Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang 
bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke 
dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, 
Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.

Mengapa gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah, 
sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual 
kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, 
masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada 
digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya.

Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian 
dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan lalu, masjid 
Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.

Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang deretan jumlah masjid di Belanda. 
Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 di seluruh Belanda. Ini 
meningkat jauh dari 1971, yang ketika itu hanya terdapat beberapa buah, di 
antaranya Masjid Mubarak yang didirikan kalangan Ahmadiyah (1953), dan Masjid 
Maluku An-Nur di Balk. Masjid Maluku itu didirikan eks anggota Koninklijk 
Nederlandse Indische Leger (KNIL). Pada 1951-1952 sekitar 12 ribu anggota KNIL 
beserta keluarganya dari Maluku dibawa ke Belanda. Sebagian mereka beragama 
Kristen, sebagian lainnya Islam. Saat ini diperkirakan terdapat lebih 50 ribu 
orang Maluku di Belanda.

Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat Islam 
dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 
persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen). 
Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan sekitar 0,5 persen 
pemeluk Hindu. Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, dan meningkat pesat 
pada 1993 menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 persen setahun. Umat 
Islam itu berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,2 
persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), 
Indonesia (1,6 persen), dan lainnya (3,9 persen). Bertambahnya jumlah umat 
Islam dari tahun ke tahun itu, diperkirakan berasal dari imigran dan sebagian 
lain mendapatkan hidayah, dan pernikahan.

Islam di Belanda awalnya diperkenalkan sekelompok mubaligh Ahmadiyah. Kelompok 
yang menamakan dirinya Holland Mission ini giat berdakwah melalui diskusi dan 
berbagai tulisan. Mereka juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Belanda.

Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, seperti dikutip 
Muhammad Hisyam dalam buku PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah 
Islam di Nederland, orang Islam pertama yang datang ke Belanda justru adalah 
Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Hanya 
saja, kedatangan Abdus Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu 
kunjungan yang singkat.

Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia. Ketika 
Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yang sebagian besar 
beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan 
Perkoempoelan Islam. Organisasi, yang didirikan seorang Belanda Van Beetem yang 
kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali, ini diakui pemerintah Belanda, dan 
merupakan organisasi Islam pertama.

Selanjutnya, pada 1951-1952, sekitar 12 ribu anggota KNIL yang sebagian besar 
berasal dari Maluku, sebanyak 200 di antaranya beragama Islam, datang ke 
Belanda. Mereka yang semula ditempatkan dalam satu kamp dengan non-Muslim, lalu 
memisahkan diri dan bergabung sesama Muslim di kamp Wijldemaerk, Desa Balk, 
Provinsi Friesland. Di sinilah mereka membangun Masjid An-Nur yang dipimpin 
Haji Ahmad Tan. Sebagian lain, yang pindah ke Riiderkerk, mendirikan Masjid 
Baiturrahman yang indah pada 1990. Masjid ini pendanaannya dibantu Pemerintah 
Belanda.

Muslim Indonesia

Seperti Muslim Maluku, Ahmadiyah, Maroko, Suriname, dan Tunisia -- yang 
mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwah, dan membina agama bagi 
kelompoknya -- Muslim Indonesia pun membentuk kelompok tersendiri. Selain 
Perkoempoelan Islam, juga berdiri Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) pada 
1971. PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan pemuda 
Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, para 
mahasiswa Indonesia dari Timur Tengah, termasuk Abdurrahman Wahid (Gus Dur) -- 
kini Presiden RI -- umumnya memilih Belanda dan Jerman sebagai tempat liburan. 
Melalui diskusi-diskusi intensif, para pemuda dan mahasiswa Indonesia di 
perantauan tersebut, akhirnya disepakati dibentuknya sebuah organisasi.

Pertemuan pertama diadakan pada musim dingin awal Januari 1971 di Den Haag. 
Hadir ketika itu dari Rotterdam yakni Gus Dur, T Razali, Moh Chaeron, A Hambali 
Maksum, Abdul Muiz Kaderi, Rais Mustafa, dan Moh Sayuti Suaib. Dari Den Haag 
hadir Ramhat Zitter, Amir Alhajri, dan Jus Muhtar; dari Jerman Abdul Wahid 
Kadungga, Ali Baba, dan A Donny.

Pada 12 April 1971, PPME resmi dibentuk. Ketua ketika itu dipilih Abdul Wahid 
Kadungga, sekteratis Hambali Maksum. Gus Dur ketika itu diunggulkan memimpin 
organisasi ini, namun ia menolak karena berencana pulang ke Indonesia.

Ahmad Nafan Sulchan bercerita, jika ke Belanda Gus Dur selalu bertemu dengan 
para pengurus PPME, bahkan menginap di Mushola Al-Ittihad yang didirikan PPME. 
Beberapa bulan sebelum menjadi Presiden RI, Gus Dur sempat mengatakan bahwa 
jika ia datang lagi ke Belanda, ia tidak lagi bisa bebas seperti semula karena 
sudah diatur protokoler."Ternyata, benar. Gus Dur kini menjadi Presiden," ujar 
Nafan kepada Republika di Den Haag dua pekan lalu.

