http://endyonisius.blogspot.com/2012/06/bad-news-or-good-news.html

Pernah dengar ilustrasi dampak komunikasi melalui pesan berantai
secara lisan dari pemimpin kepada bawahannya secara berjenjang?
Sebutlah seorang Kepala Dinas memberikan instruksi lisan kepada
pejabat Sekretaris Dinas untuk selanjutnya disebarkan di kantor:
"Besok ada penyerahan bantuan bagi masyarakat budidaya pemenang
evaluasi tingkat pusat pada tahun ini, di aula kantor jam 9 pagi.
Karena bersifat ramah tamah dan tidak terjadi setiap hari, maka
seluruh karyawan hadir berpakaian batik. Saya akan memberikan
pengarahan khusus berupa demo pembiakan bibit, siapkan materi
dan presentasinya oleh Kepala Bidang Budidaya".

Dari Sekretaris Dinas kepada ketiga pejabat Kepala Bidang :
"Sesuai Instruksi Kadis, besok pagi diharap berkumpul berikut
staf dgn berpakaian batik di aula kantor jam 9 pagi untuk ramah
tamah dgn masyarakat pemenang evaluasi tahun ini. Karena tidak
terjadi setiap hari, Kadis sekalian memberi demo pembiakan bibit
yang presentasinya akan disiapkan oleh Kepala Bidang Budidaya".

Dari Kepala Bidang Budidaya kepada tiap Kepala Seksinya :
"Besok kamu ajak semua staf agar hadir di aula kantor jam 9 pagi.
Siapkan bahan presentasi pembiakan bibit termasuk demo Kadis yg
tidak terjadi setiap hari kepada masyarakat budidaya".

Dari dua Kepala Bidang lainnya kepada tiap Kepala Seksinya :
"Besok pagi kalian kumpul jam 9 di aula bersama staf, pake baju
batik. Kadis akan mengevaluasi kegiatan budidaya tahun ini".

Versi Kepala Seksi Budidaya kepada para stafnya :
"Besok kalian hadir di aula kantor sebelum jam 9 pagi, ini gak
terjadi setiap hari. Biar saya yg siapkan demo buat Kadis".

Versi para Kepala Seksi lainnya kepada para stafnya :
"Besok kumpul sebelum jam 9 pagi di aula pake batik. Kemungkinan
Kadis akan mengevaluasi bidang Budidaya pada tahun ini juga".

Akhirnya para staf lintas Bidang pada saling bergosip :
+: "Besok jam 9 pagi di aula ada akan demo dari Bidang Budidaya
kepada Kadis, sayangnya kok gak terjadi setiap hari sih?"
-: "Pantesan Kadis ngumpulin kita besok, beliau marah lantaran
didemo dan akan mengevaluasi Bidang Budidaya tahun ini juga!"

Peran media penyampaian berita dapat berdampak khusus terhadap
nilai khabar yg ingin disampaikan termasuk resiko berubah makna.
Metode lisan memiliki rentan perubahan yg lebih tinggi sehingga
membutuhkan sarana lain yg lebih valid misalnya secara tertulis,
atau bukti rekam antara lain foto, suara, atau gabungan berupa
video. Sehingga nilai khabar yg umumnya dapat dikategorikan sbg
berita baik (good news) atau sebaliknya, menjadi lebih terjaga.
Sebagai pembawa pesan (messenger) atau penyampai berita secara
lisan masih popular digunakan karena faktor praktis dan cepat,
misalnya media komunikasi radio dgn pemanfaatan keunggulannya.

Namun apapun media berikut metode dan tehnologinya, faktor
utama adalah pada brainware alias user atau peran manusianya.
Baik sbg pewarta (feeder) maupun penerimanya (listener, reader,
viewer, dst), serta sebaiknya memiliki pemahaman yg relatif sama
dalam menilai sebuah berita yg telah memenuhi beberapa unsur :

1. Penting (significance), yg dapat mempengaruhi orang banyak;
2. Besar (magnitude), bisa diterjemahkan secara skala dan masif;
3. Waktu (timeless), telah diposisikan menurut kebutuhan rentang
waktu antara lain lewat ragam berita segera (straight news),
investigasi, features, opini yg berdurasi lebih panjang, dst;
4. Dekat (proximity), bisa secara geografis maupun emosional;
5. Populer, heboh (prominence), menyangkut minat khalayaknya;
6. Manusiawi (human interest), ragam khusus yg memberi peluang
secara lebih leluasa untuk melibatkan hal subjektif khalayak.

