya 
permintaan akibat krisis ekonomi global. “Ini sudah bisa diprediksi,“ ujarnya.

Ia meminta pemerintah berupaya meredakan kepanikan para pemilik modal. Situasi 
ini dinilai lebih membahayakan dibanding membengkaknya defisit anggaran. NUR 
ALFIYAH | MARTHA THERTINA |AKBAR TRI KURNIAWAN | M. ANDI PERDANA | DEWI RINA 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke