Martin L Hen mengirim tulisan ini ke "Jaringan Aeis Minang"..

Demi Tuhan Saya Atheis
By Martin L Hen in Jaringan Ateis Minang · Edit Doc · Delete

Demi Tuhan Saya Atheis

Jumat, 13 April 2012 | 10:30

Judul di atas adalah kutipan dari kaus yang sering dipakai Dadang. Seorang pria 
yang mengenalkan dirinya sebagai pelukis dan mendirikan sebuah organisasi 
bernama Jaringan Kafir Liberal—disingkat JAKAR. Akronim yang ingin dinisbatkan 
pada kelamin laki-laki, namun karena Dadang memiliki lidah Sunda maka 
pengucapan "z" terpeleset menjadi "j". 

 

Kaus "Demi Tuhan Saya Atheis" dipakai ke mana-mana oleh Dadang, baik pada 
acara-acara diskusi, pertemuan di hotel-hotel mewah, hingga lesehan-lesehan 
santai atau seperti pengakuan Dadang sendiri pengajian-pengajian yang dihadiri 
orang berjubah dan berjenggot. 

 

Tidak hanya memaklumkan bahwa dirinya "atheis" dan "kafir liberal" Dadang juga 
memberikan kritik yang tajam -- yang disertai gurauan dan cengengesan -- 
terhadap agama-agama yang disebutnya "impor". 

 

Agama-agama yang diklaim resmi di negeri ini dalam kategori Dadang -- dan saya 
pun bersetuju -- semua adalah "agama-agama impor". Dadang pun menyatakan, 
pengikut-pengikut dari "agama-agama impor" inilah yang tak sedikit membuat 
keributan, dan menyingkirkan agama dan kepercayaan "asli" di negeri ini.

 

Setelah menarik perhatian dengan diktum dan organisasi yang dibentuknya, Dadang 
pun menawarkan kaus hasil sablonannya itu. Dadang juga aktif di media sosial: 
facebook dan twitter. 

 

Kemunculan Dadang bersama penyataan, kaus, komentar dan "jaringan"nya di 
acara-acara umum ditanggapi santai, penuh gurau dan geli. Tak ada yang 
menganggap Dadang melakukan penodaan agama. Tak ada yang menganggap serius atau 
diambil hati. 

 

Meskipun tak jarang kemunculan Dadang seperti sabotase terhadap acara diskusi 
yang serius. Yang sebelumnya kening sampai berkerut, dan para narasumber 
berdebat sampai urat leher benjol-benjol, ketika Dadang muncul tertawa 
terbahak-bahak mendengar komentar Dadang itu.

 

Meskipun  aktif  "berkampanye" via kaus, facebook, twitter, dan "berkhotbah" di 
diskusi-diskusi, adakah yang terpengaruh menjadi atheis atau tertarik masuk 
JAKAR versi Dadang? Setahu saya belum ada. 

 

Namun nasib Alexander Aan seorang pegawai negeri di Dharmasraya, Sumatra Barat 
tak semujur nasib Dadang di Jakarta. Kini ia diadili dengan dakwaan menistakan 
agama hanya karena pengakuannya sebagai atheis melalui akun di facebook. 

 

Proses Aan menjadi atheis terlihat alamiah, ia mempertanyakan kuasa Tuhan di 
tengah kezaliman-kezaliman yang ditemui di sekelilingnya. Kalau manusia bisa 
berbuat apa saja, jahat, buruk, kejam, brutal, dan seperti dibiarkan, di mana 
Tuhan yang Mahapengasih dan Mahapenyayang? 

 

Pertanyaan yang klasik dan tua, setua gugatan manusia terhadap konsep agama, 
keadilan, dan kuasa Tuhan. Namun ternyata bagi masyarakat sekitarnya ditimpali 
dengan kehebohan dan ancaman fisik. 

 

Polisi yang awalnya dengan dalih mengamankannya dari amuk massa, ternyata 
menetapkannya sebagai tersangka, proses pun bergulir hingga kini ia duduk di 
kursi pesakitan, hanya gara-gara ia mempertanyakan lagi kuasa Tuhan dan agama 
dalam merespon kezaliman dan kejahatan yang terjadi dalam kehidupan dunia ini.

 

Karakter dan tulisan Aan mungkin tidak seperti Dadang yang penuh gurau dan 
galau, ia dianggap serius dengan pernyataan-pernyataannya, kalau serius mengapa 
tidak ditanggapi dengan serius juga dengan bantahan balik dan argumentasi yang 
bisa mematahkan klaim-klaimnya?  

 

Kalau Aan dianggap "tersesat" karena mengaku dirinya sebagai atheis, mengapa 
pihak yang superior yang menganggap dirinya paling benar dan beriman tidak 
menunjukkan jalan yang lurus dan benar? Dengan cepat-cepat ingin membungkam dan 
memasukkan Aan ke dalam penjara secara tidak langsung mereka menganggap bahwa 
pendapat dan komentar Aan bisa menaklukkan dan mematahkan keyakinan mereka 
terhadap Tuhan dan agama. 

 

Saya teringat ucapan Gus Mus (KH Mustofa Bisri), hal yang ironis ada pihak yang 
dianggap tersesat, tapi bukan ditunjukkan jalan yang benar justru dikamplengi 
(ditempeng, dipukul).

 

Apakah dengan intimidasi melalui massa, jeratan pasal-pasal karet, ancaman 
mendekam dalam jeruji lima tahun bisa mengubah keyakinan Aan? Saya yakin tidak. 
Kekerasan terhadapnya hanya akan mempertebal apa yang sudah ia yakini sebelum 
ini. 

 

Justru saya merasa dengan melakukan kekerasan, intimidasi, dan penghakiman 
terhadap Aan secara tidak langsung kita sudah membenarkan sangkaan atheisme, 
bahwa kekerasan dan kezaliman sering diatasnamakan oleh pengikut yang mengaku 
bertuhan dan beragama. 

 

 

Tiba-tiba saya mendengar Dadang berkata sambil terkekeh-kekeh, "karena itu, 
demi Tuhan, Saya Atheis"   

http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/1562-demi-tuhan-saya-atheis.html




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke