Pinpin yang sudah gila dan punya semangat orang Islam meanstream di Cikesuik ngoceh bilang saya nggak punya visi, tanpa argumen, saat anak-anaknya melihat betapa dungunya bapaknya yang pernah belajar di pesantren tapi tidak tahu arti kata wathan dan matn lalu menyalahkan item abu yang tahu persis apa arti kedua kata itu.
Dan keleleran tidak bisa menegakkan benang basah tentang "Teks dan Konteks. --- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> wrote: > > Sekian banyak pemuka agama seringkali mendorong jamaahnya untuk melakukan apa > yang menurut pemuka agama itu pantas dilakukan dan tidak melakukan apa yang > menurut pemuka agama itu tidak pantas dilakukan. Bukannya mematangkan jamaah > secara mentalitas. > > Itu sebabnya kita banyak mendengar teriakan-teriakan histeris "Allahu akbar" > mengiringi sekian banyak tindakan dan perbuatan massal -- yang belum tentu > --- di ridhoi oleh sang maha penyayang. Menyakiti manusia lain dengan cara > melempar batu misalnya, melempari tempat ibadah orang lain dengan pentungan > misalnya, atau membakar dan meluluhlantakkan tempat-tempat yang dianggap > maksiat tanpa memberi solusi selain menghancurkan. Titik. > > Sekian banyak pemuka agama (atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai > "imam" sebuah jamaah tertentu, lebih suka menjejalkan pemikiran-pemikiran > mereka pada jamaahnya, bukan bersusah payah membantu jamaahnya untuk > menemukan dirinya sendiri, menemukan gagasan dan ide-idenya sendiri ...(Ini > yang dulu di prol dikritisi abis sama sasis tentang budaya "monolog" ) > > Sebagai individu yang merasa "merdeka" di tanah proletar, kita seringkali > memilih topik-topik yang nampak "Hebat" (Fisika Quantum lah ... Jagar Raya > lah ... teory big bang lah ...neuro apa lah ... politik di negara anu lah ... > bla...bla..bla... sampai ke orang2 yang sibuk mengkoleksi ayat-ayat agama > yang diyakini orang lain yang menurutnya adalah "amunisi" yang hebat untuk > menjatuhkan keyakinan orang lain ..;-) ) > > Seolah-olah hanya dengan bermodal beberapa ayat yang dipandang "tidak bener" > maka dengan mudah membuat keyakinan orang lain berubah dalam tempo singkat. > Instant. Contoh : "Lihat Surat anu ayat sekian.... isinya nddak bener kan ? > Orang yang percaya ini goblok ! Kalau kamu nddak mau dibilang dungu, elo > lupakan agama elo. Tapi kalau elo masih percaya ayat ini, masih percaya tuhan > elo, elo berarti dungu !" :-) > > Banyak orang yang sudah merasa "cerdas" dan "pinter" kemudian bangga karena > mengaku sudah nddak percaya tuhan, dan menganggap kalau ada yang masih > percaya tuhan berarti itu orang goblok. sehingga harus terus menerus > digoblok-goblokin dan selama bertahun-tahun sibuk memposting kalimat-kalimat > yang isinya itu-itu juga. Tanpa berpikir bagaimana tampaknya jika dilihat > dalam rentang waktu yang lebih panjang.... > > Bayangkan ... ada manusia-manusia yang entah kerjaan di dunia nyatanya > sebagai apa, yang sibuk memposting ayat2 dalam kitab suci -- yang tidak > diyakininya -- dengan motivasi agar orang lain sependapat dengan dirinya > untuk tidak meyakini ayat-ayat tersebut. Konyol sekali bukan ? Hal ini pada > saat bersamaan menunjukkan bahwa orang-orang ini sangat tidak percaya diri > atas ketidak yakinan yang dimilikinya sehingga sibuk mengajak orang lain > untuk tidak meyakini apa yang tidak diyakininya. > > Tulisan-tulisan para "ateis" di ladang prol ini hampir semuanya didasari oleh > orientasi jangka pendek. Untuk tidak menyebut tidak berorientasi sama sekali. > > Tanya pada jusplik ... apa sebenernya "visi" dan "misi" jusplik terus menerus > mengulang-ngulang hal yang sama selama lebih dari 10 tahun di tanah proletar > ? --- kecuali --- jika jusplik dan "saudara-saudara satu alam nya " memang > hidup dan makan dengan cara "begitu". Kalimat lebih tegasnya lagi : Kecuali > jika Jusplik dkk memang DIBAYAR untuk malakukan hal itu. 10 tahun bukan waktu > sebentar lho ... jusplik tentu harus makan, minum dan beli pempers ... > (katanya seiring usianya yang makin menua, doski mulai suka ngompol ...:-0 ) > > Saya pikir, kita mosti belajar untuk melihat dengan pandangan yang agak jauh > sedikit. Kita -- sebagai orang waras -- tentu tidak mau seperti kehidupan > yang dijalani jusplik, dimana kondisi ke - waras - an die saat ini ternyata > lebih parah dari 10 tahun lalu. Kehidupan sosial nya lebih parah dari 10 > tahun yang lalu. Menua dalam kesendirian dan tentu tak ada seorang anak > manusiapun di dunia ini yang bercita-cita "ingin hidup seperti jusplik". > Jusplik jelas bukan "prototype" manusia yang bisa dijadikan contoh yang baik. > > Dengan kemampuan melihat hidup kita sendiri dalam bentangan yang luas (i have > a dream .... :-) ), kita akan memiliki ketangguhan untuk berkata tidak pada > dorongan untuk menyerah dan hanya mengejar kepuasan sesaat... > > Lihatlah kehidupan kita 10 tahun ke depan ... dan jangan sekali-kali > kehidupan kita 10 tahun lagi seperti jusplik, yang menua tidak dengan indah > ... :-) > > Penglihatan jarak pendek ala jusplik, hanya membuat jusplik dan orang-orang > yang "satu kasta" dengan die merasa telah melakukan semuanya. Tapi belum > memiliki banyak. > > BERBEDA dengan manusia-manusia yang berpenglihatan jarak jauh yang membuat > seseorang merasa telah memiliki semuanya, tapi belum berbuat banyak. > > Sejarah menunjukkan, manusia yang memiliki pandangan yang jauh itulah yang > selama ini menghiasi dunia (baca: hidupnya) dengan karya yang tak lekang oleh > waktu.Namun sebenarnya karya mereka yang terbesar adalah hidup mereka sendiri. > > Pertanyaannya, bagaimana cara mencapai keabadian seperti mereka? Bagaimana > cara menjadi jiwa yang akan selalu eksis, sekalipun raga sudah berpulang > kepada tanah? > > Bagi sebuah badan bernama planet Bumi, kitalah unit-unit sel itu. Selama ini > berbagai kekusutan dan kerusakan seringkali disebabkan oleh penglihatan > jangka pendek yang hanya memunculkan rasa `ke-unitan' atau `keakuan'. ("Dan > rasa keakuan yang sempit ini membuat kita mengira Bumi tidak cukup luas untuk > dihuni bersama mahluk Tuhan yang lain",.) Padahal solusi kekusutan itu selalu > ada di balik bentangan penglihatan jauh yang membangkitkan rasa `kekitaan'. > > Jelas kita perlu mengaktifkan penglihatan jauh dan membangkitkan rasa > kekitaan ini melalui olah mental atau terapi jiwa, Rasa kekitaan inilah > yang ada di balik pembangunan Borobudur dan Tembok China yang berlangsung > ratusan tahun itu. Tidak masalah jika `aku' tak cukup umur untuk menikmati > hasil karya besarku ... karena ada `kita' ...yang merupakan perluasan dari > tubuhku. Anak-anakku, cucu-cucuku, tetangga-tetanggaku, saudara sebangsa, > sesama manusia, bahkan segala mahluk sesama hamba Tuhan , semua adalah `kita' > bagiku. > > `Aku' mungkin saja besok atau lusa akan mati, tapi akan selalu ada kesempatan > bagi `kita' untuk terus melanjutkan dan melanjutkan. Sejarah telah > membuktikan, bahwa karya yang lahir dari `mimpi jauh' yang melampaui keakuan, > pasti akan mempunyai kekuatan dan pesona yang melampaui batas umur manusia, > alias tidak pernah mati. Akan selalu ada yang terinspirasi dan meneruskan, > membuat siapapun yang `menanam'nya akan hidup dalam Keabadian yang memuaskan. > > `JUSPLIK' mungkin saja besok atau lusa akan mati, dan kita sebagai orang yang > waras, tentu saja tidak akan sudi untuk terus melanjutkan dan melanjutkan > ocehan-ocehan jusplik yang tidak ber visi. > > Sejarah telah membuktikan, bahwa ocehan-ocehan tanpa visi, meskipun terus > menerus di ulang-ulang, pasti tidak akan mempunyai kekuatan dan pesona. > Tidak akan ada seorangpun manusia waras yang akan terinspirasi untuk > meneruskan apa yang selama lebih dari 10 tahun dilakukan jusplik di padang > proletar, > > Setai hari jusplik semakin tua ... dan hanya tuhan yang tahu kapan jusplik > mati. > > Ketika saat itu datang, sebagai apa jusplik dikenang di ladang proletar ? > > Saya yakin, sangat yakin, tak seorangpun manusia waras yang mau mati sebagai > SAMPAH. > > Kasihan. > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
