Sekian banyak pemuka agama seringkali mendorong jamaahnya untuk melakukan apa
yang menurut pemuka agama itu pantas dilakukan dan tidak melakukan apa yang
menurut pemuka agama itu tidak pantas dilakukan. Bukannya mematangkan jamaah
secara mentalitas.
Itu sebabnya kita banyak mendengar teriakan-teriakan histeris "Allahu akbar"
mengiringi sekian banyak tindakan dan perbuatan massal -- yang belum tentu ---
di ridhoi oleh sang maha penyayang. Menyakiti manusia lain dengan cara melempar
batu misalnya, melempari tempat ibadah orang lain dengan pentungan misalnya,
atau membakar dan meluluhlantakkan tempat-tempat yang dianggap maksiat tanpa
memberi solusi selain menghancurkan. Titik.
Sekian banyak pemuka agama (atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai "imam"
sebuah jamaah tertentu, lebih suka menjejalkan pemikiran-pemikiran mereka pada
jamaahnya, bukan bersusah payah membantu jamaahnya untuk menemukan dirinya
sendiri, menemukan gagasan dan ide-idenya sendiri ...(Ini yang dulu di prol
dikritisi abis sama sasis tentang budaya "monolog" )
Sebagai individu yang merasa "merdeka" di tanah proletar, kita seringkali
memilih topik-topik yang nampak "Hebat" (Fisika Quantum lah ... Jagar Raya lah
... teory big bang lah ...neuro apa lah ... politik di negara anu lah ...
bla...bla..bla... sampai ke orang2 yang sibuk mengkoleksi ayat-ayat agama yang
diyakini orang lain yang menurutnya adalah "amunisi" yang hebat untuk
menjatuhkan keyakinan orang lain ..;-) )
Seolah-olah hanya dengan bermodal beberapa ayat yang dipandang "tidak bener"
maka dengan mudah membuat keyakinan orang lain berubah dalam tempo singkat.
Instant. Contoh : "Lihat Surat anu ayat sekian.... isinya nddak bener kan ?
Orang yang percaya ini goblok ! Kalau kamu nddak mau dibilang dungu, elo
lupakan agama elo. Tapi kalau elo masih percaya ayat ini, masih percaya tuhan
elo, elo berarti dungu !" :-)
Banyak orang yang sudah merasa "cerdas" dan "pinter" kemudian bangga karena
mengaku sudah nddak percaya tuhan, dan menganggap kalau ada yang masih percaya
tuhan berarti itu orang goblok. sehingga harus terus menerus digoblok-goblokin
dan selama bertahun-tahun sibuk memposting kalimat-kalimat yang isinya itu-itu
juga. Tanpa berpikir bagaimana tampaknya jika dilihat dalam rentang waktu yang
lebih panjang....
Bayangkan ... ada manusia-manusia yang entah kerjaan di dunia nyatanya sebagai
apa, yang sibuk memposting ayat2 dalam kitab suci -- yang tidak diyakininya --
dengan motivasi agar orang lain sependapat dengan dirinya untuk tidak meyakini
ayat-ayat tersebut. Konyol sekali bukan ? Hal ini pada saat bersamaan
menunjukkan bahwa orang-orang ini sangat tidak percaya diri atas ketidak
yakinan yang dimilikinya sehingga sibuk mengajak orang lain untuk tidak
meyakini apa yang tidak diyakininya.
Tulisan-tulisan para "ateis" di ladang prol ini hampir semuanya didasari oleh
orientasi jangka pendek. Untuk tidak menyebut tidak berorientasi sama sekali.
Tanya pada jusplik ... apa sebenernya "visi" dan "misi" jusplik terus menerus
mengulang-ngulang hal yang sama selama lebih dari 10 tahun di tanah proletar ?
--- kecuali --- jika jusplik dan "saudara-saudara satu alam nya " memang hidup
dan makan dengan cara "begitu". Kalimat lebih tegasnya lagi : Kecuali jika
Jusplik dkk memang DIBAYAR untuk malakukan hal itu. 10 tahun bukan waktu
sebentar lho ... jusplik tentu harus makan, minum dan beli pempers ... (katanya
seiring usianya yang makin menua, doski mulai suka ngompol ...:-0 )
Saya pikir, kita mosti belajar untuk melihat dengan pandangan yang agak jauh
sedikit. Kita -- sebagai orang waras -- tentu tidak mau seperti kehidupan yang
dijalani jusplik, dimana kondisi ke - waras - an die saat ini ternyata lebih
parah dari 10 tahun lalu. Kehidupan sosial nya lebih parah dari 10 tahun yang
lalu. Menua dalam kesendirian dan tentu tak ada seorang anak manusiapun di
dunia ini yang bercita-cita "ingin hidup seperti jusplik". Jusplik jelas bukan
"prototype" manusia yang bisa dijadikan contoh yang baik.
Dengan kemampuan melihat hidup kita sendiri dalam bentangan yang luas (i have a
dream .... :-) ), kita akan memiliki ketangguhan untuk berkata tidak pada
dorongan untuk menyerah dan hanya mengejar kepuasan sesaat...
Lihatlah kehidupan kita 10 tahun ke depan ... dan jangan sekali-kali kehidupan
kita 10 tahun lagi seperti jusplik, yang menua tidak dengan indah ... :-)
Penglihatan jarak pendek ala jusplik, hanya membuat jusplik dan orang-orang
yang "satu kasta" dengan die merasa telah melakukan semuanya. Tapi belum
memiliki banyak.
BERBEDA dengan manusia-manusia yang berpenglihatan jarak jauh yang membuat
seseorang merasa telah memiliki semuanya, tapi belum berbuat banyak.
Sejarah menunjukkan, manusia yang memiliki pandangan yang jauh itulah yang
selama ini menghiasi dunia (baca: hidupnya) dengan karya yang tak lekang oleh
waktu.Namun sebenarnya karya mereka yang terbesar adalah hidup mereka sendiri.
Pertanyaannya, bagaimana cara mencapai keabadian seperti mereka? Bagaimana cara
menjadi jiwa yang akan selalu eksis, sekalipun raga sudah berpulang kepada
tanah?
Bagi sebuah badan bernama planet Bumi, kitalah unit-unit sel itu. Selama ini
berbagai kekusutan dan kerusakan seringkali disebabkan oleh penglihatan jangka
pendek yang hanya memunculkan rasa `ke-unitan' atau `keakuan'. ("Dan rasa
keakuan yang sempit ini membuat kita mengira Bumi tidak cukup luas untuk dihuni
bersama mahluk Tuhan yang lain",.) Padahal solusi kekusutan itu selalu ada di
balik bentangan penglihatan jauh yang membangkitkan rasa `kekitaan'.
Jelas kita perlu mengaktifkan penglihatan jauh dan membangkitkan rasa kekitaan
ini melalui olah mental atau terapi jiwa, Rasa kekitaan inilah yang ada di
balik pembangunan Borobudur dan Tembok China yang berlangsung ratusan tahun
itu. Tidak masalah jika `aku' tak cukup umur untuk menikmati hasil karya
besarku ... karena ada `kita' ...yang merupakan perluasan dari tubuhku.
Anak-anakku, cucu-cucuku, tetangga-tetanggaku, saudara sebangsa, sesama
manusia, bahkan segala mahluk sesama hamba Tuhan , semua adalah `kita' bagiku.
`Aku' mungkin saja besok atau lusa akan mati, tapi akan selalu ada kesempatan
bagi `kita' untuk terus melanjutkan dan melanjutkan. Sejarah telah membuktikan,
bahwa karya yang lahir dari `mimpi jauh' yang melampaui keakuan, pasti akan
mempunyai kekuatan dan pesona yang melampaui batas umur manusia, alias tidak
pernah mati. Akan selalu ada yang terinspirasi dan meneruskan, membuat siapapun
yang `menanam'nya akan hidup dalam Keabadian yang memuaskan.
`JUSPLIK' mungkin saja besok atau lusa akan mati, dan kita sebagai orang yang
waras, tentu saja tidak akan sudi untuk terus melanjutkan dan melanjutkan
ocehan-ocehan jusplik yang tidak ber visi.
Sejarah telah membuktikan, bahwa ocehan-ocehan tanpa visi, meskipun terus
menerus di ulang-ulang, pasti tidak akan mempunyai kekuatan dan pesona. Tidak
akan ada seorangpun manusia waras yang akan terinspirasi untuk meneruskan apa
yang selama lebih dari 10 tahun dilakukan jusplik di padang proletar,
Setai hari jusplik semakin tua ... dan hanya tuhan yang tahu kapan jusplik mati.
Ketika saat itu datang, sebagai apa jusplik dikenang di ladang proletar ?
Saya yakin, sangat yakin, tak seorangpun manusia waras yang mau mati sebagai
SAMPAH.
Kasihan.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/