Mushola Al-Ittihad yang terletak di Daguerrestr No 2 Den Haag itu, juga pernah 
dikunjungi tokoh-tokoh Indonesia, antara lain Jenderal Purn AH Nasution, Ruslan 
Abdul Gani, Munawir Sadjzali, Nurcholis Madjid, WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, 
dan Taufik Abdullah.

Setelah PPME terbentuk di Belanda, dua tahun kemudian di Jerman dibentuk pula 
PPME. Pernyataan berdirinya PPME pada 19 Januari 1973 itu antara lain 
ditandatangani oleh Akias AM, Romdhon Bernama Kusumah, AM Saefuddin, Saiful 
Rangkuti, Hasbi Tirtapraja, Sofyan Sadeli, Suparwata Rasyid, Titie Bernama 
Kusumah, Syamsuddin, Masykur Abdullah. Ketua umum dijabat Rasjid Soeparwata, 
seketaris umum Sofyan Sadeli. Sedangkan AM Saefuddin, mantan Menpangan, sebagai 
penasihat.

Dengan berdirinya PPME Jerman, status PPME Belanda akhirnya dinaikkan menjadi 
Dewan Pimpinan Pusat PPME, sedangkan Jerman menjadi Dewan Perwakilan Wilayah. 
Juga dibentuk DPW lain, yakni DPW Holland dengan cabang antara lain Amsterdam, 
Den Haag, Rotterdam, dan Delf. Di Jerman, dibentuk cabang Dortmund, Frankfurt, 
Darmstadt, Offenbach, Giessen, dan Berlin.

Dalam perjalanannya, PPME yang menyadari posisi umat Islam minoritas, menjalin 
kerjasama organisasi-organisasi Islam internasional. Kontak-kontak kerjasama 
antara lain dilakukan dengan Mu'tamar al-'Alam al Islami di Pakistan, Muslim 
Word League di Makkah, Rabithah al-'Alam al-Islami di Makkah, dan World 
Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyad. Hubungan dengan lembaga-lembaga 
tersebut antara lain soal buku-buku dan informasi. PPME adalah anggota tetap 
WAMY.

Hubungan kerjasama juga dilakukan dengan organisasi-organisasi Islam di Belanda 
dan Jerman, antara lain dengan organisasi Islam Turki, Maroko, Tunisia, dan 
Suriname. Di Belanda, juga berdiri Nederlandse Islamitische Parlement (NIP), 
organisasi yang bergerak dalam bidang penggalangan dan penyatuan 
organisasi-organisasi Islam di Belanda. Selain itu ada pula Federasi 
Organisatie Muslim Nederland. Federasi ini berfungsi mewakili kepentingan umat 
Islam dalam hubungannya dengan Pemerintah Belanda. Hubungan PPME dengan 
organisasi-organisasi itu antara lain menyangkut tukar menukar informasi.

Dalam skala besar, PPME menjalin hubungan dengan Rabithah Alam Islami, Dewan 
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Stichting Der Islamitische Gemeenten in 
Suriname (SIS), dalam mengirim dai-dai ke Suriname. Melalui PPME pula, sejumlah 
alumni Timur Tengah berhasil direkrut sebagai guru agama di Suriname.

Selain itu, PPME juga ikut memprakarsai berdirinya Federatie Organisaties 
Muslim Nederland, yang diketuai tokoh Muslim Belanda Abdul Wahid van Bommel. 
Organisasi ini kemudian bubar dan diganti Islamitische Informatie Centrum.

Untuk internal, PPME pun giat mendorong remaja Muslim belajar Islam. Menurut 
Chaeron, mantan ketua PPME periode 1976-1979, pada setiap libur para remaja 
Islam dari Amsterdam, Den Haag maupun Rotterdam melaksanakan flits school atau 
pesantren kilat. "Kita perlu terus menerus memberikan pengajaran agama kepada 
mereka," ujar mantan wartawan Harian Abadi ini.

Dalam kegiatan dakwah dan sosial, PPME antara lain melakukan pengislaman, 
mengorganisasi perjalanan haji/umroh, pernikahan, dan memelihara solidaritas 
kekeluargaan. Dalam pengislaman, menurut laporan kerja kepengurusan periode 
pertama (71-73), PPME mengislamkan 21 orang (enam lelaki, 15 perempuan). Tahun 
1984-1986 sebanyak sembilan orang yang terdiri diri dari orang Indonesia, 
Belanda, dan Inggris. Periode berikutnya sebanyak enam keluarga atau 33 orang. 
Jumlah seluruhnya tidak ada data resmi.

PPME juga memanfaatkan media elektronik dalam berdakwah. Melalui Kepala Seksi 
Siaran Bahasa Indonesia di Radio Hilversum, Ny Ardamari Sudji, pada 1970-an 
PPME diberikan kesempatan untuk mengisi siaran khusus Mimbar Jumat di radio 
tersebut. Namun sejak Januari 1994, acara itu ditiadakan lagi karena munculnya 
peraturan dari Pemerintah Belanda menghapuskan acara-acara yang tidak 
diprioritaskan atas pertimbangan keuangan.

PPME telah berbuat banyak. Masjid Al-Hikmah, yang semula adalah bangunan 
gereja, pun berdiri kokoh. Dalam buku tamu di pintu masuk masjid, Republika 
menulis pesan: Insya Allah, dari sini, dari masjid ini, Islam berjaya kembali 
di Eropa. asro kamal rokan

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 2000 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke