http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/05/opini/1946575.htm

 
Logika Kekerasan Terorisme 

Oleh: HARYATMOKO



Dunia peradaban sekali lagi tertusuk gambar mengerikan terorisme. Teroris telah 
merampas jiwa-jiwa orang tak bersalah dan melukai banyak korban. Kelompok 
teroris masuk menjadi salah satu aktor politik dunia selain negara, pelaku 
ekonomi, dan masyarakat sipil (Ulrich Beck, 2004:40).

Jaringan teroris merupakan jaringan kekerasan, sasarannya merebut monopoli 
kekerasan negara (id). Terorisme menjadikan kekerasan sebagai sarana efisien 
untuk mencapai tujuan politik.

Efisiensi dan prinsip realisme

Kekosongan nilai yang tercermin dalam prinsip "tujuan menghalalkan cara" 
memungkinkan kegilaan nihilisme. Korban justru dianggap sebagai ukuran 
keberhasilan atau bagian sasaran strategi. Nihilisme terorisme terletak dalam 
legitimasi kekerasan dengan mengosongkan substansi tujuan. Lalu tujuan 
diabaikan. Sarana menjadi mutlak. Efisiensi menjadi prinsip realisme. 
Akibatnya, pilihan nilai dikorbankan. Padahal, nilai terkandung dalam tujuan 
tindakan. Oleh terorisme yang melandaskan agama, substansi tujuan diisi dengan 
pembenaran ideologis dan simbolis kekerasan melalui teks Kitab Suci.

Terorisme mencerminkan tindakan dengan argumen keharusan. Argumen keharusan 
bukan argumen etika. Etika merupakan hasil pilihan. Keharusan mengabaikan 
pilihan. Penalaran yang mengantar pilihan kekerasan memang masuk akal, tetapi 
bukan pertimbangan moral.

Korban dan penghinaan

Kekerasan dimaksudkan menutupi kecilnya jumlah anggota. Bentuk keputusasaan 
diubah menjadi tindakan nekat. Terorisme merupakan senjata bagi yang lemah 
karena jumlah anggota maupun kekuatan militer konvensional (M Crenshaw, 
1998:11). Pernyataan ini bukan mau membersihkan yang secara militer kuat dari 
keterlibatan tindak terorisme.

Melukai, menyandera, atau membunuh bagian yang lemah dari masyarakat yang 
dianggap musuhnya dipilih sebagai cara mengimbangi kekuatan. Ketakutan dilihat 
lemah, mendorong teroris menunjukkan kekuatannya (M Crenshaw 1998:16). Obyek 
serangan pertama-tama adalah simbol-simbol kekuasaan, seperti militer, polisi, 
dan politikus. Bila sasaran dijaga kuat, serangan diarahkan pada yang lemah 
perlindungannya.

Cara ini didorong ketidaksabaran bertindak karena rasionalitas instrumental. 
Simbol kemampuan melukai adalah wujud penyanderaan paling murni (ibid, 20). 
Dengan bertindak cepat, teroris merasa bisa mengompensasi kelemahannya. 
Kekerasan terhadap warga yang lemah perlindungannya adalah cara paling efektif 
meningkatkan kekuatan tawar.

Penghinaan tak tertanggungkan sering menjadi pemicu kekerasan, membuat tidak 
peduli pada korban yang tak bersalah. Teroris menuduh korban bukannya tidak 
bersalah, tetapi terlibat langsung atau tidak politik pemerintahnya melalui 
konspirasi atau connivence (persetujuan tak terungkap). Tuduhan ini berfungsi 
menghilangkan rasa salah. Dengan cara ini, fanatisme pendukung tidak 
dikendorkan oleh pertimbangan kemanusiaan. Fanatisme mencabut orang keluar dari 
realitas.

Tercabut dari realitas

Keterasingan terhadap realitas menghancurkan spontanitas. Padahal, spontanitas 
adalah sumber kebebasan gagasan dan pikiran kritis. Fanatisme mengabaikan 
tanggung jawab kemanusiaan.

Melalui konsepsi romantis bahasa, ideologi berhasil membutakan. Romantisme 
bahasa menekankan rumusan indah dan retorika meski harus membayar dengan 
terputus dari realitas. Tercabut dari realitas membuat tidak peka akan tanggung 
jawab. Keterasingan dan tiadanya tanggung jawab kemanusiaan adalah akibat 
setiap proses radikalisasi agama. Semua agama rentan terhadap bahaya ini.

Kunci sukses radikalisme agama pada kemampuan memberi kepastian. Ketidakpastian 
ekonomi global yang melahirkan pengangguran, kesenjangan, dan ketidakadilan, 
radikalisme agama menjanjikan ekonomi adil dan persaudaraan. Dalam 
ketidakpastian politik di mana korupsi merajalela, dan dekadensi moral meluas, 
radikalisme agama menjanjikan revolusi moral. Radikalisme agama memberi jaminan 
pengikutnya bukan atas dasar analisis, tetapi keyakinan dari visi Manikean.

Visi Manikean meyakini dunia dibagi dua kelompok, baik dan jahat. Janji akan 
masa depan tanpa kesusahan dikaitkan pemisahan baik/jahat. Pemisahan ini demi 
mistifikasi penganut agama pilihan dan satanisasi musuh. Musuh dianggap negasi 
terhadap nilai agama pilihan. Janji bahwa musuh agama akan binasa menjadi alat 
pembenaran melakukan apa saja, termasuk kekerasan dan pembunuhan.

Ancaman teroris memberi pembenaran kekuatan militer dan negara untuk mendapat 
izin berburu tanpa batas, membolehkan menguber siapa saja yang dicurigai 
teroris (Ulrich Beck, 2004:44).

Kecurigaan terhadap teroris memungkinkan definisi musuh menjadi lebih luwes. 
Demi perlindungan masyarakat, penguasa berhak mendefinisikan identitas musuh 
sesuai kepentingannya. Akibatnya, menurut Ulrich Beck, penetapan keadaan 
darurat menjadi biasa.

Memang, teroris sering memancing penguasa melakukan represi terhadap 
masyarakat. Dengan cara ini terorisme mau mengarahkan ketidakpuasaan masyarakat 
terhadap penguasa agar orang bersimpati dan membenarkan perjuangan mereka (M 
Crenshaw, 1998:19). Namun, korban tetap menumbuhkan simpati. Kekejaman akan 
mengundang antipati.

HARYATMOKO Dosen Pascasarjana Filsafat UI dan Universitas Sanata Dharma 
,Yogyakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h87tua3/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123194923/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke