Jadi Pinpin itu jelas, sama dungunya das sama busuknya dengan orang Islam fundamentalis lain yang tidak sadar bahwa banyaknya orang Islam di negeri Balanda - dan di negeri kafir lain di Eropa, Australia, Kanada dll. - itu adalah aurat dan aib dunia Islam.
Karena hampr semua orang Islam itu datang dari negeri yang mayoritas pendudukya menganut agama najis Islam itu dan pada berhamburan lari dari negeri asal mereka menghindarkan penindasan dan kemiskinan... Di negeir kafir mereka itu bikin onar, membunuh Theo van Gogh, membom London Madrid dll. Dan raja serta emir Arab penerima petro dollar dengan royal membikinkan mesjid buat mereka dan bukannnya menciptakan lowongan kerja di negeri asal orang Islam itu. Seperti mesjid di Rotterdam. http://www.pipelinenews.org/index.cfm?page=mosquerott1220101.htm --- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> wrote: > > > Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang > bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke > dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, > Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel. > > Mengapa gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah, > sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual > kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, > masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada > digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya. > > Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk > pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan > lalu, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih > 5.000 orang. > > Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang deretan jumlah masjid di Belanda. > Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 di seluruh Belanda. Ini > meningkat jauh dari 1971, yang ketika itu hanya terdapat beberapa buah, di > antaranya Masjid Mubarak yang didirikan kalangan Ahmadiyah (1953), dan Masjid > Maluku An-Nur di Balk. Masjid Maluku itu didirikan eks anggota Koninklijk > Nederlandse Indische Leger (KNIL). Pada 1951-1952 sekitar 12 ribu anggota > KNIL beserta keluarganya dari Maluku dibawa ke Belanda. Sebagian mereka > beragama Kristen, sebagian lainnya Islam. Saat ini diperkirakan terdapat > lebih 50 ribu orang Maluku di Belanda. > > Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat > Islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi > ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan > (22 persen). Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan > sekitar 0,5 persen pemeluk Hindu. Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, > dan meningkat pesat pada 1993 menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 > persen setahun. Umat Islam itu berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 > persen), Suriname (6,2 persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), > Tunisia (0,9 persen), Indonesia (1,6 persen), dan lainnya (3,9 persen). > Bertambahnya jumlah umat Islam dari tahun ke tahun itu, diperkirakan berasal > dari imigran dan sebagian lain mendapatkan hidayah, dan pernikahan. > > Islam di Belanda awalnya diperkenalkan sekelompok mubaligh Ahmadiyah. > Kelompok yang menamakan dirinya Holland Mission ini giat berdakwah melalui > diskusi dan berbagai tulisan. Mereka juga menerjemahkan Alquran ke dalam > bahasa Belanda. > > Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, seperti dikutip > Muhammad Hisyam dalam buku PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah > Islam di Nederland, orang Islam pertama yang datang ke Belanda justru adalah > Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Hanya > saja, kedatangan Abdus Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu > kunjungan yang singkat. > > Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia. > Ketika Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yang sebagian > besar beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan > Perkoempoelan Islam. Organisasi, yang didirikan seorang Belanda Van Beetem > yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali, ini diakui pemerintah > Belanda, dan merupakan organisasi Islam pertama. > > Selanjutnya, pada 1951-1952, sekitar 12 ribu anggota KNIL yang sebagian besar > berasal dari Maluku, sebanyak 200 di antaranya beragama Islam, datang ke > Belanda. Mereka yang semula ditempatkan dalam satu kamp dengan non-Muslim, > lalu memisahkan diri dan bergabung sesama Muslim di kamp Wijldemaerk, Desa > Balk, Provinsi Friesland. Di sinilah mereka membangun Masjid An-Nur yang > dipimpin Haji Ahmad Tan. Sebagian lain, yang pindah ke Riiderkerk, mendirikan > Masjid Baiturrahman yang indah pada 1990. Masjid ini pendanaannya dibantu > Pemerintah Belanda. > > Muslim Indonesia > > Seperti Muslim Maluku, Ahmadiyah, Maroko, Suriname, dan Tunisia -- yang > mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwah, dan membina agama bagi > kelompoknya -- Muslim Indonesia pun membentuk kelompok tersendiri. Selain > Perkoempoelan Islam, juga berdiri Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) > pada 1971. PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan > pemuda Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, > para mahasiswa Indonesia dari Timur Tengah, termasuk Abdurrahman Wahid (Gus > Dur) -- kini Presiden RI -- umumnya memilih Belanda dan Jerman sebagai tempat > liburan. Melalui diskusi-diskusi intensif, para pemuda dan mahasiswa > Indonesia di perantauan tersebut, akhirnya disepakati dibentuknya sebuah > organisasi. > > Pertemuan pertama diadakan pada musim dingin awal Januari 1971 di Den Haag. > Hadir ketika itu dari Rotterdam yakni Gus Dur, T Razali, Moh Chaeron, A > Hambali Maksum, Abdul Muiz Kaderi, Rais Mustafa, dan Moh Sayuti Suaib. Dari > Den Haag hadir Ramhat Zitter, Amir Alhajri, dan Jus Muhtar; dari Jerman Abdul > Wahid Kadungga, Ali Baba, dan A Donny. > > Pada 12 April 1971, PPME resmi dibentuk. Ketua ketika itu dipilih Abdul Wahid > Kadungga, sekteratis Hambali Maksum. Gus Dur ketika itu diunggulkan memimpin > organisasi ini, namun ia menolak karena berencana pulang ke Indonesia. > > Ahmad Nafan Sulchan bercerita, jika ke Belanda Gus Dur selalu bertemu dengan > para pengurus PPME, bahkan menginap di Mushola Al-Ittihad yang didirikan > PPME. Beberapa bulan sebelum menjadi Presiden RI, Gus Dur sempat mengatakan > bahwa jika ia datang lagi ke Belanda, ia tidak lagi bisa bebas seperti semula > karena sudah diatur protokoler."Ternyata, benar. Gus Dur kini menjadi > Presiden," ujar Nafan kepada Republika di Den Haag dua pekan lalu. > > Mushola Al-Ittihad yang terletak di Daguerrestr No 2 Den Haag itu, juga > pernah dikunjungi tokoh-tokoh Indonesia, antara lain Jenderal Purn AH > Nasution, Ruslan Abdul Gani, Munawir Sadjzali, Nurcholis Madjid, WS Rendra, > Emha Ainun Nadjib, dan Taufik Abdullah. > > Setelah PPME terbentuk di Belanda, dua tahun kemudian di Jerman dibentuk pula > PPME. Pernyataan berdirinya PPME pada 19 Januari 1973 itu antara lain > ditandatangani oleh Akias AM, Romdhon Bernama Kusumah, AM Saefuddin, Saiful > Rangkuti, Hasbi Tirtapraja, Sofyan Sadeli, Suparwata Rasyid, Titie Bernama > Kusumah, Syamsuddin, Masykur Abdullah. Ketua umum dijabat Rasjid Soeparwata, > seketaris umum Sofyan Sadeli. Sedangkan AM Saefuddin, mantan Menpangan, > sebagai penasihat. > > Dengan berdirinya PPME Jerman, status PPME Belanda akhirnya dinaikkan menjadi > Dewan Pimpinan Pusat PPME, sedangkan Jerman menjadi Dewan Perwakilan Wilayah. > Juga dibentuk DPW lain, yakni DPW Holland dengan cabang antara lain > Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Delf. Di Jerman, dibentuk cabang > Dortmund, Frankfurt, Darmstadt, Offenbach, Giessen, dan Berlin. > > Dalam perjalanannya, PPME yang menyadari posisi umat Islam minoritas, > menjalin kerjasama organisasi-organisasi Islam internasional. Kontak-kontak > kerjasama antara lain dilakukan dengan Mu'tamar al-'Alam al Islami di > Pakistan, Muslim Word League di Makkah, Rabithah al-'Alam al-Islami di > Makkah, dan World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyad. Hubungan dengan > lembaga-lembaga tersebut antara lain soal buku-buku dan informasi. PPME > adalah anggota tetap WAMY. > > Hubungan kerjasama juga dilakukan dengan organisasi-organisasi Islam di > Belanda dan Jerman, antara lain dengan organisasi Islam Turki, Maroko, > Tunisia, dan Suriname. Di Belanda, juga berdiri Nederlandse Islamitische > Parlement (NIP), organisasi yang bergerak dalam bidang penggalangan dan > penyatuan organisasi-organisasi Islam di Belanda. Selain itu ada pula > Federasi Organisatie Muslim Nederland. Federasi ini berfungsi mewakili > kepentingan umat Islam dalam hubungannya dengan Pemerintah Belanda. Hubungan > PPME dengan organisasi-organisasi itu antara lain menyangkut tukar menukar > informasi. > > Dalam skala besar, PPME menjalin hubungan dengan Rabithah Alam Islami, Dewan > Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Stichting Der Islamitische Gemeenten > in Suriname (SIS), dalam mengirim dai-dai ke Suriname. Melalui PPME pula, > sejumlah alumni Timur Tengah berhasil direkrut sebagai guru agama di Suriname. > > Selain itu, PPME juga ikut memprakarsai berdirinya Federatie Organisaties > Muslim Nederland, yang diketuai tokoh Muslim Belanda Abdul Wahid van Bommel. > Organisasi ini kemudian bubar dan diganti Islamitische Informatie Centrum. > > Untuk internal, PPME pun giat mendorong remaja Muslim belajar Islam. Menurut > Chaeron, mantan ketua PPME periode 1976-1979, pada setiap libur para remaja > Islam dari Amsterdam, Den Haag maupun Rotterdam melaksanakan flits school > atau pesantren kilat. "Kita perlu terus menerus memberikan pengajaran agama > kepada mereka," ujar mantan wartawan Harian Abadi ini. > > Dalam kegiatan dakwah dan sosial, PPME antara lain melakukan pengislaman, > mengorganisasi perjalanan haji/umroh, pernikahan, dan memelihara solidaritas > kekeluargaan. Dalam pengislaman, menurut laporan kerja kepengurusan periode > pertama (71-73), PPME mengislamkan 21 orang (enam lelaki, 15 perempuan). > Tahun 1984-1986 sebanyak sembilan orang yang terdiri diri dari orang > Indonesia, Belanda, dan Inggris. Periode berikutnya sebanyak enam keluarga > atau 33 orang. Jumlah seluruhnya tidak ada data resmi. > > PPME juga memanfaatkan media elektronik dalam berdakwah. Melalui Kepala Seksi > Siaran Bahasa Indonesia di Radio Hilversum, Ny Ardamari Sudji, pada 1970-an > PPME diberikan kesempatan untuk mengisi siaran khusus Mimbar Jumat di radio > tersebut. Namun sejak Januari 1994, acara itu ditiadakan lagi karena > munculnya peraturan dari Pemerintah Belanda menghapuskan acara-acara yang > tidak diprioritaskan atas pertimbangan keuangan. > > PPME telah berbuat banyak. Masjid Al-Hikmah, yang semula adalah bangunan > gereja, pun berdiri kokoh. Dalam buku tamu di pintu masuk masjid, Republika > menulis pesan: Insya Allah, dari sini, dari masjid ini, Islam berjaya kembali > di Eropa. asro kamal rokan > > Diterbitkan oleh Republika Online > Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 2000 > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