Jika melihat unsur pemahaman berita yg ternyata bisa leluasa
untuk melibatkan faktor manusiawi secara subjektif, jelaslah
akan menjadi tipis perbedaan antara a good news dgn bad news.
Karena jenis berita bukanlah karya tulis atau sejenis skripsi
ilmiah walau memiliki standard teknis berupa dalil 5.w + 1.h,
maka berita memang memiliki nilai persepsi dan interpretasi
yg tinggi bahkan dapat dianjurkan dalam rangka "prominence".
Sehingga ketika instruksi lisan dari Kepala Dinas bisa berubah
makna dan sasaran hanya dalam hitungan terbatas para pewartanya
dan gak lebih dari satu jam, telah memiliki ragam persepsi sbg
a good news maupun bad news berikut pengembangan interpretasi
menurut kiat "a bad news is a good news" ataupun sebaliknya.

Perkara "a bad news is a good news" seperti telah menimpa seorang
fotografer jurnalis Kevin Carter kelahiran Afrika Selatan, yg sejak
kecil telah akrab dgn ragam kesewenangan apartheid di lingkungannya.
Saat lulus SMA ia pernah membela pelayan berkulit hitam yg dianiaya
tentara, akibatnya Kevin babak belur dihajar popor senapan. Pernah
melarikan diri dari Wamil dan bergabung pada sebuah layanan logistik
bagi militer, menyaksikan pengeboman di Church Street yg memberinya
pemikiran tentang aspek dokumentasi. Kevin bekerja untuk media Star
Johannesburg, karya pertamanya membuat gusar para masyarakat karena
memotret eksekusi publik menggantung perempuan berkulit hitam yg
dituduh berjinah. Kemudian ia dikirim ke Sudan meliput ekspedisi
bantuan oleh PBB kepada korban kelaparan akibart perang saudara.

Kevin dan wartawan lainnya hanya diberi waktu kurang dari 30 menit
sebelum pesawat mengangkasa kembali, mereka berlari mencari bahan
foto. PBB mendistribusikan jagung dan bungkusan makanan sementara
perempuan desa keluar dari tiap pondok memenuhi pesawat. Silva masih
mencari lokasi gerilyawan, Kevin tersesat di sekitar pendaratan
pesawat dan terkejut melihat kondisi mengenaskan. Saat para orang
tua sibuk berebut makanan, anak2 kurus dan lemah kelaparan hanya
bisa beringsut di sekitar gubuk serta burung Nasar berkeliaran di
lokasi sampah sekitar pondok kumuh. Kevin mengambil foto termasuk
perhatiannya pada seorang anak tertatih merangkak menuju pesawat.
Ia baru menyadari kehadiran seekor burung Nasar setelah selesai
memotret, kaget lalu mengusirnya sebelum tersandar di bawah
pohon untuk menangis sembari merokok.

Ketika fotonya muncul di New York Times 1993, beragam tanggapan
muncul termasuk menanyakan khabar tentang anak foto itu. Namun
mayoritas cenderung menghujat Kevin berupa gugatan yg senada,
"Kenapa anda hanya bisa memotret saja, kenapa gak menolongnya?".
Bahkan The St Petersburg Times dari Florida berkomentar pedas pada
foto yg diberi judul Wanting A Meal atau Starving Child Vulture,
"Orang ini terlalu sibuk menyesuaikan lensa untuk mengambil gambar
yg benar tentang penderitaan, persis predator serupa burung bangkai
lainnya yg berada di tempat kejadian". Walau foto Wanting A Meal
mendapatkan apresiasi berupa penghargaan Pulitzer untuk kategori
Fitur Terbaik 1994, Kevin masih menderita depresi pasca kembali
dari Sudan ditambah rasa bersalah akibat hujatan. Hingga Kevin
ditemukan meninggal bunuh diri di dalam mobilnya di tepi sungai
di usia 33 tahun. Sebuah berita bagus ataukah pertanda buruk?

Kenapa tidak ada yg memotretnya, juga gak ada yg menolongnya?
Kevin selalu merekam segala yg dia amati, dijalaninya dan dipahami
termasuk resiko untuk ditanggung sendiri berikut hujatan walau
akhirnya menyerah. Ia telah mewartakan berita buruk menjadi khabar
bagus terutama bagi rakyat Sudan. Karena dunia langsung memberikan
perhatian lebih akibat publikasi fotonya, tapi berita bagus itupun
gak lagi kuasa menyelamatkan hingga ia memberikan khabar buruk ..
klik .. kliiiikk ..

http://www.youtube.com/watch?v=hLDr0QNCUd4



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke