http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/05/opini/1949968.htm



Mesin Pembangunan 



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentunya tidak berbasa-basi ketika menyatakan 
pemerintah mengharapkan peran pengusaha dalam pembangunan.

Kita tidak lagi hidup pada zaman etatisme. Pemerintah sadar betul akan 
keterbatasan kemampuannya sebagai motor pembangunan dan pertumbuhan. Sekarang 
ini dunia usahalah yang menjadi motor pembangunan. Dari investasi yang 
dilakukan pengusahalah tersedia lapangan kerja dan terjadinya pertumbuhan.

Semakin benarlah pandangan yang sering kita ungkapkan bahwa ke depan kemajuan 
Indonesia ditentukan oleh tiga pilar yang harus saling menopang. Ketiga pilar 
itu adalah pilar pelaku politik, pilar masyarakat madani, dan pilar pelaku 
ekonomi.

Pertanyaannya, mampukah ketiga pilar itu berjalan bersama, bekerja sama menuju 
cita-cita besar bersama?

Kalau kita belum juga mampu keluar dari situasi serba krisis hingga sekarang 
ini, itu karena ketiga pilar tersebut masih berjalan sendiri-sendiri. Mereka 
masih asyik dengan dirinya sendiri-sendiri. Kalaupun sadar akan tujuan yang 
hendak dicapai, jalan yang ditempuh berbeda-beda, bahkan kadang bersilangan.

Satu contoh yang sederhana bisa dilihat di sektor pertanian. Demi memenuhi 
penerimaan negara, pemerintah gencar memungut pajak. Tidak terkecuali 
perusahaan yang berorientasi ekspor atau bukan, beban pajak yang harus mereka 
bayar tetap sama.

Anehnya untuk produk primer umumnya kita tidak mengenakan pajak. Maka apa yang 
terjadi? Seperti terjadi sejak zaman Belanda dulu, kita dikenal di seluruh 
dunia sebagai pengekspor utama untuk produk-produk primer, mulai dari kopi, 
karet, lada, hingga kakao.

Akibatnya, kita tak pernah menikmati nilai tambahnya. Padahal, kalau kita paksa 
produk itu untuk diolah di sini, maka bukan hanya industrinya yang berkembang, 
lapangan kerja pun terbuka lebar, dan akhirnya kita pasti bisa menikmati harga 
jual yang lebih tinggi. Tidak seperti sekarang kita akhirnya hanya jadi pasar 
dari produk jadi dari komoditas primer yang kita hasilkan sendiri.

Pikiran untuk memilih industri dan membesarkannya menjadi sangat penting. Ini 
bukan hanya membutuhkan konsep yang jelas, tetapi juga pengorbanan.

Kita sering kali tidak sabar, ingin buru-buru bisa memetik dan ingin selamat 
sendiri-sendiri. Akibatnya tanpa kita sadari kita membunuh ayam yang sebenarnya 
kita harapkan menghasilkan telur.

Inilah yang ingin juga kita ingatkan dalam kaitan penanganan krisis energi 
sekarang ini. Jangan sampai upaya untuk keluar dari krisis justru mematikan 
mesin pembangunan itu sendiri. Sebab, kalau itu yang terjadi, kita bisa selamat 
untuk jangka pendek, tetapi kita akan menderita untuk jangka panjang.

Para pengusaha sangat sadar bahwa kenaikan harga BBM memang tidak mungkin bisa 
dihindarkan. Yang mereka butuhkan adalah kompensasi untuk mengurangi beban pada 
biaya produksi. Pemerintah tentunya bisa melakukan dengan mengurangi pungutan 
yang membebani atau membenahi birokrasi yang terlalu panjang.

***

Ancaman Kemiskinan Global 
Kemiskinan digambarkan sebagai salah satu ancaman terbesar abad ke-21. Dalam 
kenyataannya, kemiskinan memang kejam, bahkan lebih kejam dari perang.

Bayangkan, kini ratusan juta orang terancam mati akibat komplikasi kemiskinan. 
Ironinya, kemiskinan dengan segala ekspresinya, seperti kelaparan dan penyakit, 
merebak di tengah kemajuan modernisasi.

Bumi tempat manusia hidup terus dirusak oleh kemiskinan di samping ketimpangan 
sosial, konflik bersenjata, wabah penyakit, dan kehancuran ekologis.

Kenyataan itu antara lain diingatkan lagi oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono hari Rabu, 3 Agustus, di Jakarta ketika membuka pertemuan tentang 
bahaya kemiskinan di kawasan Asia Pasifik.

Pertemuan tingkat menteri yang diikuti sekitar 41 negara itu dianggap penting 
karena sedikitnya 14 negara di kawasan ini, seperti Afganistan, Kamboja, 
Banglades, dan Timor Timur, sedang terperangkap dalam kemiskinan.

Hasil pertemuan diharapkan akan memerinci program untuk mencapai Tujuan 
Pembangunan Abad Milenium (Millennium Development Goals/MDG). MDG merupakan 
program PBB untuk mengurangi kemiskinan global hingga 50 persen sampai tahun 
2015.

Ancaman kemiskinan tidak hanya membahayakan ribuan orang, tetapi ratusan juta 
orang di seluruh dunia saat ini. Sekitar 750 juta orang sedang terancam mati 
kelaparan.

Kondisi merisaukan ini akan bertambah buruk jika tidak segera diatasi. 
Negara-negara yang sedang terperangkap dalam kemiskinan seakan kehilangan 
tenaga untuk melepaskan diri. Maka sangat diperlukan kerja sama global untuk 
mengatasi krisis kemanusiaan itu.

Hasil survei pimpinan ekonomi terkenal Jeffrey D Sachs menyebutkan, kemiskinan 
global dapat dikurangi secara drastis jika negara-negara industri menggandakan 
bantuannya kepada negara-negara miskin.

Namun telah timbul skeptisisme karena negara-negara maju terkesan kurang 
tergugah menambah bantuan. Lebih memprihatinkan lagi, bantuan yang sudah 
terbatas itu sering dikorupsi oleh para pejabat negara penerima.

Kekayaan hasil korupsi itu menciptakan ketimpangan sosial ekonomi di 
negara-negara berkembang. Kesenjangan tidak lagi hanya antara negara kaya dan 
negara miskin, tetapi juga antara golongan kaya dan miskin di setiap negara 
berkembang.

Upaya pemberantasan kemiskinan terasa semakin sulit jika praktik korupsi tetap 
dibiarkan merajalela, dan masih belum terbentuk pemerintahan baik dan bersih, 
good and clean governance.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h3cehim/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123195060/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke